Ukraina Bakar Kilang Rusia, Rupiah Ikut Hangus! Dompet Rakyat Terancam Harga Minyak
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam saat menutup perdagangan awal pekan ini, Senin, 4 Mei 2026, dengan posisi paling rendah sepanjang masa. Nilai tukar rupiah pada pasar spot hari ini terjun bebas hingga menyentuh level Rp17.394 per dolar.
Pelemahan sebesar 57 poin ini mencerminkan betapa rapuhnya pertahanan ekonomi nasional menghadapi guncangan geopolitik global terbaru. Meskipun neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 71 bulan beruntun, kenyataan lapangan justru terlihat sangat berbeda. Surplus sebesar US$3,32 miliar pada Maret 2026 ternyata tidak cukup kuat menahan gempuran dolar Amerika.
Ekspor Indonesia pada periode tersebut bahkan tercatat melorot sebesar 3,1 persen menjadi US$22,53 miliar saja. Pelemahan rupiah memang membuat harga barang lokal menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri bermodal dolar. Namun, sisi impor justru membengkak 1,51 persen hingga mencapai angka US$19,20 miliar akibat harga energi.
"Pelemahan rupiah dipicu serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia," kata Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang. Penjelasan tersebut merujuk pada eskalasi konflik Eropa Timur yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Ukraina dilaporkan terus mengirimkan drone jarak jauh untuk menghancurkan infrastruktur energi vital milik pemerintah Rusia belakangan.
Kebakaran dahsyat pada kilang minyak Rusia menyebabkan kekhawatiran besar mengenai pasokan energi global bagi pasar internasional. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memperingatkan bahwa serangan Kiev terhadap infrastruktur minyak dapat memicu kenaikan harga signifikan. Kondisi ini memaksa bank sentral dunia mempertimbangkan kenaikan suku bunga guna meredam laju inflasi tinggi.
Sentimen negatif juga datang dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana pengawalan kapal asing. Isyarat kemanusiaan untuk membebaskan Selat Hormuz dari pengaruh Iran justru memicu ketegangan masif pada wilayah tersebut. Iran dikabarkan sudah sangat siap melakukan perang panjang demi mempertahankan kedaulatan jalur perdagangan laut utama mereka.
Ketegangan geopolitik ini membuat indeks dolar menguat hingga level 98,25 terhadap mata uang utama dunia. Hampir seluruh mata uang Asia ikut terkapar tak berdaya menghadapi keperkasaan mata uang Negeri Paman Sam. Baht Thailand tercatat melemah 0,44 persen, sementara peso Filipina juga ikut terkoreksi sebesar 0,19 persen hari ini.
Kabar buruk juga datang dari sektor manufaktur dalam negeri yang mulai memasuki fase kontraksi yang sangat mengkhawatirkan. Data Purchasing Managers' Index menunjukkan angka 49,1 pada April 2026 atau terendah sejak Juli tahun lalu. Penurunan kondisi sektor manufaktur ini dipicu oleh mahalnya harga bahan baku impor imbas pelemahan ekstrem rupiah.
"Kontraksi ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga minyak membuat impor barang-barang mahal," ujar Ibrahim Assuaibi kembali. Lonjakan biaya produksi pada akhirnya akan menghantam daya saing industri nasional secara keseluruhan pada kuartal kedua. Volume produksi yang menurun selama dua bulan berturut-turut menjadi alarm kuning bagi pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Meski kondisi terlihat suram, Bank Indonesia terus berupaya melakukan intervensi aktif guna menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui pasar spot hingga pasar sekunder Surat Berharga Negara demi menahan pelemahan berlebih. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas liar yang bisa merusak struktur fundamental ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan pekan ini masih dalam fase yang relatif terkendali. Menurutnya, rupiah tidak berada dalam pola lonjakan tajam seperti yang pernah terjadi pada bulan Maret. Batas psikologis pasar berada pada level Rp17.346 per dolar sebagai acuan utama bagi para pelaku usaha.
Yusuf memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.250 hingga Rp17.500 dengan kecenderungan melemah secara gradual saja. Skenario terburuk bisa terjadi jika konflik Timur Tengah memburuk hingga mendorong harga minyak ke level gila. Jika hal itu terjadi, pelemahan rupiah dapat berlanjut hingga mendekati angka psikologis baru Rp17.800 per dolar.
Saat ini, investor global cenderung lebih berhati-hati menanamkan modal pada aset rupiah karena risiko tata kelola. Isu mengenai lembaga investasi Danantara serta ekspektasi belanja fiskal tinggi menambah premi risiko investasi dalam negeri. Penurunan cadangan devisa belakangan ini juga mencerminkan minat investor asing yang belum pulih sepenuhnya terhadap SBN.
Harapan kini tertumpu pada meredanya tensi geopolitik agar harga minyak dunia kembali melandai ke posisi normal. Jika tekanan inflasi global berkurang, pasar mungkin akan mulai mengantisipasi kebijakan penurunan suku bunga oleh The Fed. Skenario positif tersebut berpeluang membawa kembali nilai tukar rupiah ke bawah level Rp17.250 pada akhir Mei.
Namun, untuk sementara waktu, pelaku pasar harus bersiap menghadapi fluktuasi liar yang mungkin terjadi setiap saat nanti. Posisi rupiah yang nyaris menyentuh Rp17.400 menjadi tantangan besar bagi importir maupun industri manufaktur berbasis bahan baku luar. Tetap waspada terhadap rilis data ekonomi terbaru serta perkembangan konflik bersenjata di wilayah Eropa Timur sana. R-02

