Kiamat Rupiah! Dolar AS Tembus Rp17.370 Pagi Ini Gara-Gara Perang Minyak Timur Tengah
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Rupiah kembali tertekan mendekati level kritis Rp17.400 per dolar Amerika Serikat pada Kamis pagi, 30 April 2026. Data pasar pukul 09.30 WIB menunjukkan rupiah melemah 0,55 persen ke posisi Rp17.370 per dolar AS. Angka itu memperlihatkan tekanan makin dalam sejak pembukaan perdagangan pagi dengan pelemahan awal 0,38 persen.
Pergerakan tersebut menempatkan rupiah menjauh dari penutupan sebelumnya di kisaran Rp17.275 per dolar AS. Level psikologis Rp17.400 semakin dekat, menandakan tekanan eksternal masih menggigit tanpa ampun di pasar. Situasi ini membuat pelaku pasar domestik bergerak hati-hati sambil memantau arah kebijakan global yang belum jelas.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengungkap bahwa tekanan rupiah berasal dari kombinasi faktor global yang kuat. Ia mengatakan ketidakpastian konflik Timur Tengah menjadi pemicu utama lonjakan harga energi dunia saat ini. “Gangguan pasokan minyak global memperkuat tekanan inflasi dan meningkatkan permintaan dolar sebagai aset aman,” ujar Andry.
Ketegangan kawasan Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menyentuh level tinggi baru pekan ini. Harga minyak dunia yang melonjak meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor energi negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi ini otomatis mempersempit ruang gerak rupiah di tengah dominasi mata uang Amerika Serikat.
Selain faktor geopolitik, keputusan bank sentral Amerika Serikat ikut memberi tekanan tambahan terhadap rupiah hari ini. The Federal Reserve kembali menahan suku bunga acuan sehingga ekspektasi penurunan suku bunga semakin terbatas. Langkah tersebut membuat dolar tetap menarik di mata investor global yang mencari stabilitas jangka pendek.
Strategist OCBC Sim Moh Siong menilai tekanan rupiah masih akan berlanjut selama sentimen global belum mereda. Ia menyoroti sensitivitas tinggi Indonesia terhadap harga energi sebagai faktor utama pelemahan mata uang domestik. “Selama harga minyak tinggi, ruang pemulihan rupiah sangat terbatas dalam jangka pendek,” kata Sim Moh Siong.
Di sisi lain, indeks dolar Amerika Serikat tetap bertahan tinggi di kisaran 98,7 dalam beberapa pekan terakhir. Penguatan indeks dolar mempertegas dominasi mata uang tersebut di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Investor global cenderung memindahkan dana ke dolar untuk menghindari risiko dari pasar negara berkembang.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.215 hingga Rp17.370 sepanjang perdagangan pagi ini. Pergerakan tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia. Kondisi ini memperlihatkan tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, melihat rupiah masih bergerak dalam rentang lemah jangka pendek. Ia memprediksi rentang perdagangan berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.500 selama tekanan global bertahan. “Pemulihan rupiah bergantung pada penurunan harga minyak dan perbaikan arus modal masuk,” ujar Josua.
Sementara itu, Lionel Priyadi dari Mega Capital Sekuritas menilai arah kebijakan moneter global masih belum jelas. Ia menyebut ketidakpastian kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor utama pelemahan mata uang negara berkembang. “Depresiasi rupiah berpeluang berlanjut menuju Rp17.400 jika tekanan eksternal belum mereda,” kata Lionel.
Di pasar regional Asia, pergerakan mata uang menunjukkan pola beragam mengikuti sentimen global yang berubah cepat. Beberapa mata uang seperti yen Jepang dan won Korea Selatan sempat menguat di tengah pelemahan dolar global. Namun, rupiah tetap tertinggal, mencerminkan tekanan domestik yang lebih besar dibandingkan dengan negara lain.
Faktor domestik juga ikut memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan kebutuhan impor energi serta kekhawatiran fiskal memperburuk sentimen terhadap mata uang nasional. Selain itu, arus keluar dana asing masih terjadi di pasar keuangan domestik secara konsisten.
Di sektor perbankan, nilai tukar rupiah di beberapa bank besar bahkan telah melampaui Rp17.300 per dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan nyata yang dirasakan pelaku pasar dalam transaksi harian. Harga jual dolar di beberapa bank bahkan mendekati Rp17.400 untuk transaksi fisik hari ini.
Pengamat pasar melihat situasi ini sebagai fase sensitif yang perlu diwaspadai dalam jangka pendek. Lonjakan harga minyak, konflik geopolitik, serta kebijakan moneter global menjadi kombinasi tekanan yang kompleks. Ketiganya menciptakan tekanan berlapis yang sulit dikendalikan dalam waktu singkat.
Meski begitu, peluang pemulihan rupiah masih terbuka jika kondisi global mulai membaik dalam waktu dekat. Penurunan harga minyak dan meredanya konflik Timur Tengah bisa menjadi katalis positif bagi mata uang domestik. Selain itu, masuknya kembali dana asing akan membantu memperkuat posisi rupiah secara bertahap.
Namun, untuk saat ini, pasar masih bergerak dalam mode waspada menunggu arah kebijakan global berikutnya. Setiap pernyataan dari bank sentral Amerika Serikat berpotensi mengubah arah pergerakan rupiah secara cepat. Pelaku pasar pun memilih strategi defensif sambil memantau perkembangan situasi global yang dinamis.
Kondisi ini menjadikan rupiah berada di titik krusial yang menentukan arah pergerakan ke depan. Jika tekanan berlanjut, level Rp17.400 bisa menjadi pintu menuju rekor pelemahan baru dalam sejarah. Sebaliknya, sentimen positif global dapat membuka peluang pemulihan meski masih terbatas dalam jangka pendek. R-02

