Rupiah Mendadak Ngegas ke Rp17.229, Tapi Bayang-Bayang Perang Bikin Deg-degan!
Ilustrasi kurs Dolar AS terhadap Rupiah Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.229 per dolar AS pada Selasa, 28 April 2026. Penguatan 32 poin ini terjadi di tengah tekanan global akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Pergerakan ini langsung mencuri perhatian pelaku pasar yang masih waspada terhadap gejolak dunia.
Rupiah naik 0,19 persen dibanding penutupan sebelumnya di posisi Rp17.243 per dolar AS. Kenaikan ini muncul saat pasar global dihantui ketidakpastian geopolitik dan energi dunia terganggu. Situasi membuat investor bergerak hati-hati sambil membaca arah kebijakan ekonomi global berikutnya.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pasar masih tertekan oleh konflik berkepanjangan antara dua negara besar. “Upaya damai terlihat mandek dan jalur energi global belum sepenuhnya kembali normal,” ujarnya. Kondisi ini membuat sentimen pasar bergerak liar meski rupiah sempat menunjukkan penguatan terbatas.
Selat Hormuz menjadi sorotan karena jalur ini menyuplai sekitar 20 persen energi dunia. Penutupan sebagian jalur tersebut mengganggu distribusi minyak dan gas ke pasar global. Efeknya langsung terasa pada stabilitas harga energi serta pergerakan mata uang dunia.
Iran sempat mengajukan proposal pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut kepada Amerika Serikat. Namun, respons skeptis muncul karena isu nuklir belum masuk dalam pembahasan utama proposal tersebut. Ketegangan diplomatik ini membuat proses negosiasi berjalan lambat dan belum menunjukkan titik terang.
Ibrahim menjelaskan pasar energi global masih berada dalam tekanan akibat kondisi tersebut. “Distribusi energi belum normal dan jalur perdagangan masih terhambat di kawasan Teluk,” katanya. Situasi ini ikut mempengaruhi arus modal dan nilai tukar di berbagai negara berkembang.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti keputusan penting dari bank sentral Amerika Serikat. Pertemuan The Federal Reserve dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, dengan fokus pada suku bunga. Keputusan tersebut berpotensi besar mempengaruhi arah pergerakan mata uang global termasuk rupiah.
“The Fed kemungkinan menahan suku bunga sambil menunggu data inflasi terbaru,” kata Ibrahim. Kebijakan ini dinilai penting karena pasar membutuhkan kepastian arah ekonomi Amerika Serikat. Ketidakjelasan kebijakan bisa memicu volatilitas tinggi pada nilai tukar mata uang global.
Di sisi lain, kurs referensi JISDOR menunjukkan rupiah masih berada di level Rp17.245 per dolar AS. Angka ini lebih kuat dibanding posisi sebelumnya di Rp17.277 per dolar AS pada perdagangan terakhir. Pergerakan tersebut menunjukkan fluktuasi masih terjadi meski tren penguatan sempat muncul.
Secara historis, rupiah mengalami tekanan jangka panjang sejak beberapa tahun terakhir. Nilai tukar yang dulu berada di kisaran Rp12.000 kini bergerak di atas Rp17.000 per dolar AS. Perubahan ini memicu diskusi panjang mengenai nilai wajar mata uang domestik saat ini.
Ibrahim menilai narasi rupiah undervalued sering digunakan untuk menjaga stabilitas psikologis pasar. “Namun narasi tersebut perlu diiringi perbaikan fundamental ekonomi yang nyata,” jelasnya. Tanpa langkah konkret, kepercayaan terhadap mata uang akan sulit meningkat secara berkelanjutan.
Beberapa indikator ekonomi domestik sebenarnya masih terlihat cukup stabil dan terkendali. Inflasi relatif terjaga dan pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan tren positif beberapa tahun terakhir. Namun tekanan eksternal tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan arah nilai tukar rupiah.
Ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek menjadi salah satu titik lemah utama. Arus masuk investasi sering diimbangi aliran keluar berupa dividen dan pembayaran bunga utang. Kondisi ini membuat rupiah lebih rentan terhadap gejolak global yang datang tiba-tiba.
Pasar juga mencermati dinamika struktural seperti deindustrialisasi dini dalam perekonomian nasional. Fenomena ini berpotensi melemahkan daya saing industri dalam jangka panjang jika tidak ditangani secara serius. Keseimbangan ekonomi menjadi kunci agar nilai tukar lebih stabil menghadapi tekanan global.
Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar tetap terkendali. Intervensi dilakukan di pasar offshore dan domestik melalui berbagai instrumen keuangan strategis. Cadangan devisa yang masih kuat menjadi salah satu penopang utama stabilitas rupiah saat ini.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyebut tekanan berasal dari kondisi global. “Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional dalam situasi penuh ketidakpastian,” ujarnya. Langkah stabilisasi akan terus dilakukan agar pasar tetap terkendali dan tidak panik berlebihan.
Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis. Ibrahim memperkirakan rupiah berada di rentang Rp17.240 hingga Rp17.280 per dolar AS. Pergerakan ini sangat dipengaruhi perkembangan konflik global dan keputusan The Fed mendatang.
Pasar kini berada dalam posisi menunggu sambil membaca arah kebijakan ekonomi dunia selanjutnya. Setiap sinyal kecil dari geopolitik atau bank sentral bisa langsung menggerakkan nilai tukar signifikan. Rupiah pun bergerak di antara harapan penguatan dan tekanan global yang belum mereda. R-02

