BBM Campur Etanol Jadi Strategi Kurangi Impor dan Emisi, Berlaku 2028
Ilustrasi BBM campuran etanol hingga 20%. Foto: SM News/Created by Al
JAKARTA, SabangMerauke News - Pemerintah Indonesia mulai mematangkan langkah besar dalam transformasi energi nasional. Salah satu kebijakan strategis yang kini disiapkan adalah penerapan bahan bakar minyak (BBM) campuran etanol hingga 20% atau dikenal sebagai E20, yang ditargetkan mulai berjalan pada 2028.
Langkah ini bukan sekadar eksperimen, melainkan bagian dari upaya serius untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa roadmap kebijakan tersebut tengah disusun dan akan segera rampung. Pemerintah memastikan bahwa paling lambat pada 2028, kebijakan pencampuran etanol dalam bensin sudah menjadi mandatori nasional.
Transisi dari E10 ke E20
Sebelum mencapai tahap E20, pemerintah lebih dulu menargetkan implementasi campuran etanol 10% (E10). Program ini menjadi pijakan awal sebelum melangkah ke level yang lebih tinggi.
Bahlil menjelaskan bahwa kebijakan ini tidak muncul secara tiba-tiba. Pemerintah telah menyiapkan tahapan bertahap, mulai dari uji coba, penyusunan regulasi, hingga kesiapan industri pendukung.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai E10 memang terus dipercepat. Bahkan, pemerintah telah merencanakan agar program tersebut menjadi kewajiban dalam waktu dekat sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih.
Setelah E10 berjalan stabil, barulah Indonesia akan melangkah ke E20—yang dinilai memiliki dampak lebih besar terhadap efisiensi energi dan pengurangan emisi.
Kurangi Impor BBM, Perkuat Energi Nasional
Salah satu alasan utama di balik kebijakan ini adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin. Saat ini, sekitar 60% kebutuhan bensin nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Dengan mencampurkan etanol ke dalam BBM, pemerintah berharap dapat menekan angka impor tersebut secara signifikan. Selain itu, penggunaan etanol yang berasal dari bahan nabati juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil murni.
“Tujuannya agar kita tidak impor banyak dan juga menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih,” demikian penegasan pemerintah dalam berbagai kesempatan.
Langkah ini juga sejalan dengan tren global, di mana banyak negara mulai beralih ke biofuel sebagai solusi transisi energi.
Andalkan Potensi Dalam Negeri
Indonesia dinilai memiliki keunggulan besar dalam pengembangan etanol. Bahan baku seperti tebu, jagung, dan singkong tersedia melimpah dan bisa dioptimalkan untuk produksi bioetanol.
Bahkan, pemerintah menyebut bahwa produksi molase (tetes tebu) yang selama ini diekspor dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dalam negeri.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia berpeluang besar meniru keberhasilan negara seperti Brasil yang telah lebih dulu mengembangkan bahan bakar berbasis etanol hingga di atas 20%.
Jika program ini berjalan konsisten, Indonesia diyakini tidak hanya mampu mengurangi impor energi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan energi secara bersamaan.
Sejalan dengan Program B50
Pengembangan BBM berbasis etanol juga berjalan beriringan dengan program biodiesel berbasis sawit. Saat ini, pemerintah tengah menguji coba penggunaan biodiesel 50% (B50) yang ditargetkan bisa diterapkan secara luas mulai 2026.
Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia dinilai tidak akan mengalami kendala dalam pasokan bahan baku untuk program tersebut.
Kombinasi antara B50 dan E20 diharapkan menjadi fondasi kuat bagi kemandirian energi nasional dalam jangka panjang.
Tantangan di Depan Mata
Meski menjanjikan, implementasi BBM campur etanol bukan tanpa tantangan. Mulai dari kesiapan infrastruktur, produksi bahan baku, hingga penyesuaian teknologi kendaraan menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Namun, pemerintah optimistis seluruh tantangan tersebut dapat diatasi secara bertahap melalui kolaborasi lintas sektor.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci agar kebijakan ini dapat diterima secara luas tanpa menimbulkan kekhawatiran.
Menuju Energi Mandiri
Jika target 2028 tercapai, Indonesia akan memasuki babak baru dalam pengelolaan energi. Tidak hanya mengurangi impor, tetapi juga menciptakan ekosistem energi berbasis sumber daya lokal.
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia serius dalam menjalankan transisi energi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Dengan potensi sumber daya yang melimpah dan dukungan kebijakan yang kuat, langkah menuju BBM campur etanol 20% bukan lagi sekadar wacana—melainkan arah nyata menuju kemandirian energi nasional. (R-05)

