Mengenang Wafatnya Mehmed II Sang Penahluk Konstantinopel pada 3 Mei 1481 dan Misteri Penyebab Kematiannya
Ilustrasi tata letak Konstatinopel di peta. Foto: Dok SM News
JAKARTA, SabangMerauke News - Pada 3 Mei 1481, dunia menyaksikan berakhirnya kiprah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah, Mehmed II—sang penakluk Konstantinopel yang mengubah arah peradaban global. Namun, kematiannya bukan sekadar penutup sebuah era kejayaan, melainkan awal dari misteri panjang yang hingga kini masih menjadi perdebatan para sejarawan.
Sultan yang dijuluki “Al-Fatih” ini wafat saat berada di puncak ambisi militernya. Ia meninggal dunia di wilayah Gebze, dekat Istanbul modern, ketika tengah memimpin ekspedisi militer besar yang diyakini mengarah ke Italia—sebuah langkah lanjutan yang berpotensi mengguncang Eropa.
Ambisi Besar yang Terhenti Mendadak
Sebagai penguasa Kekaisaran Ottoman, Mehmed II dikenal luas sebagai sosok visioner sekaligus penakluk ulung. Pada 1453, ia mencatatkan sejarah dengan merebut Konstantinopel, mengakhiri Kekaisaran Bizantium dan membuka era baru dominasi Ottoman.
Tak berhenti di situ, Mehmed II terus memperluas wilayah kekuasaannya ke berbagai penjuru, baik di Eropa maupun Asia. Bahkan menjelang akhir hayatnya, ia masih merancang ekspansi lebih jauh, termasuk ke Italia selatan dan kemungkinan Roma—pusat kekuasaan Katolik saat itu.
Namun, semua rencana besar itu terhenti secara tiba-tiba. Pada 3 Mei 1481, sang sultan meninggal dunia di usia 49 tahun, meninggalkan kekosongan kekuasaan sekaligus tanda tanya besar tentang penyebab kematiannya.
Penyebab Kematian: Sakit atau Dibunuh?
Catatan resmi menyebutkan bahwa Mehmed II meninggal akibat penyakit asam urat kronis (gout) yang disertai komplikasi pernapasan. Kondisi kesehatannya memang dilaporkan menurun dalam beberapa waktu sebelum wafat.
Namun, versi ini tidak sepenuhnya diterima oleh para sejarawan. Sejumlah pihak mencurigai adanya skenario pembunuhan yang terencana. Dugaan ini mengarah pada dokter pribadi sang sultan, Maistre Iacopo atau Hekim Lari, yang disebut memberikan dosis obat tidak wajar menjelang kematian Mehmed II.
Kecurigaan semakin menguat karena dokter tersebut diduga memiliki koneksi dengan pihak Venesia—musuh lama Ottoman yang merasa terancam oleh ekspansi agresif Mehmed II. Jika benar, maka kematian sang sultan bisa jadi bukan sekadar takdir alamiah, melainkan hasil konspirasi geopolitik tingkat tinggi.
Sejumlah sumber sejarah bahkan menyebut adanya indikasi kuat bahwa Mehmed II mungkin diracun, kemungkinan atas perintah pihak internal atau bahkan putranya sendiri, demi perebutan kekuasaan.
Dampak Global dan Reaksi Dunia
Kematian Mehmed II tidak hanya mengguncang internal Kekaisaran Ottoman, tetapi juga memicu reaksi besar di dunia internasional. Di Eropa, kabar wafatnya sang penakluk disambut dengan lega, bahkan dirayakan.
Catatan sejarah menyebutkan lonceng gereja dibunyikan dan perayaan digelar di berbagai wilayah Eropa sebagai tanda berakhirnya ancaman besar dari Timur.
Di sisi lain, bagi dunia Islam, kepergian Mehmed II merupakan kehilangan besar. Ia bukan hanya seorang pemimpin militer, tetapi juga simbol kejayaan dan kebangkitan peradaban Islam di era tersebut.
Warisan dan Perebutan Tahta
Sepeninggal Mehmed II, Kekaisaran Ottoman menghadapi tantangan serius, terutama terkait suksesi kepemimpinan. Konflik perebutan tahta antara putra-putranya, Bayezid II dan Cem Sultan, sempat mengguncang stabilitas politik kekaisaran.
Meski demikian, warisan Mehmed II tetap bertahan kuat. Ia dikenang sebagai sosok yang tidak hanya memperluas wilayah, tetapi juga membangun fondasi hukum, budaya, dan administrasi yang kokoh bagi Ottoman.
Istanbul—bekas Konstantinopel—menjadi simbol abadi kejayaannya, sekaligus saksi bisu dari perjalanan hidup dan kematiannya yang penuh teka-teki.
Misteri yang Tak Pernah Usai
Lebih dari lima abad setelah kematiannya, misteri wafatnya Mehmed II masih belum terpecahkan. Apakah ia benar-benar meninggal karena penyakit, atau menjadi korban konspirasi besar?
Pertanyaan itu tetap terbuka, menjadikan kisah hidupnya semakin dramatis dan penuh intrik. Yang pasti, Mehmed II tidak hanya meninggalkan sejarah sebagai penakluk, tetapi juga sebagai tokoh dengan akhir hayat yang menyisakan misteri mendalam bagi dunia. (R-05)

