Bursa Berdarah 7 Hari! IHSG Ambruk, Saham Bank Raksasa Disikat Investor Asing
Ilustrasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. (ist)
JAKARTA, SabangMerauke News - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tumbang pada Selasa, 28 April 2026, di tengah tekanan global. IHSG ditutup melemah 34,13 poin atau 0,48 persen ke level 7.072,39. Aksi jual investor asing menekan pasar dengan nilai fantastis mencapai Rp2,35 triliun sepanjang perdagangan.
Tekanan datang beruntun sejak pembukaan hingga penutupan, membuat indeks tak mampu bangkit dari zona merah. Sebanyak 350 saham turun, sementara 339 saham naik dan 129 saham stagnan sepanjang sesi. Nilai transaksi tercatat Rp17,51 triliun dengan volume mencapai 31,95 miliar saham yang diperdagangkan hari ini.
Gelombang jual terbesar terjadi pada saham unggulan yang biasanya menjadi penopang utama indeks harian. Investor asing melepas saham PT Bumi Serpong Damai Tbk senilai Rp1,5 triliun dalam sehari. Saham PT Bank Mandiri Tbk dilepas Rp350,7 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk Rp172,6 miliar.
Di tengah tekanan, beberapa saham justru menjadi incaran investor asing dalam kondisi pasar bergejolak. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk mencatat pembelian bersih Rp330,5 miliar dari investor global hari ini. PT Merdeka Copper Gold Tbk dibeli Rp146,8 miliar dan PT Vale Indonesia Tbk Rp54,1 miliar.
Kondisi pasar tidak bergerak sendiri, sentimen global menjadi bahan bakar utama tekanan sepanjang hari. Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas tanpa kejelasan arah penyelesaian diplomasi terbaru. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar memilih mengurangi risiko dengan menjual aset berisiko tinggi.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai tekanan berasal dari kondisi eksternal regional. “Mayoritas bursa Asia melemah akibat ketidakpastian konflik Timur Tengah yang belum menemukan titik terang,” ujar Ratna Lim. Ia menambahkan sentimen global membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam mengambil posisi pasar.
Delapan sektor mengalami koreksi serentak yang mempertegas tekanan menyeluruh pada struktur pasar saham nasional. Sektor barang konsumsi primer turun 1,61 persen, diikuti sektor bahan baku yang merosot 1,48 persen. Sektor infrastruktur, teknologi, hingga energi juga melemah dengan penurunan bervariasi sepanjang sesi perdagangan.
Meski mayoritas sektor memerah, tiga sektor masih mampu bertahan dan mencatatkan penguatan terbatas. Sektor keuangan naik 0,92 persen, sektor properti menguat 0,27 persen dan sektor industri naik 0,10 persen. Kenaikan ini tidak cukup menahan laju penurunan IHSG yang sudah berlangsung tujuh hari berturut-turut.
Tekanan juga datang dari faktor regional yang ikut memperburuk sentimen pelaku pasar domestik. Indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 1 persen, sementara Hang Seng juga melemah mendekati 1 persen. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global dalam jangka pendek.
Selain konflik geopolitik, pasar juga menanti arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat pekan ini. Pertemuan Federal Reserve menjadi fokus utama karena berpotensi menentukan arah suku bunga global. Pelaku pasar memilih menahan posisi sambil menunggu sinyal resmi dari otoritas moneter tersebut.
Analis menilai kondisi ini membuat IHSG bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan negatif. “Pasar masih berada dalam tekanan eksternal sehingga pergerakan cenderung terbatas dengan bias melemah,” ujar analis Vibiz Research Center. Ia menyebut level resistance berada di 7.578, sementara support terdekat di kisaran 6.917 saat ini.
Dalam sepekan terakhir, IHSG sudah turun 6,44 persen, mempertegas tren pelemahan yang konsisten terjadi. Sejak awal tahun, indeks bahkan tercatat melemah hingga 18,21 persen akibat tekanan berlapis. Data ini menunjukkan pasar masih belum menemukan momentum kuat untuk kembali ke jalur penguatan.
Pergerakan intraday sempat menunjukkan harapan saat indeks dibuka menguat pada awal sesi perdagangan pagi. IHSG sempat menyentuh level 7.124 sebelum akhirnya berbalik arah mengikuti tekanan global. Koreksi berlanjut hingga sore hari seiring meningkatnya aksi jual investor di berbagai sektor utama.
Ketidakpastian global menjadi faktor dominan yang membuat investor memilih mengamankan portofolio saat ini. Harga minyak tinggi dan gangguan distribusi energi ikut menambah beban pada sentimen pasar global. Kondisi ini membuat aliran modal cenderung keluar dari pasar berkembang menuju aset yang lebih aman.
Situasi ini menciptakan pola klasik pasar, di mana tekanan eksternal memicu aksi jual masif berantai. Investor ritel ikut terseret arus panic selling saat melihat indeks terus bergerak turun. Likuiditas tetap tinggi, namun didominasi oleh aktivitas distribusi dibandingkan dengan akumulasi saham hari ini.
Pasar kini menunggu kepastian arah kebijakan global sebelum kembali menemukan keseimbangan baru. Ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga menjadi dua faktor utama yang terus diawasi oleh investor. Selama kedua faktor ini belum stabil, volatilitas tinggi diperkirakan masih akan terus berlanjut. R-02

