Membangun Sinergi Inklusif di Bumi Lancang Kuning, PGI Wilayah Riau Selenggarakan Lokakarya Lembaga Keumatan Kristen
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Riau menggelar lokakarya bertajuk "Membangun Sinergitas Lembaga Kristen dalam Memperkuat Kualitas Pelayanan di Wilayah Riau" di Angkasa Hotel Pekanbaru pada Sabtu (25/4/2026). Foto: SM News
RIAU, SabangMerauke News - Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Riau bersama Badan Kerja Sama (BKS) PGI-GMKI Riau menggelar lokakarya bertajuk "Membangun Sinergitas Lembaga Kristen dalam Memperkuat Kualitas Pelayanan di Wilayah Riau" bertempat di Angkasa Garden Hotel Pekanbaru pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk memadukan visi gerejawi dalam bingkai kebangsaan semangat inklusifitas di Bumi Lancang Kuning.
Lokakarya menghadirkan 3 pembicara kaliber nasional, yakni tokoh lintas agama Pdt. Dr. Albertus Patty, tokoh nasional Firman Djaya Daeli, serta Guru Besar FEB Universitas Riau, Prof. Dr. Vince Ratnawati Lumbangaol.
Landasan Kebangsaan dalam Gerak Oikumenis
Firman Djaya Daeli dalam paparannya, menegaskan, pergerakan lembaga keumatan di Indonesia harus memiliki akar yang kuat pada semangat kebangsaan. Gerakan oikumenis—yang secara tradisional dipahami sebagai upaya persatuan gereja-gereja—tidak boleh eksklusif atau hanya berfokus pada urusan internal gerejawi.
"Kita harus menyadari bahwa identitas kekristenan dan identitas keindonesiaan adalah dua hal yang saling menguatkan, bukan meniadakan. Gerakan oikumenis harus diletakkan dalam bingkai besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan nilai-nilai luhur Pancasila," tegas Firman di hadapan peserta.
Menurut Firman, lembaga keumatan memiliki peran strategis sebagai perekat sosial. Di tengah ancaman polarisasi ideologi, lembaga gerejawi harus menjadi garda terdepan dalam mempraktikkan toleransi aktif. Inklusivitas yang dimaksud bukan sekadar wacana toleransi pasif, melainkan keterlibatan aktif dalam pembangunan bangsa.
"Berkarya dan berdampak nyata berarti kita harus hadir dalam ruang publik, memberikan solusi bagi persoalan kemasyarakatan, dan memastikan bahwa kehadiran kita menjadi berkat bagi sesama warga bangsa tanpa memandang latar belakang," tegas anggota tim perumus UU Kepolisian dan Kejaksaan ini.
Menembus Sekat Dogma: Menjawab Krisis Kemanusiaan
Pdt. Dr. Albertus Patty mengajak seluruh pimpinan gereja dan lembaga keumatan untuk melakukan otokritik terhadap fenomena perpecahan internal yang seringkali dipicu oleh perbedaan dogma dan tradisi gerejawi yang sempit.
"Sudah saatnya kita menuntaskan sekat-sekat dan polarisasi yang hanya berputar pada perdebatan dogma. Dunia luar tidak peduli dengan perbedaan teknis liturgi kita, yang dunia butuhkan adalah tindakan nyata dari kasih yang kita ajarkan," ujar Pdt. Albertus.
Ia menyoroti saat ini dunia, termasuk Indonesia, sedang menghadapi krisis multidimensi—mulai dari krisis lingkungan hidup, ketimpangan ekonomi yang ekstrem, hingga krisis moralitas di ruang digital. Pdt. Albertus mendesak agar lembaga keumatan menghentikan retorika yang muluk-muluk dan mulai menyusun agenda kerja yang konkret.
"Kita tidak boleh hanya menjadi pengamat krisis. Lembaga keumatan harus berkontribusi dalam mengatasinya. Jika ada krisis pangan, gereja harus bicara tentang kedaulatan pangan. Jika ada krisis iklim, gereja harus bicara tentang gaya hidup ekologis. Ini adalah bentuk inklusivitas yang sejati, di mana gereja membuka diri untuk berkolaborasi dengan siapa saja demi kemanusiaan," ujar Pdt Albertus, Ketua PGI Pusat periode 2014-2018.
Profesionalisme: Spiritualitas dalam Manajemen
Salah satu poin paling krusial dalam lokakarya ini adalah pembahasan mengenai tata kelola lembaga yang disampaikan oleh Prof. Dr. Vince Ratnawati Lumbangaol. Ia menekankan, niat suci dalam melayani tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan manajemen yang profesional.
Prof Vince menegaskan, trust (kepercayaan) dan reputasi adalah aset yang jauh lebih berharga daripada aset fisik bagi sebuah lembaga keumatan.
"Agar pelayanan kita berdampak luas dan berkelanjutan, kita harus membangun sistem yang kredibel. Mandat spiritualitas yang kita terima dari Tuhan harus dikelola dengan pendekatan manajemen yang baik," tegasnya.
Ia menyoroti potensi Sumber Daya Manusia (SDM) Kristen di Riau yang sebenarnya sangat besar dan tersebar di berbagai profesi—mulai dari birokrat, pengusaha, akademisi, hingga praktisi hukum. Namun, potensi ini seringkali berjalan tanpa arah yang selaras. Prof. Vince mendorong adanya sinkronisasi peran di mana setiap individu Kristen dapat berkontribusi sesuai dengan kompetensinya dalam wadah lembaga keumatan yang berintegritas.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya akuntabilitas keuangan dan program.
"Meskipun lembaga keumatan bukanlah lembaga profit yang mengejar keuntungan materi, prinsip akuntabilitas dan keberlanjutan tetap bersifat wajib. Setiap rupiah yang dikelola dan setiap program yang dijalankan harus dapat dipertanggungjawabkan secara transparan, baik secara spiritual kepada Tuhan maupun secara administratif kepada publik," imbuh Prof. Vince.
Sinergi untuk Kemajuan Riau
Ketua Panitia Lokakarya, Ir. Anggara Butarbutar, MBA, menjelaskan kegiatan dilatarbelakangi adanya urgensi untuk mempererat hubungan antar-lembaga pelayanan Kristen di Riau agar tidak terjadi tumpang tindih program dan terjadi penguatan sumber daya.
"Riau adalah daerah yang sangat dinamis dengan kekayaan alam dan keragaman budaya yang luar biasa. Kita ingin kontribusi umat Kristen melalui lembaga-lembaganya benar-benar memberikan dampak konkret terhadap kemajuan Provinsi Riau. Sinergi ini akan menjadi kekuatan besar jika dikelola dengan baik dalam bingkai inklusifitas di tengah keberagaman masyarakat Riau," kata Anggara.
Ketua PGI Wilayah Riau, Pdt. Sutrisno, M.Th berharap lokakarya menghasilkan sebuah kerangka kerja (framework) bersama.
"Visi keesaan tidak boleh hanya menjadi pajangan di dinding kantor. Melalui lokakarya ini, kita ingin memadukan visi tersebut ke dalam aksi nyata. Kita ingin gereja-gereja di Riau bergerak bersama dalam menangani masalah kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan di Bumi Lancang Kuning," tuturnya.
Keesaan dalam Gerak: Visi BKS PGI-GMKI
Pdt. Ricky Nelson Tampubolon, M.Th, selaku Ketua Badan Kerja Sama (BKS) PGI-GMKI Provinsi Riau, menilai eksistensi kekristenan di Riau diuji melalui kemampuannya untuk hadir sebagai solusi bagi masyarakat luas.
"Pelaksanaan lokakarya ini adalah langkah awal untuk mewujudkan visi bersama mengenai keesaan dalam bergerak. BKS PGI-GMKI berkomitmen untuk memastikan bahwa sinergisitas ini melibatkan lintas generasi. Aktivis mahasiswa dan pemuda gereja harus menjadi motor penggerak inklusivitas ini di lapangan," jelas Pdt. Ricky.
Ia menambahkan, semangat inklusivitas berarti gereja harus berani keluar dari zona nyaman dan membangun jembatan kerja sama dengan beragam pihak, termasuk pemerintah daerah serta organisasi keagamaan lainnya.
"Eksistensi kita harus berdampak nyata. Jika kehadiran lembaga keumatan tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, maka kita perlu mempertanyakan relevansi pelayanan kita," kata Pdt Ricky yang juga merupakan Ketua Badan Kerjasama Gereja-gereja Riau (BKGR).
Lokakarya yang berlangsung dari pagi hingga sore ditutup dengan sesi diskusi merumuskan poin-poin rekomendasi strategis bagi pelayanan lembaga keumatan di Riau yang dipandu Dr. Hinsatopa Simatupang. Salah satu rekomendasi lokakarya yakni pembentukan Forum Kerja dan Komunikasi Lembaga Keumatan Kristen Riau. Forum ini diproyeksikan sebagai "coaching instrument" bagi penguatan peran konkret dan sinergisitas lembaga pelayanan dan gereja di Riau.
Lokakarya dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pengurus aras gereja di Riau, ormas Kristen antara lain PWKI, GMKI, PMKRI, Perkumpulan Senior GMKI, Parkindo, PIKI, Perkantas, MUKI dan sejumlah unsur lainnya. (R-03)

