Dua Dirjen Dicopot, Purbaya Ungkap Misinformasi Kas Negara Picu Krisis Kepercayaan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan stabilitas APBN tetap kuat meski isu internal mencuat baru. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan stabilitas APBN tetap kuat meski isu internal mencuat baru.
Isu tersebut memicu polemik setelah tudingan negatif berasal dari internal Kementerian Keuangan sendiri yang muncul.
Purbaya mengaku heran terhadap narasi yang menyebut dirinya tertutup dan tidak fasih berbahasa Inggris publik.
Purbaya menyatakan informasi tersebut berdampak pada akses komunikasi dengan investor strategis global penting.
Ia menyebut narasi internal membuat dirinya tidak diikutsertakan dalam pertemuan penting bersama investor besar.
“Informasi keluar menyebut menteri tertutup dan tidak bisa bahasa Inggris,” ujar Purbaya di Jakarta.
Ia menambahkan narasi tersebut menyarankan dirinya tidak dilibatkan dalam agenda investor karena dinilai berpotensi mengacaukan.
Purbaya menegaskan langkah penataan internal dilakukan untuk memastikan koordinasi berjalan efektif dan profesional ke depan.
“Jadi kami rapikan sedikit agar tidak mengganggu kerja institusi,” kata Purbaya menegaskan kembali.
Purbaya juga mengaitkan polemik tersebut dengan keputusan mencopot dua pejabat eselon satu strategis penting.
Kedua pejabat tersebut yaitu Dirjen Anggaran Luky Alfirman serta Dirjen Strategi Fiskal Febrio Nathan Kacaribu.
Langkah tersebut diambil setelah muncul misinformasi serius terkait kondisi kas negara yang beredar luas.
Menurut Purbaya, narasi beredar menyebut kas negara hanya cukup membiayai kebutuhan selama dua pekan.
Ia menilai informasi tersebut menyesatkan dan berpotensi merusak kredibilitas pemerintah di mata publik luas.
“Jika misinformasi dibiarkan, kredibilitas pemerintah bisa runtuh dan memicu kepanikan,” tegas Purbaya lagi.
Purbaya menjelaskan dana Rp120 triliun merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih yang ditempatkan sementara.
Dana tersebut berada di Bank Indonesia dari total SAL mencapai Rp420 triliun keseluruhan nasional.
Sisa dana sebesar Rp300 triliun ditempatkan pada perbankan dalam bentuk deposito on call fleksibel.
Ia menegaskan dana tersebut dapat ditarik kapan saja sesuai kebutuhan pembiayaan negara secara cepat.
Menurutnya kondisi likuiditas negara tetap aman dan mampu mendukung belanja pemerintah berjalan optimal.
Purbaya memastikan tidak ada alasan bagi masyarakat merasa khawatir terhadap kondisi APBN nasional saat ini.
“APBN masih cukup kuat dan dana tersedia besar untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan dana SAL bahkan belum digunakan dan hanya dialokasikan untuk mendorong aktivitas ekonomi produktif.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil di tengah dinamika global meningkat.(R-03)

