DPR Minta Evaluasi Perlindungan UNIFIL Usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyampaikan duka mendalam atas gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon. Foto : Istimewa
Jakarta, SABANGMERAUKE NEWS - Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menyampaikan duka atas gugurnya prajurit TNI di Lebanon.
Prajurit bernama Rico Pramudia meninggal setelah mengalami luka berat akibat serangan militer Israel.
Insiden terjadi saat menjalankan tugas dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon menjaga stabilitas kawasan konflik.
Sukamta menilai pengorbanan prajurit menjadi bukti komitmen Indonesia menjaga perdamaian dunia secara konsisten.
Ia menegaskan peristiwa tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh pihak terkait konflik di wilayah tersebut.
“Kami menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya prajurit terbaik TNI dalam misi perdamaian internasional,” ujar Sukamta.
Serangan terjadi di wilayah operasi UNIFIL menandakan eskalasi konflik meningkat secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan risiko keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di lapangan konflik aktif.
“Situasi lapangan menunjukkan eskalasi meningkat dan menempatkan pasukan dalam risiko tinggi,” tegas Sukamta.
Ia menekankan perlindungan terhadap personel penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama seluruh pihak terkait konflik.
Upaya perlindungan dinilai penting mengingat kompleksitas konflik yang melibatkan berbagai aktor bersenjata di kawasan tersebut.
“Perlindungan personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan,” lanjut Sukamta.
Sukamta mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL saat ini.
Evaluasi diperlukan agar mandat operasi selaras dengan dinamika ancaman yang terus berkembang di lapangan konflik.
“Perlu evaluasi menyeluruh serta investigasi transparan agar ada kejelasan dan pertanggungjawaban,” ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah Indonesia meninjau aspek keamanan dan pola penugasan prajurit dalam misi internasional.
Langkah tersebut penting memastikan keselamatan personel tanpa mengurangi komitmen menjaga stabilitas global.
“Peninjauan komprehensif diperlukan demi menjamin keamanan prajurit dalam misi perdamaian,” kata Sukamta.
Data UNIFIL menyebut Rico Pramudia meninggal setelah dirawat di rumah sakit di Beirut akibat luka parah.
Luka terjadi akibat ledakan proyektil yang menghantam pangkalan tempat bertugas pada akhir Maret lalu.
Pihak UNIFIL menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta pemerintah dan rakyat Indonesia.
“UNIFIL menyampaikan belasungkawa terdalam atas kehilangan tragis prajurit TNI tersebut,” tulis pernyataan resmi UNIFIL.
Pernyataan tersebut menegaskan kehilangan besar bagi misi perdamaian dan komunitas internasional secara luas.
Kematian prajurit menambah daftar korban akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung di Lebanon selatan.
Serangan terhadap markas UNIFIL terjadi di dekat Adchit Al Qusayr Lebanon selatan pada akhir Maret.
Insiden tersebut menyebabkan dua prajurit TNI gugur serta dua lainnya mengalami luka dalam kejadian pertama.
Korban meninggal termasuk Farizal Rhomadhon dan Rico Pramudia.
Sehari setelah kejadian pertama ledakan lain menghantam konvoi logistik UNIFIL di wilayah berbeda.
Serangan kedua menyebabkan dua prajurit TNI kembali gugur serta beberapa lainnya mengalami luka-luka serius.
Korban meninggal termasuk Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ikhwan.
Total empat prajurit TNI gugur dalam rangkaian serangan yang terjadi di wilayah konflik Lebanon selatan.
Peristiwa tersebut memperlihatkan tingginya risiko misi perdamaian di tengah eskalasi konflik bersenjata.
Kejadian ini mendorong perhatian internasional terhadap perlindungan pasukan penjaga perdamaian di wilayah konflik.(R-03)

