Nasib Apes Sawit Swadaya Riau: Harga Terjun Bebas Lewati Angka Tiga Persen!
Ilustrasi petani sawit
RIAU, SabangMerauke News - Harga tandan buah segar sawit Riau periode April 2026 turun tajam mengejutkan petani lokal. Penurunan ini langsung terasa di kantong petani setelah rapat penetapan harga digelar secara resmi. Selasa, 21 April 2026, angka baru diumumkan dengan tren melemah dipicu oleh tekanan harga global.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Defris Hatmaja, menjelaskan hasil rapat. Ia menyebut harga minggu ke-13 tahun 2026 mengacu pada regulasi terbaru yang berlaku secara nasional. “Penetapan harga menggunakan aturan baru serta kajian teknis yang sudah disepakati bersama,” ujar Defris.
Harga TBS tertinggi terjadi pada tanaman umur sembilan tahun yang justru ikut terkoreksi. Penurunan mencapai Rp131,78 per kilogram atau sekitar 3,22 persen dibanding periode sebelumnya. Nilai itu membuat harga TBS petani turun menjadi Rp3.956,31 per kilogram untuk pekan berjalan.
Penurunan ini terasa menyakitkan karena terjadi saat biaya produksi petani masih tinggi. Selain itu, harga cangkang juga tercatat hanya Rp22,66 per kilogram dalam periode yang sama. Kondisi ini membuat margin keuntungan petani semakin tipis dan penuh tekanan ekonomi.
Defris mengungkapkan faktor utama penurunan berasal dari melemahnya harga minyak sawit mentah global. Harga CPO tercatat turun sebesar Rp595,65 per kilogram dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sementara itu, harga kernel justru naik sebesar Rp141 per kilogram dalam periode yang sama.
“Penurunan harga TBS sangat dipengaruhi fluktuasi CPO yang sedang melemah pekan ini,” kata Defris. Ia menambahkan indeks K yang digunakan dalam penetapan mencapai 92,22 persen saat ini. Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan harga pembelian petani.
Dalam proses penetapan harga, tidak semua pabrik kelapa sawit melakukan transaksi penjualan. Kondisi ini membuat tim menggunakan harga rata-rata sebagai acuan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Jika validasi tertentu terjadi, harga KPBN digunakan sebagai referensi tambahan dalam penentuan.
Defris menyebut harga rata-rata CPO KPBN mencapai Rp15.437 per kilogram dalam periode ini. Sedangkan harga kernel rata-rata KPBN tercatat sebesar Rp16.152 per kilogram. Data tersebut menjadi dasar penting dalam menyusun keputusan harga TBS petani Riau.
Meski tren melemah, pemerintah daerah tetap berupaya menjaga keseimbangan kepentingan petani dan industri. Perbaikan tata kelola terus dilakukan agar sistem penetapan harga berjalan transparan dan adil. “Perbaikan tata kelola terus dilakukan demi keadilan antara petani dan perusahaan mitra,” tegas Defris.
Ia menambahkan bahwa sinergi antarpemangku kepentingan sangat dibutuhkan dalam menjaga stabilitas harga. Dukungan pemerintah daerah hingga aparat hukum ikut memperkuat sistem pengawasan harga sawit. Harapannya kondisi ini mampu menjaga kesejahteraan petani meski pasar global bergejolak.
Harga TBS berdasarkan umur tanaman menunjukkan variasi yang cukup lebar antar kelompok usia. Tanaman umur tiga tahun dihargai Rp3.072,63 per kilogram pada periode terbaru ini. Sedangkan tanaman umur sepuluh hingga dua puluh tahun berada di kisaran Rp3.918,35.
Untuk tanaman usia lebih tua, harga cenderung menurun seiring produktivitas yang berkurang. Tanaman umur tiga puluh tahun hanya dihargai sekitar Rp3.349,50 per kilogram. Kondisi ini menunjukkan pentingnya peremajaan kebun untuk menjaga produktivitas optimal petani.
Fluktuasi harga sawit memang bukan hal baru dalam industri perkebunan Indonesia. Namun tekanan global membuat pergerakan harga semakin sulit diprediksi dalam waktu singkat. Petani kini dituntut lebih adaptif menghadapi perubahan pasar yang bergerak cepat dan dinamis.
Penurunan harga kali ini menjadi pengingat penting tentang ketergantungan pada pasar global. Harga CPO internasional memiliki pengaruh besar terhadap pendapatan petani di daerah penghasil. Ketika harga global turun, dampaknya langsung terasa hingga tingkat kebun rakyat.
Di tengah situasi ini, petani berharap adanya kebijakan stabilisasi yang lebih kuat. Langkah perlindungan harga menjadi harapan agar pendapatan tidak tergerus fluktuasi pasar. Selain itu, peningkatan hilirisasi sawit dinilai mampu menambah nilai ekonomi komoditas ini.
Defris menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperbaiki sistem yang ada. Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian harga bagi petani setiap pekan berjalan. “Komitmen ini diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani secara berkelanjutan,” tutup Defris. R-02
Berikut Daftar Harga TBS Kelapa Sawit Kemitraan Swadaya Provinsi Riau: Periode : Rabu - Selasa, 22 - 28 April 2026 :
- Umur 3 Th (Rp 3.072,63 );
- Umur 4 Th (Rp 3.420,80 );
- Umur 5 Th (Rp 3.664,78 );
- Umur 6 Th (Rp 3.804,05 );
- Umur 7 Th (Rp 3.890,52 );
- Umur 8 Th (Rp 3.936,91 );
- Umur 9 Th (Rp 3.956,31 );
- Umur 10-20 Th (Rp 3.918,35 );
- Umur 21 Th (Rp 3.855,48 );
- Umur 22 Th (Rp 3.782,20 );
- Umur 23 Th (Rp 3.698,85 );
- Umur 24 Th (Rp 3.635,54 );
- Umur 25 Th (Rp 3.583,84 );
- Umur 26 Th (Rp 3.565,13 );
- Umur 27 Th (Rp 3.536,47 );
- Umur 28 Th (Rp 3.481,90 );
- Umur 29 Th (Rp 3.441,60 );
- Umur 30 Th (Rp 3.349,50).

