Dramatis! Anak-anak Terjebak Banjir Rumbai Timur Dievakuasi Saat Air Terus Naik
Petugas Basarnas Pekanbaru mengevakuasi warga terjebak banjir di Rumbai, Pekanbaru, Minggu dini hari, 19 April 2026. (ist)
RIAU, SabangMerauke News - Banjir di Pekanbaru pada Minggu dini hari, 19 April 2026, memicu evakuasi dramatis warga terjebak. Air naik cepat merendam rumah di Jalan Sembilang, Kecamatan Rumbai Timur, bikin panik warga. Tim SAR bergerak kilat setelah laporan masuk tengah malam, menyelamatkan anak-anak dan dewasa dari kepungan air gelap.
Laporan masuk pukul 00.30 WIB saat warga mulai terjebak air yang terus meninggi dengan deras. Kepala Basarnas Pekanbaru, Budi Cahyadi, langsung menggerakkan tim rescue tanpa banyak jeda. “Informasi kami terima dari BPBD: warga butuh evakuasi cepat karena air terus naik,” ujar Budi Cahyadi, Kepala Basarnas Pekanbaru, Minggu, 19 April 2026.
Tim berangkat pukul 00.40 WIB menembus jarak sepuluh kilometer menuju lokasi terdampak banjir. Perjalanan malam itu ditemani genangan air dan jalanan gelap yang memperlambat laju kendaraan. Namun, tim tetap tancap gas demi menyelamatkan warga yang masih bertahan di dalam rumah.
Sekitar pukul 01.10 WIB, tim tiba dan langsung menyisir rumah terendam air keruh. Situasi di lokasi terasa mencekam karena air sudah masuk hingga bagian dalam rumah warga. “Begitu sampai, tim langsung evakuasi warga tanpa menunggu lama karena kondisi berbahaya,” kata Budi Cahyadi.
Enam warga dilaporkan terjebak, satu orang sudah dievakuasi sebelum tim tiba di lokasi. Lima warga lainnya, terdiri dari satu dewasa dan empat anak, berhasil diselamatkan petugas. Nama-nama seperti Fuji Meizar, Afifah, Zio, Alif, dan Zafa menjadi bagian cerita malam penuh ketegangan itu.
Proses evakuasi berlangsung cepat menggunakan perahu karet menembus arus air yang terus naik. Tim bekerja hati-hati agar anak-anak tetap aman saat dipindahkan ke lokasi lebih tinggi. “Seluruh korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan langsung diserahkan ke keluarga,” ujar Budi Cahyadi.
Operasi penyelamatan selesai sekitar pukul 01.40 WIB setelah semua korban berhasil diamankan tim. Meski singkat, operasi itu terasa panjang karena risiko air terus naik setiap menit. Tim memastikan tidak ada warga lain yang tertinggal sebelum meninggalkan lokasi banjir tersebut.
Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur Pekanbaru sejak Sabtu malam tanpa henti. Curah hujan tinggi membuat drainase tak mampu menampung air sehingga meluap ke permukiman. Air bahkan mencapai ketinggian sekitar satu meter di beberapa titik, membuat aktivitas warga lumpuh total.
Kawasan Jalan Sembilang dikenal rawan banjir saat hujan turun dalam durasi panjang ekstrem. Permukiman padat dengan sistem drainase terbatas memperparah genangan air yang sulit surut. Warga terpaksa bertahan di rumah hingga bantuan datang, terutama keluarga dengan anak kecil.
Selain di Rumbai Timur, genangan juga terlihat di sejumlah titik lain di Kota Pekanbaru. Salah satunya di Jalan Ahmad Dahlan, air menutup badan jalan hingga di atas mata kaki. Pengendara harus melaju pelan sambil menghindari risiko kendaraan mogok dan tergelincir.
Seorang pengendara, Ikhsan, mengaku khawatir saat melintasi genangan yang menutup batas jalan. Ia menyebut sulit membedakan antara jalan dan drainase karena tertutup air sepenuhnya. “Airnya rata, tidak kelihatan mana jalan, mana parit, jadi sangat berisiko,” ujar Ikhsan, pengendara.
Situasi tersebut membuat mobil dan motor berjalan pelan demi menghindari kerusakan mesin. Banyak pengendara memilih berhenti sementara menunggu air sedikit surut sebelum melintas. Kondisi ini menambah panjang antrean kendaraan di sejumlah ruas jalan kota.
Tim SAR menegaskan pentingnya kesiapsiagaan warga saat curah hujan tinggi terus berlanjut. Budi Cahyadi mengingatkan potensi banjir susulan masih sangat mungkin terjadi dalam beberapa hari. “Kami imbau warga tetap waspada dan segera melapor jika butuh bantuan darurat,” tegas Budi Cahyadi.
Respons cepat tim rescue menjadi penentu keselamatan warga dalam kondisi darurat tengah malam. Koordinasi antara BPBD dan Basarnas berjalan efektif sehingga evakuasi bisa dilakukan tepat waktu. Hal ini menunjukkan kesiapan tim tanggap bencana menghadapi situasi kritis di lapangan.
Meski semua korban selamat, pengalaman itu meninggalkan trauma bagi anak-anak yang dievakuasi. Air gelap, arus deras, dan suasana panik menjadi pengalaman tak terlupakan bagi mereka. Keluarga korban langsung menenangkan anak-anak setelah tiba di tempat aman.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya sistem drainase yang lebih baik di kawasan rawan. Tanpa perbaikan serius, banjir akan terus berulang setiap musim hujan datang. Pemerintah daerah kini dituntut bergerak lebih cepat mengantisipasi bencana serupa di masa depan.
Banjir tengah malam di Pekanbaru menjadi alarm keras bagi semua pihak terkait. Cuaca ekstrem tidak bisa diprediksi, namun kesiapan menghadapi dampaknya bisa ditingkatkan. Warga, pemerintah, dan tim penyelamat perlu bergerak seirama demi meminimalkan risiko korban. R-02

