Trump Ancam Uranium Iran, Pezeshkian Balas Pernyataan Menohok
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap keras menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel terkait konflik kawasan Timur Tengah. Foto : Istimewa
Iran, SABANGMERAUKE NEWS - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap keras menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel terkait konflik kawasan Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya mengupayakan penghentian konflik secara bermartabat dan terhormat. Pernyataan itu muncul setelah tekanan keras dari Presiden AS Donald Trump terkait isu nuklir Iran. Situasi kawasan memanas kembali meski sebelumnya sempat terjadi gencatan senjata sementara selama dua pekan.
Pezeshkian menolak klaim Donald Trump terkait pembatasan hak nuklir Iran sebagai negara berdaulat. Ia mempertanyakan legitimasi pernyataan tersebut dengan nada keras dan menantang dalam pernyataan resmi terbaru. “Siapa dia sehingga berhak mencabut hak suatu bangsa?” ujar Pezeshkian dalam pernyataan publiknya.
Ia juga menegaskan hak setiap bangsa tidak dapat dicabut berdasarkan prinsip kemanusiaan universal. Menurutnya, seluruh manusia memiliki hak tanpa memandang latar belakang agama, ras, maupun etnis. “Setiap orang bebas menikmati hak-haknya yang tidak dapat dicabut,” tegas Pezeshkian menambahkan.
Pernyataan itu muncul setelah ancaman Donald Trump terkait pengamanan uranium Iran secara paksa. Trump sebelumnya memperingatkan tindakan keras jika kesepakatan nuklir tidak tercapai dalam waktu dekat. Ketegangan meningkat karena ancaman tersebut dinilai sebagai bentuk tekanan sepihak terhadap kedaulatan Iran.
Pezeshkian menyerukan persatuan nasional menghadapi tekanan eksternal yang dianggap agresif dan brutal. Ia meminta rakyat Iran tetap kuat tanpa memicu persepsi sebagai pihak penghasut konflik regional. “Kami tidak mencari perang, tindakan ini adalah pembelaan diri yang sah,” ujarnya menegaskan.
Iran menekankan posisinya sebagai negara defensif yang tidak pernah memulai konflik bersenjata di kawasan. Pemerintah berupaya menjaga citra internasional tetap stabil di tengah dinamika geopolitik yang kompleks. Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan diplomatik terhadap komunitas global mengenai posisi Teheran.
Konflik memuncak sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Iran merespons melalui serangan rudal dan drone ke target militer di kawasan strategis. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran meluasnya perang terbuka di Timur Tengah dalam skala besar.
Gencatan senjata sempat tercapai pada awal April melalui mediasi Pakistan antara kedua pihak. Namun kesepakatan itu rapuh karena ancaman terus berlanjut dari masing-masing pihak terkait kepentingan strategis. Upaya perundingan lanjutan di Islamabad masih berlangsung tanpa hasil konkret hingga saat ini.(R-04)

