7 Hari Disisir Tanpa Henti, Pencarian Korban Lompat dari Kapal Dumai Line di Selat Meranti Resmi Dihentikan
Pencarian korban lompat dari Kapal Dumai Line di Selat Meranti dihentikan oleh tim. Foto: SM News
SELATPANJANG, SabangMerauke News - Langit di atas perairan Kepulauan Meranti tepatnya di Pulau Rangsang perlahan meredup ketika tim SAR gabungan menutup hari terakhir pencarian seorang pria yang dilaporkan melompat dari kapal penumpang Dumai Line. Setelah berhari-hari menyisir perairan dengan harapan yang tak pernah padam, operasi pencarian akhirnya resmi dihentikan, Kamis (16/4/2026) petang. Korban, Nasri (32), hingga kini masih belum ditemukan.
Peristiwa itu bermula pada Kamis (10/4/2026) sekitar pukul 14.30 WIB, ketika korban dilaporkan melompat dari kapal yang tengah berlayar dari Pelabuhan Tanjung Buton menuju Tanjung Balai Karimun. Informasi pertama diterima Kantor SAR Pekanbaru beberapa jam kemudian dari nakhoda kapal, yang langsung memicu respons cepat tim penyelamat.
Sejak saat itu, harapan tak pernah benar-benar padam. Tim SAR gabungan bergerak menyisir titik lokasi kejadian perkara (LKP) hingga puluhan mil laut ke arah tenggara. Setiap hari, sejak pagi hingga senja, penyisiran dilakukan menggunakan perahu penyelamat, memperluas area pencarian secara bertahap dari radius 1 mil laut hingga 11 mil laut.
Gelombang laut yang relatif tenang tak selalu berarti mudah. Luasnya bentang perairan membuat pencarian menjadi ujian kesabaran dan ketekunan bagi seluruh unsur yang terlibat. Namun satu hal yang tetap sama yakni harapan keluarga agar Nasri bisa ditemukan.
Hari demi hari berlalu. Pencarian dilanjutkan hingga hari ketujuh dengan pola operasi yang terus diperluas sesuai rencana operasi SAR. Tim gabungan menyisir setiap sektor yang dipetakan secara sistematis. Namun hingga batas akhir operasi, hasil yang diharapkan belum juga didapatkan.
Pada Kamis (16/4/2026) sekitar pukul 18.10 WIB, tim SAR gabungan melaksanakan debriefing bersama unsur terkait dan keluarga korban. Dalam suasana yang sarat keheningan, keputusan berat akhirnya diambil bahwa operasi SAR dihentikan dan diusulkan untuk ditutup, dengan status korban dinyatakan masih hilang.
Meski operasi resmi dihentikan, harapan belum sepenuhnya ditutup. Tim SAR menegaskan bahwa apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi pencarian dapat kembali dibuka.
Di balik penutupan operasi itu, tersisa doa yang masih menggantung di langit Kepulauan Meranti dan doa dari keluarga yang menunggu kepastian, dari para petugas yang telah berhari-hari berjibaku di laut, dan dari masyarakat yang ikut menyaksikan bagaimana sebuah harapan dipertahankan hingga batas waktu terakhir.
Kepala Kantor Basarnas Pekanbaru Budi Cahyadi melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti Prima Harrie Saputra menyampaikan bahwa penghentian operasi pencarian merupakan keputusan yang diambil setelah seluruh prosedur pencarian maksimal dilaksanakan sesuai standar operasi SAR nasional.
Dalam suasana penuh empati, Prima Harrie Saputra menjelaskan bahwa selama tujuh hari terakhir tim SAR gabungan telah bekerja tanpa henti menyisir perairan Selat Meranti dengan memperluas area pencarian secara bertahap hingga puluhan kilometer laut dari titik lokasi kejadian.
“Sejak hari pertama laporan kami terima, seluruh unsur SAR gabungan langsung bergerak melakukan pencarian secara intensif di sekitar lokasi korban dilaporkan melompat dari kapal. Area pencarian terus kami perluas setiap hari sesuai rencana operasi, namun hingga hari ketujuh korban belum berhasil ditemukan,” ujarnya dengan nada penuh kehati-hatian.
Ia menegaskan bahwa keputusan penghentian operasi bukan berarti upaya pencarian berhenti sepenuhnya, melainkan merupakan tahapan prosedural setelah seluruh metode penyisiran maksimal dilakukan sesuai standar operasi penyelamatan.
“Kami memahami betapa besar harapan keluarga agar korban segera ditemukan. Karena itu sejak awal operasi seluruh personel bekerja maksimal di lapangan. Meski operasi SAR resmi dihentikan, apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, maka operasi dapat kembali dibuka,” jelasnya.
Prima juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan dan masyarakat yang turut terlibat dalam proses pencarian selama beberapa hari terakhir.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat serta masyarakat yang ikut membantu proses pencarian. Semoga keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi situasi ini,” tuturnya.
Pernyataan itu menjadi penutup dari rangkaian panjang upaya pencarian yang selama sepekan terakhir dilakukan di hamparan laut sekitar Pulau Rangsang, sebuah ikhtiar kemanusiaan yang dijalankan dengan harapan, doa, dan kerja bersama hingga batas waktu terakhir.
Diberitakan sebelumnya, Nasri (32), warga Jalan Ismail Saleh, Desa Tanjung Sari, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti nekad terjun ke laut setelah pulang menjalani pengobatan.
Nasri dilaporkan melompat ke laut dari buritan atas Kapal Ferry MV Dumai Line 1 saat kapal melintas di perairan Repan Kecamatan Rangsang pada titik koordinat N 00°56.490 E 102°54.455, Jumat (10/4/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Saat itu, Nasri diketahui sedang dalam perjalanan pulang bersama ayahnya, Gani, setelah menjalani pengobatan di rumah sakit di Kabupaten Siak. Mereka berangkat dari Pelabuhan Buton dengan tujuan Tanjung Samak. Tidak ada firasat apa pun sebelumnya.
Namun di tengah perjalanan, tepat saat kapal melintas di wilayah perairan Repan, Nasri tiba-tiba berjalan menuju bagian buritan kapal.
Tak lama kemudian, tubuhnya sudah hilang dari pandangan.
“Dia berjalan ke arah belakang kapal. Tidak lama kemudian langsung melompat ke laut,” ungkap Gani dengan suara bergetar saat memberikan keterangan kepada petugas.
Menurut keluarga, Nasri memang diketahui mengalami gangguan kesehatan mental dan baru saja selesai menjalani pengobatan sebelum kembali ke kampung halaman.
Informasi mengenai peristiwa tersebut pertama kali disampaikan oleh Chief Officer MV Dumai Line 1 kepada pihak terkait setelah awak kapal menerima laporan adanya penumpang yang terjatuh ke laut.
Mendapat laporan tersebut, seluruh kru kapal segera melakukan upaya pencarian darurat dengan mengelilingi lokasi kejadian di perairan Repan dan sekitarnya.
Selama kurang lebih 30 menit, kapal berputar di area yang diduga menjadi titik jatuhnya korban. Namun hasilnya nihil. (R-01)

