Ngeri! Api Karhutla Riau Kepung Pemukiman, Helikopter Water Bombing Turun Tangan
Tim Manggala Agni berjibaku memadamkan kebakaran lahan di Bengkalis. (ist)
Riau, SABANGMERAUKE NEWS - Kabut asap tipis masih menyelimuti Desa Kelemantan Barat ketika matahari mengintip, Kamis pagi, 9 Maret 2026. Tim Manggala Agni berpacu melawan waktu memadamkan sisa api karhutla yang mengancam pemukiman. Sektor ini menjadi benteng terakhir pertahanan hijau di wilayah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Langit sedikit bersahabat karena guyuran hujan membasahi bumi sejak dini hari tadi. Air langit tersebut sangat membantu mendinginkan bara tersembunyi di bawah lapisan tanah gambut. Petugas di lapangan segera memanfaatkan momentum emas ini untuk melakukan pemadaman secara total.
"Pagi ini kami melanjutkan satu titik pemadaman yang tersisa di Desa Kelemantan Barat," ujar Ferdian Krisnanto, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Kamis, 9 April 2026. Ferdian menjelaskan timnya membawa kekuatan tiga regu penuh untuk mengepung titik api tersebut. Koordinasi ketat dilakukan agar si jago merah tidak melompat ke area baru.
Pasukan darat kini dibekali teknologi canggih untuk memetakan jalur api secara akurat. Drone diterbangkan guna mengintip pergerakan asap dari ketinggian hutan yang sulit dijangkau. Data visual tersebut menjadi panduan utama dalam menempatkan personel pada posisi paling strategis.
"Drone sedang diterbangkan untuk mengecek kembali kondisi terakhir guna penempatan pasukan," tambah Ferdian saat memantau layar monitor di posko. Cuaca cerah pascahujan memberikan jarak pandang yang sangat baik bagi pilot pesawat tanpa awak. Keberhasilan pemantauan ini menentukan kecepatan gerak pasukan dalam memutus rantai penyebaran kebakaran.
Kabar baik datang dari beberapa titik panas yang sebelumnya sempat berkobar hebat. Desa Sekodi, Desa Palkun, hingga Desa Kembung Luar kini sudah berstatus aman terkendali. Hamparan lahan di wilayah tersebut telah bersih dari kepulan asap yang menyesakkan dada.
"Desa Sekodi, Desa Palkun, dan Desa Kembung Luar sudah clear," ungkap Ferdian dengan nada lega. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras tiada henti selama beberapa hari terakhir. Fokus energi kini tercurah sepenuhnya untuk menuntaskan masalah di Desa Kelemantan Barat.
Kendala terbesar di lapangan adalah keringnya sumber air akibat kemarau panjang yang melanda. Parit-parit warga mengering hingga dasar tanah gambut mulai retak dan mudah terbakar. Kondisi ini membuat api hampir saja melahap area kebun sagu milik masyarakat.
Satu unit alat berat terpaksa dikerahkan menuju lokasi sejak Rabu malam kemarin. Ekskavator tersebut bertugas mengeruk kanal dan mencari kantong air bawah tanah yang tersisa. "Satu unit alat berat membantu tim membersihkan kanal guna mendapatkan sumber air," jelas Ferdian.
Tanpa pasokan air yang cukup, selang-selang pemadam hanya akan mengeluarkan angin hampa. Dukungan udara juga menjadi kunci utama dalam menjangkau jantung api yang terisolasi. Dua helikopter water bombing dikerahkan untuk mengguyur bara dari langit secara bertubi-tubi.
"Water bombing sebanyak dua helikopter membantu siang kemarin," kenang Ferdian mengenai operasi udara tersebut. Jutaan liter air dijatuhkan tepat di atas titik koordinat paling panas di hutan. Serangan udara ini terbukti efektif menurunkan suhu permukaan tanah secara signifikan dan cepat.
Kesehatan personel yang bertugas di tengah asap juga menjadi prioritas utama. Tenaga medis dari puskesmas setempat rutin melakukan pemeriksaan kesehatan bagi seluruh anggota tim. Tensi darah dan fungsi paru-paru dipantau setiap pagi juga sore hari.
"Cek kesehatan menjadi dukungan yang sangat baik bagi tim Manggala Agni," tutup Ferdian, mengakhiri pembicaraan. Operasi ini akan terus berlangsung hingga kepulan asap terakhir benar-benar hilang dari Bengkalis. Semua berharap hutan Riau segera kembali hijau tanpa gangguan api yang merusak. R-02

