Kecelakaan Kerja di IKPP Perawang, Operator Tewas Terhimpit Roll, Ini Kronologinya
Jenazah Syafrianto, 48 tahun, buruh pabrik di PT IKPP dibawa warga untuk dimakamkan. (ist)
Riau, SABANGMERAUKE NEWS - Kecelakaan kerja yang merenggut nyawa buruh kembali terjadi di PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) di Perawang. Seorang operator crane tewas mengenaskan setelah terhimpit gulungan kertas besar, Kamis subuh, 2 April 2026.
Insiden terjadi di area Roll Handling saat korban melakukan pengecekan gangguan operasional crane. Peristiwa ini memicu perhatian serius terkait standar keselamatan kerja industri pulp and paper nasional.
Korban diketahui bernama Syafrianto, 48 tahun, seorang operator berpengalaman di area produksi tersebut. Ia ditemukan dalam kondisi terhimpit gulungan kertas besar saat melakukan pengecekan teknis di lapangan. Kejadian berlangsung di area Auto Crane yang sedang mengalami gangguan.
Informasi awal menyebutkan korban sedang menjalankan tugas rutin, termasuk kegiatan pembersihan area operasional. Namun situasi berubah ketika sistem crane mengalami error teknis yang memerlukan pemeriksaan langsung. Kondisi tersebut diduga menjadi titik awal insiden fatal yang merenggut nyawa pekerja tersebut pagi itu.
Corporate Communications IKPP Perawang, Armadi, menyampaikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut. “Peristiwa terjadi sekitar pukul 05.56 WIB di area RH3 Auto Warehouse saat operasional berlangsung,” ujar Armadi.
Ia memastikan korban telah menjalankan prosedur kerja, termasuk briefing keselamatan, sebelum aktivitas dimulai. Menurut Armadi, gangguan crane dengan kode error memicu proses pengecekan langsung di lokasi kejadian.
Saat pengecekan berlangsung, korban ditemukan terhimpit material roll dalam kondisi kritis di area tersebut.
Tim operasional segera melakukan evakuasi bersama unit keselamatan kerja dan fasilitas pendukung lainnya. “Korban langsung dibawa ke klinik perusahaan setelah proses evakuasi dilakukan secara cepat,” kata Armadi.
Namun, setibanya di fasilitas medis, tenaga kesehatan menyatakan korban sudah tidak bernyawa lagi. Kabar duka ini langsung menyebar cepat di lingkungan kerja dan memicu perhatian luas publik.
Pihak perusahaan membantah isu yang menyebut adanya upaya menutup informasi insiden tersebut. Armadi menegaskan transparansi tetap dijaga dalam setiap proses penanganan kejadian di area operasional. “Tidak ada yang ditutup; seluruh proses berjalan sesuai prosedur dan koordinasi dengan instansi terkait,” ujarnya.
Selain klarifikasi, perusahaan juga menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban yang ditinggalkan. Manajemen memastikan seluruh hak pekerja akan dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku saat ini. Langkah ini mencakup santunan, jaminan sosial, serta dukungan lain bagi keluarga korban.
“Perusahaan sangat berduka dan memastikan seluruh hak korban dipenuhi sesuai aturan berlaku,” ucap Armadi. Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan guna mendukung investigasi lanjutan. Proses ini bertujuan mengungkap penyebab pasti insiden secara menyeluruh dan objektif.
Di tengah duka, operasional perusahaan disebut tetap berjalan normal dengan pengawasan ketat. Standar keselamatan kerja menjadi fokus utama untuk memastikan tidak terjadi insiden serupa ke depan. Evaluasi menyeluruh kini tengah dilakukan terhadap sistem operasional dan prosedur kerja lapangan.
“Evaluasi dilakukan sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat aspek keselamatan kerja secara berkelanjutan,” kata Armadi. Langkah ini mencakup peninjauan ulang prosedur kerja hingga sistem pengawasan alat berat operasional.
Perusahaan juga menegaskan komitmen terhadap implementasi standar Health, Safety, Environment secara ketat. Insiden ini kembali menyoroti risiko tinggi pekerjaan di sektor industri berat berbasis mesin besar. Area Roll Handling dikenal memiliki potensi bahaya tinggi terutama saat terjadi gangguan teknis alat berat. Situasi ini menuntut kedisiplinan tinggi serta sistem pengamanan berlapis untuk melindungi pekerja.
Kasus ini menjadi pengingat keras pentingnya budaya keselamatan kerja di sektor industri manufaktur nasional. Setiap prosedur harus dijalankan secara disiplin tanpa kompromi, terutama saat menangani gangguan teknis. Kegagalan kecil dalam sistem dapat berujung fatal ketika berhadapan dengan mesin berkapasitas besar.
Hingga kini, proses investigasi masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Hasil investigasi diharapkan mampu memberikan rekomendasi perbaikan sistem kerja secara komprehensif. Publik menanti transparansi penuh guna memastikan keselamatan pekerja menjadi prioritas utama industri. R-02

