Pasutri Kampar Nekat Bisnis Sabu Pakai Senpi, Tas Pink Jadi Saksi Bisu!
Polisi mengamankan tiga pengedar sabu, dua diantaranya pasangan suami istri, beserta senjata api rakitan dan amunisi berbagai jenis di XII Koto Kampar. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Kampar - Suhu udara subuh di XIII Koto Kampar mendadak terasa lebih dingin pada Rabu lalu, 25 Maret 2026. Sebuah pondok sederhana di kebun gambir berubah jadi titik panas operasi senyap aparat. Di tempat itu, sabu ratusan gram dan senjata rakitan membuka cerita gelap.
Operasi itu digerakkan oleh tim dari Polres Kampar yang menyisir wilayah sunyi tanpa suara. Gerak cepat aparat membongkar jaringan kecil yang ternyata menyimpan potensi besar. Tiga orang diamankan, termasuk pasangan suami istri yang terjebak dalam pusaran bisnis haram.
Kasus ini tidak sekadar penangkapan biasa yang berlalu tanpa jejak cerita panjang. Ada alur pengembangan, ada pengakuan, ada pondok yang menyimpan lebih dari sekadar bayangan. Setiap detail mengarah pada satu titik, peredaran sabu yang menyusup pelan di desa.
Jejak Awal dari Pondok Gambir
Penangkapan bermula dari seorang pria berinisial ME yang terlihat mencurigakan. Tim menemukan dirinya di pondok kebun gambir dengan kondisi yang tidak biasa. Dari situ, cerita berkembang cepat menuju pengungkapan yang lebih luas.
Kasat Narkoba AKP Markus Sinaga menjelaskan, operasi berjalan dari informasi lapangan. “Penangkapan bermula dari satu orang, lalu berkembang cepat ke pelaku lain,” ucap Markus. Keterangan itu membuka arah perburuan menuju jaringan kecil yang tersembunyi.
Penggeledahan pondok membawa temuan yang mengejutkan di lokasi terpencil tersebut. Dua pucuk senjata api rakitan ditemukan bersama sejumlah amunisi berbagai jenis. Barang itu memperlihatkan tingkat risiko yang tidak bisa dianggap ringan.
Markus menyebut temuan senjata memberi sinyal kuat adanya aktivitas berbahaya. “Senjata ini bukan sekadar pelengkap, ada potensi ancaman serius di baliknya,” ujarnya. Situasi itu membuat operasi berkembang lebih cepat dari rencana awal tim.
Pengakuan yang Menyeret Pasutri
Setelah diamankan, ME mulai membuka alur distribusi sabu yang sedang berjalan. Ia mengaku sudah menyerahkan barang kepada pasangan AZ dan YE sebelumnya. Informasi itu langsung memicu pengejaran lanjutan di sekitar lokasi awal.
Tim bergerak menuju pondok lain yang tidak jauh dari titik pertama penangkapan. Tempat itu digunakan sebagai persinggahan pekerja, namun menyimpan rahasia berbeda. Di sanalah AZ dan YE akhirnya ditemukan tanpa banyak perlawanan berarti.
Markus menjelaskan penangkapan berlangsung cepat tanpa hambatan berarti. “Pelaku diamankan di pondok kedua, jaraknya tidak jauh dari lokasi awal,” katanya. Langkah itu menutup rantai distribusi yang sempat bergerak di wilayah tersebut.
Dari tangan YE, petugas menemukan tas berwarna mencolok yang berisi sabu. Jumlahnya mencapai 13 paket dengan total berat kotor lebih dari 100 gram. Barang itu menjadi bukti kuat keterlibatan pasangan tersebut dalam jaringan.
Sabu, Senjata, dan Amunisi
Barang bukti yang diamankan tidak hanya sabu dalam jumlah besar. Petugas juga menemukan senjata rakitan laras panjang dan laras pendek sekaligus. Amunisi berbagai kaliber turut disita dari lokasi penangkapan tersebut.
Temuan ini memberi gambaran aktivitas yang tidak sekadar transaksi narkoba biasa. Ada potensi perlindungan diri atau bahkan ancaman terhadap lingkungan sekitar. Kondisi ini membuat kasus tersebut memiliki dimensi yang lebih serius.
Markus menegaskan keterkaitan antara barang bukti dan aktivitas para pelaku. “Semua barang ini saling berkaitan dalam aktivitas mereka selama ini,” ujarnya. Pernyataan itu mempertegas bahwa jaringan kecil bisa membawa dampak besar.
Selain itu, petugas juga mengamankan telepon genggam yang diduga menjadi alat komunikasi. Perangkat itu kini menjadi kunci untuk menelusuri kemungkinan jaringan lebih luas. Setiap pesan dan kontak bisa membuka jalur baru dalam penyelidikan lanjutan.
Desa Tenang yang Tersentak
Wilayah XIII Koto Kampar dikenal dengan suasana pedesaan yang relatif tenang. Kebun Gambir dan aktivitas warga sehari-hari jarang bersentuhan dengan kasus besar. Namun, kejadian ini memecah ketenangan yang selama ini terjaga.
Penangkapan dini hari menghadirkan kejutan bagi warga sekitar lokasi kejadian. Beberapa warga sempat melihat aktivitas aparat bergerak dalam diam tanpa suara keras. Pemandangan itu meninggalkan tanda tanya yang baru terjawab setelah operasi selesai.
Markus mengingatkan ancaman narkoba bisa masuk dari celah paling kecil. “Peredaran tidak mengenal wilayah, desa pun bisa menjadi target,” katanya. Pesan ini menjadi peringatan keras bagi lingkungan yang merasa aman.
Situasi tersebut memperlihatkan pola penyebaran narkoba yang semakin fleksibel. Pelaku memanfaatkan lokasi terpencil untuk menghindari sorotan aparat dan warga. Strategi itu membuat pengungkapan menjadi tantangan tersendiri bagi penegak hukum.
Jerat Hukum dan Babak Lanjutan
Ketiga pelaku kini diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Mereka dijerat dengan pasal berat terkait narkotika dan kepemilikan senjata ilegal. Ancaman hukuman menjadi konsekuensi dari aktivitas yang mereka jalankan.
Markus memastikan proses hukum berjalan sesuai aturan yang berlaku. “Semua tersangka dan barang bukti sudah diamankan untuk penyidikan,” ujarnya.Langkah ini menjadi awal dari proses panjang menuju persidangan.
Kasus ini juga membuka kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas. Penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap jalur distribusi yang belum terpetakan. Setiap bukti baru akan mengarah pada aktor lain dalam lingkaran tersebut. R-02

