Rusia Tegas Bantah Bantu Iran Lawan AS-Israel, Kremlin Sebut “Kebohongan Besar”
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Kremlin - Moskow langsung pasang garis tegas. Kremlin membantah keras tuduhan bahwa Rusia membantu Iran dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel, menyebut laporan tersebut sebagai “kebohongan” yang sengaja disebarkan untuk mendiskreditkan posisi Moskow di panggung global.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa narasi Rusia mendukung Iran—termasuk dugaan pengiriman drone—tidak memiliki dasar fakta. Pernyataan ini muncul setelah laporan media Inggris Financial Times yang mengklaim adanya persiapan pengiriman drone dari Rusia ke Teheran.
“Ada banyak kebohongan yang disebarkan oleh media. Jangan beri mereka perhatian,” ujar Peskov, seperti dikutip Al Jazeera.
Laporan tersebut sebelumnya diperkuat oleh sejumlah pejabat intelijen Barat yang menuding Rusia sebagai salah satu pendukung utama Iran dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Rusia juga disebut tetap menjadi sekutu strategis Teheran di tengah meningkatnya eskalasi di kawasan Timur Tengah.
Namun, Kremlin memilih meredam spekulasi tersebut dan menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak mencerminkan kebijakan resmi negara.
Di sisi lain, Rusia justru tengah mengalihkan fokus diplomatiknya ke jalur lain. Pada hari yang sama, delegasi Moskow dilaporkan tiba di Amerika Serikat untuk melanjutkan pembicaraan terkait perang di Ukraina—konflik yang hingga kini belum menemukan titik terang.
Peskov mengungkapkan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah memberikan arahan langsung kepada delegasi tersebut. Langkah ini diharapkan dapat membuka kembali ruang dialog antara Moskow dan Washington yang selama ini mengalami kebuntuan.
“Kami berharap langkah-langkah tentatif ini akan berkontribusi untuk menghidupkan kembali hubungan bilateral kami,” kata Peskov.
Meski demikian, perundingan sebelumnya antara Rusia dan Amerika Serikat kerap menemui jalan buntu. Moskow masih enggan menghentikan operasi militernya di Ukraina, sementara tekanan Barat terus meningkat.
Dengan bantahan keras terhadap isu Iran dan upaya membuka jalur diplomasi dengan AS, Rusia tampak berupaya menjaga keseimbangan strategisnya di tengah pusaran konflik global yang semakin kompleks.(R-04)

