Cemburu Buta Membawa Maut! WNA Irak Habisi Cucu Mpok Nori Lalu Kabur ke Tol Merak!
Pelaku pembuhuhan pria warga negara Irak, FTJ, dan korban Dwintha Anggary, cucu Mpok Nuri. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta – Kabar duka mendalam menyelimuti jagat seni Betawi pada akhir pekan ini. Cucu tercinta mendiang Mpok Nori, Dwintha Anggary, ditemukan meninggal dunia secara sangat mengenaskan. Sabtu, 21 Maret 2026 menjadi hari kelabu bagi keluarga besar almarhumah seniman legendaris tersebut.
Jasad Dwintha terbujur kaku di rumah kontrakannya kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Luka sayatan senjata tajam pada bagian leher menjadi saksi bisu kekejaman sang pelaku. Polisi bergerak cepat mengejar sosok yang diduga kuat sebagai dalang penghilang nyawa korban.
Sosok pelaku ternyata merupakan mantan suami siri korban yang berkebangsaan Irak berinisial FTJ alias Fuad. Pelarian pria asing ini berakhir di tangan tim Resmob Polda Metro Jaya saat bersembunyi. Kini tersangka harus mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya di depan meja hijau pengadilan.
Drama Pintu Terkunci dan Jendela Maut
Suasana pagi di Gang Daman, Bambu Apus mendadak riuh rendah dengan teriakan histeris keluarga. Penemuan jasad korban bermula dari kecurigaan sang ibu yang sulit menghubungi putrinya tersebut. Padahal Dwintha memiliki tanggung jawab besar menyiapkan pesanan katering untuk pelanggan setianya.
Waktu subuh seharusnya menjadi saat paling sibuk bagi almarhumah mengolah masakan dapur. Namun pintu kontrakannya tertutup rapat tanpa ada sedikit pun suara aktivitas dari dalam. Ibu korban merasa ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi di dalam kamar tersebut.
Keluarga mencoba mengetuk pintu berkali-kali, namun tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari korban. Karena cemas, adik korban akhirnya memutuskan untuk masuk secara paksa melalui jendela yang sedikit terbuka. Pemandangan di dalam ruangan tersebut langsung membuat jantung keluarga serasa berhenti berdetak seketika.
Tubuh Dwintha sudah tergeletak tidak bernyawa dengan darah yang mulai mengering di lantai. Kunci rumah ditemukan tergeletak di atas meja, jauh dari jangkauan tangan sang korban. Nurgiyanto selaku Ketua RT setempat mengaku terkejut mendengar kabar kematian warga lingkungannya itu.
“Begitu saya di tempat kejadian, almarhumah sudah tergeletak,” ujar Nurgiyanto saat memberikan kesaksian. Polisi segera mengamankan lokasi kejadian guna melakukan olah tempat kejadian perkara secara mendalam. Garis kuning polisi melingkar rapat menutupi akses masuk ke rumah kontrakan maut tersebut.
Keluarga langsung melaporkan temuan memilukan ini ke polisi Sektor Cipayung untuk segera ditangani. Isak tangis pecah memenuhi lorong gang saat jenazah korban dibawa menuju rumah sakit. Polisi mengumpulkan sejumlah barang bukti kunci guna mengungkap tabir gelap di balik kematian ini.
Kesedihan semakin terasa karena keluarga awalnya berniat mengajak korban melaksanakan ibadah salat Id bersama. Namun, rencana indah tersebut sirna berganti dengan prosesi pemakaman yang penuh dengan cucuran air mata. Dwintha kini telah tenang menyusul sang nenek tercinta ke keabadian.
Api Cemburu Pria Irak Berujung Maut
Polisi berhasil mengungkap motif gelap yang mendasari tindakan nekat warga negara asing tersebut. Rasa cemburu buta menjadi pemicu utama Fuad tega menghabisi nyawa mantan istri sirinya sendiri. Tersangka mengaku sering merasa panas hati melihat aktivitas sosial korban yang mulai meningkat.
Hubungan asmara pasangan ini memang sudah lama retak dan sering diwarnai pertengkaran hebat. Korban sudah berulang kali meminta agar hubungan pernikahan siri mereka diakhiri secara baik-baik. Namun, tersangka menolak mentah-mentah permintaan tersebut karena masih ingin menguasai hidup korban.
Panit 2 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKP Fechy J. Ataupah, membeberkan detail pengakuan sang tersangka. Fuad merasa curiga karena korban sering berkomunikasi dengan banyak rekan kerja pria lainnya. Sikap posesif tersangka membuat kehidupan korban merasa sangat terkekang selama beberapa tahun terakhir.
"Tersangka mengaku beberapa kali memergoki korban sedang menjalin hubungan dengan pria lain," ungkap Fechy. Tuduhan cemburu ini diduga kuat hanya menjadi alasan pembenar bagi tersangka untuk berbuat kasar. Polisi terus mendalami kebenaran pengakuan tersebut lewat pemeriksaan saksi-saksi dari lingkungan kerja korban.
Diah, kakak kandung korban, menyebut bahwa Fuad adalah sosok pria yang sangat pencemburu berat. Adiknya sering dilarang berkomunikasi dengan siapa pun, seolah dunia korban hanya milik tersangka. Tekanan batin yang dialami Dwintha memuncak saat ia mulai aktif bekerja di SPPG.
Semenjak memiliki aktivitas di luar rumah, bibit konflik asmara ini semakin tumbuh subur dan liar. Tersangka sering kali terlihat mondar-mandir di depan kontrakan korban seolah sedang melakukan pengintaian rutin. Obsesi berlebihan sang mantan suami siri ini akhirnya meledak menjadi tindakan kriminal yang fatal.
Kapolres Metro Jakarta Timur, Kombes Alfian Nurrizal, menyebut tersangka tidak rela jika korban pergi menjauh. Penolakan untuk berpisah memicu emosi tersangka hingga nekat menggunakan senjata tajam jenis pisau. Luka fatal pada leher memastikan nyawa sang cucu seniman Betawi itu melayang seketika.
CCTV Rekam Jejak Berdarah Sang Mantan
Bukti kuat keterlibatan Fuad ditemukan polisi lewat rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi. Rekaman tersebut memperlihatkan aktivitas mencurigakan tersangka pada Jumat malam tepat sebelum jasad korban ditemukan. Fuad terlihat mendatangi rumah Dwintha pada tengah malam saat lingkungan mulai sepi penduduk.
Pukul 00.03 WIB, tersangka tertangkap kamera sedang berjalan santai menuju arah kontrakan korban di gang sempit. Ia tampak membawa sebuah benda panjang yang diduga kuat merupakan senjata tajam untuk menyerang korban. Gerak-geriknya sangat tenang, seolah sudah merencanakan aksi jahat ini dengan sangat matang sekali.
Hanya berselang enam menit kemudian, tepat pukul 00.09 WIB, tersangka terlihat keluar kembali dengan terburu-buru. Kali ini ia tampak berlari kencang sambil menenteng sebuah karpet untuk menutupi sesuatu. Pakaian yang ia kenakan saat keluar sudah terlihat berbeda dari pakaian saat ia datang.
“Pas keluar sudah beda baju, langsung lari, nggak nengok,” tutur Diah sambil menahan amarah mendalam. Penampilan tersangka yang menggunakan kaus hijau dan celana pendek sempat dikenali oleh warga sekitar masjid. Beberapa saksi mata melihatnya sempat melaksanakan salat subuh di masjid dekat lokasi kejadian perkara.
Polisi menggunakan rekaman visual ini untuk mengunci pergerakan tersangka yang mencoba menghilangkan jejak pelarian. Identitas WNA asal Irak ini langsung tersebar luas ke seluruh jajaran kepolisian di wilayah perbatasan. Tidak ada celah bagi Fuad untuk bersembunyi lama dari kejaran tim buser polisi.
Penyidik Subdit Resmob Polda Metro Jaya kini tengah mendalami adanya unsur perencanaan dalam kasus pembunuhan ini. Jika terbukti ada rencana awal, maka hukuman yang menanti tersangka dipastikan akan menjadi jauh lebih berat. Polisi mengumpulkan seluruh potongan rekaman CCTV dari gang-gang sekitar untuk menyusun kronologi utuh kejadian.
Fakta bahwa hanya tersangka dan korban yang memegang kunci kontrakan menjadi bukti tambahan yang sangat telak. Fuad tidak bisa lagi mengelak saat polisi menunjukkan semua bukti fisik yang ada di lapangan. Karpet yang ia bawa dalam rekaman CCTV diduga digunakan untuk membungkus senjata tajam berdarah.
Pelarian Singkat di Jalur Tol Tangerang-Merak
Setelah melakukan aksi kejinya, Fuad mencoba peruntungan dengan melarikan diri menuju wilayah Sumatra dengan bus. Ia berharap bisa menghilang di tengah keramaian penumpang bus antarkota yang melintasi jalur darat. Tersangka bahkan sudah berencana untuk terbang kembali ke negara asalnya di Irak secepat mungkin.
Namun, impian untuk lolos dari jeratan hukum Indonesia tersebut kandas di tengah jalan tol yang panjang. Tim Resmob Polda Metro Jaya berhasil mendeteksi keberadaan bus yang ditumpangi oleh tersangka dengan sangat akurat. Polisi melakukan penghadangan di rest area Tol Tangerang-Merak pada hari Minggu siang yang terik.
Proses penangkapan berlangsung cepat tanpa ada perlawanan berarti dari pria berkebangsaan asing tersebut di dalam bus. Fuad hanya bisa tertunduk lesu saat polisi memborgol kedua tangannya di depan penumpang lainnya yang terkejut. Pelarian singkatnya berakhir jauh sebelum ia sempat menyeberangi Selat Sunda menuju pelabuhan Bakauheni.
“Tersangka rencananya akan melarikan diri ke negara asalnya di Irak,” jelas AKP Fechy J. Ataupah. Polisi memastikan bahwa tersangka sudah menyiapkan sejumlah dana untuk bertahan hidup selama masa persembunyian di Sumatra. Namun, kecanggihan koordinasi antarpetugas kepolisian berhasil menggagalkan rencana pelarian internasional tersebut.
Kini FTJ telah resmi mengenakan baju tahanan berwarna oranye dan mendekam di Rutan Polda Metro Jaya. Polisi menjerat pria Irak tersebut dengan Pasal 458 subsider Pasal 468 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ancaman hukuman maksimal lima belas tahun penjara kini membayang-bayangi masa depan sang mantan suami siri.
Keluarga korban berharap hukum bisa ditegakkan dengan seadil-adilnya bagi jiwa Dwintha yang telah tiada. Meskipun pelaku warga negara asing, polisi menjamin proses hukum tetap berjalan sesuai aturan kedaulatan Indonesia. Publik terus memantau perkembangan kasus ini sebagai bentuk penghormatan bagi keluarga besar Mpok Nori.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang bahaya obsesi dan kekerasan dalam hubungan asmara yang tidak sehat. Polisi mengimbau masyarakat agar segera melapor jika mengalami intimidasi dari pasangan sebelum berujung pada tindakan fatal. Doa-doa terbaik mengalir untuk almarhumah Dwintha agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. R-02

