Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000! BI Langsung "Gembok" Aturan Beli Dolar Mulai 1 April
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Nilai tukar rupiah sedang tidak baik-baik saja saat warga asyik merayakan Lebaran. Mata uang garuda terpantau sekarat dan terus tertekan hebat hingga mendekati level psikologis ngeri Rp17.000 per dolar AS. Kondisi pasar yang sepi karena libur panjang justru dimanfaatkan spekulan di pasar luar negeri buat menggoyang kurs domestik.
Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam melihat rupiah yang terus melorot terkena hantaman sentimen global. Mulai 1 April 2026 nanti, aturan main beli valuta asing (valas) bakal diperketat habis-habisan tanpa ampun. Langkah ini bertujuan agar oknum yang hobi borong dolar cuma buat jaga-jaga berlebihan jadi sulit bergerak bebas.
BI memangkas jatah beli dolar tunai tanpa dokumen pendukung dari US$100.000 jadi cuma US$50.000 saja per bulan. Aturan ini juga berlaku buat kiriman uang valas ke luar negeri yang nilainya setara. Kebijakan ini diharapkan menjadi rem darurat saat modal asing kabur berjamaah dari pasar keuangan negara berkembang.
"Efektivitas utamanya ada pada perubahan perilaku pasar," jelas Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, saat memberikan analisisnya Jumat, 20 Maret 2026. Menurutnya, ruang buat beli dolar secara ugal-ugalan bakal makin sempit karena pengawasan kini jauh lebih ketat. Jadi, siap-siap saja buat Anda yang hobi koleksi dolar karena prosedurnya tidak lagi semudah dulu.
Harga Minyak Melejit, Rupiah Menjerit!
Pelemahan rupiah kali ini memang datang dari badai yang bertiup sangat kencang di ranah global. Eskalasi militer di Timur Tengah sukses bikin harga minyak mentah dunia terbang tinggi menembus angka US$100 per barel. Kondisi ini jadi beban ganda buat Indonesia karena biaya impor energi otomatis membengkak dan menguras cadangan devisa.
Ditambah lagi, bank sentral Amerika Serikat alias The Fed masih saja keras kepala menahan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, investor global lebih milih simpan uang di Amerika daripada taruh modal di pasar saham atau obligasi kita. Tercatat modal asing senilai US$1,1 miliar sudah kabur dari Indonesia sepanjang Maret 2026 ini saja.
Rupiah sempat terpuruk ke posisi Rp16.985 per dolar AS pada pertengahan Maret lalu karena tekanan bertubi-tubi ini. Meski pertahanan dalam negeri diperkuat, faktor eksternal memang masih jadi hantu menakutkan bagi stabilitas ekonomi nasional. Pasar kini menunggu apakah tensi politik dunia bakal mereda atau justru makin membara usai Lebaran nanti.
"Sumber utama tekanan rupiah saat ini bertiup dari ranah global," tambah Josua Pardede dengan nada waspada. Jika harga minyak tidak kunjung turun, harapan melihat rupiah balik ke level nyaman Rp16.500 terasa sangat berat. Keberhasilan utama aturan baru BI nanti setidaknya cuma buat jaga agar rupiah tidak jebol ke atas Rp17.000.
BI Siapkan Amunisi Cadangan!
Saat ini Bank Indonesia sedang dalam masa libur operasional Lebaran mulai 18 Maret sampai 24 Maret 2026 mendatang. Masa-masa sepi begini biasanya jadi celah bagi pergerakan kurs yang sangat liar di pasar gelap atau offshore. Volume perdagangan yang tipis bikin sedikit saja aksi jual dolar bisa langsung bikin rupiah anjlok sangat dalam.
Namun, masyarakat tidak perlu terlalu panik berlebihan karena BI masih punya tabungan devisa yang lumayan tebal. Cadangan devisa kita tercatat sebesar US$151,9 miliar atau setara buat biaya impor selama enam bulan lebih. Amunisi ini siap digunakan buat intervensi ganda di pasar domestik maupun luar negeri jika situasi makin gawat.
BI juga menaikkan batas transaksi lindung nilai dari US$5 juta jadi US$10 juta agar pelaku usaha tidak panik. Harapannya, kebutuhan dolar para pengusaha tidak semua menumpuk di pasar spot yang bisa bikin kurs meledak tiba-tiba. Penguatan rupiah secara tajam mungkin sulit terjadi dalam waktu dekat, tapi setidaknya stabilitas tetap dijaga ketat.
"Keberhasilan BI adalah mencegah rupiah tembus jauh di atas Rp17.000," ungkap Josua menutup keterangannya secara ringkas. Sekarang tinggal masalah waktu melihat sejauh mana aturan baru ini mampu menahan laju dolar yang makin perkasa. Tetap waspada terhadap lonjakan kurs saat pasar lokal kembali buka secara normal pekan depan. R-02

