Misteri Pompong Hantam Jembatan di Kepulauan Meranti, Reno Ditemukan Tak Bernyawa di Dalam Perahu Kayu
Reno (41), warga Desa Lemang, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah kapal pompong yang dikemudikannya menabrak jembatan kayu di kawasan tersebut, Kamis pagi (19/3/2026). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Pagi itu, aliran Sungai Perumbi tampak seperti biasa yakni tenang, mengalir pelan di antara aktivitas warga Desa Maini, Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Namun siapa sangka, di balik ketenangan itu, sebuah peristiwa nahas terjadi dan menyisakan duka mendalam.
Seorang pria bernama Reno (41), warga Desa Lemang, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa setelah kapal pompong yang dikemudikannya menabrak jembatan kayu di kawasan tersebut, Kamis pagi (19/3/2026).
Kabar duka ini dibenarkan oleh Kapolsek Tebing Tinggi Barat, Ipda Dominikus Turnip, mewakili Kapolres Kepulauan Meranti. Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 WIB, saat warga bersama pihak kepolisian mendatangi lokasi kejadian.
“Sebuah kapal pompong diketahui menabrak jembatan bangsal arang di Desa Maini, dan setelah dilakukan pengecekan oleh Bhabinkamtibmas serta warga, korban ditemukan sudah dalam posisi terlungkup dan tidak ada denyut nadi,” ujarnya.
Di lokasi kejadian, tepatnya di belakang pabrik arang milik seorang warga bernama Awi, kapal yang dikemudikan korban tampak telah menghantam jembatan kayu. Benturan itu diduga cukup keras hingga membuat korban terjatuh dan kehilangan nyawa.
Suasana pagi yang biasanya dipenuhi aktivitas warga mendadak berubah menjadi kepanikan. Beberapa warga bersama pihak kepolisian
yang pertama kali melihat kejadian itu segera berupaya memberikan pertolongan, namun takdir berkata lain.
Korban kemudian dievakuasi oleh aparat desa bersama personel Polsek Tebing Tinggi Barat. Dengan penuh kehati-hatian, jenazah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum, sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga.
“Kemudian pihak desa dan Polsek mengevakuasi beliau untuk dibawa ke RSUD guna dilakukan visum, dan selanjutnya telah kami serahkan kepada keluarga untuk dimakamkan,” tambah Ipda Dominikus Turnip.
Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih menjadi tanda tanya. Pihak kepolisian belum dapat memastikan apakah insiden tersebut dipicu oleh kelelahan, kondisi cuaca, atau faktor lainnya yang terjadi saat korban mengemudikan pompongnya di perairan tersebut.
“Kalau penyebab tabrakan kita belum dapat memastikan, apakah karena ngantuk atau angin kencang, masih dalam pendalaman,” ungkapnya.
Jenazah korban kini telah dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Lemang, Kecamatan Rangsang Barat. Di sana, keluarga menyambut dengan duka yang mendalam, namun juga dengan keikhlasan menerima takdir yang telah digariskan.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang sunyi namun tegas bagi masyarakat, khususnya para pengguna transportasi air. Bahwa di balik rutinitas yang tampak biasa, selalu ada risiko yang mengintai. Kewaspadaan, kondisi fisik, serta cuaca menjadi hal-hal yang tak boleh diabaikan, karena keselamatan adalah hal paling berharga yang harus dijaga dalam setiap perjalanan. (R-01)

