Mudik 2026
Kabut Asap Tebal Selimuti Jalur Riau–Sumut, Jarak Pandang Pemudik Hanya 10 Meter
Petugas berusaha memadamkan kebakaran lahan. (ist)
SABANGMERAUKE NEWS, Rohil - Perjalanan mudik di jalur lintas Sumatera mendadak berubah mencekam. Kabut asap tebal muncul dari kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti jalan lintas Riau-Sumatera Utara. Kendaraan bergerak pelan seperti meraba jalan dalam kabut. Pengendara hanya bisa melihat beberapa meter di depan.
Asap pekat menyelimuti ruas jalan di Desa Rantau Bais, Kecamatan Tanah Putih, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Jalur tersebut menjadi akses utama menuju Sumatera Utara. Kepulan asap membuat jarak pandang pengendara turun drastis.
Arus kendaraan sempat melambat bahkan nyaris berhenti. Jalur ini biasanya ramai kendaraan pribadi, bus antarkota, serta truk logistik. Kondisi makin terasa menegangkan karena momen mudik Lebaran mulai meningkat.
Salah satu pemudik yang merasakan langsung kondisi tersebut adalah Arifin, warga Pekanbaru. Ia sedang melakukan perjalanan bersama keluarga menuju kampung halaman di Medan. Perjalanan yang semula lancar berubah penuh kewaspadaan. “Asap karhutla pekat sekali di jalan. Jarak pandang hanya sekitar 10 meter,” kata Arifin melalui sambungan telepon.
Ia mengatakan kabut asap menutupi jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer. Kendaraan harus berjalan sangat pelan. Lampu kendaraan bahkan harus dinyalakan agar terlihat pengendara lain. “Saya hidupkan lampu hazard supaya kendaraan dari arah berlawanan bisa melihat mobil kami,” ujar Arifin.
Arifin juga melihat titik api tidak jauh dari badan jalan. Kepulan asap hitam terlihat membumbung lalu terbawa angin menuju jalan lintas. Kondisi tersebut membuat perjalanan terasa seperti melewati lorong asap.
Kabut Asap Tutupi Jalur Mudik
Kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut diperkirakan melahap area sekitar 20 hektare. Lahan yang terbakar terdiri dari kebun kelapa sawit milik warga serta lahan gambut kosong. Karakter lahan gambut membuat api mudah menyebar dan menghasilkan asap tebal.
Kabut asap yang terbawa angin langsung menuju jalur lintas Sumatera. Jalan utama itu berubah seperti tertutup tirai asap. Pengendara harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan.
Sejumlah kendaraan memilih menurunkan kecepatan drastis. Sebagian pengemudi menyalakan lampu hazard untuk memberi tanda keberadaan kendaraan. Situasi tersebut membuat arus lalu lintas bergerak lambat.
Jalur ini merupakan salah satu rute favorit pemudik dari Riau menuju Sumatera Utara. Setiap musim Lebaran ribuan kendaraan melintas setiap hari. Gangguan asap berpotensi menimbulkan risiko besar bagi keselamatan pengendara.
Arifin mengaku titik api masih terlihat tidak jauh dari badan jalan. Kepulan asap tebal yang terbawa angin mengarah langsung ke jalur lintas sehingga mengganggu perjalanan kendaraan yang melintas. “Harus cepat ditangani. Banyak pemudik lewat jalur ini,” ujarnya.
Selain itu, Arifin juga menyoroti kendaraan angkutan berat yang masih melintas, seperti truk tangki CPO, truk pengangkut sawit dan lainnya. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan larangan truk berat melintas per tanggal 13 Maret 2026. "Kondisi itu membuat lalu lintas semakin padat," tukasnya.
Polisi Lakukan Pendinginan Lahan
Kapolsek Tanah Putih, Yudi Indranaldi, membenarkan kejadian kebakaran lahan tersebut. Tim gabungan langsung bergerak ke lokasi setelah laporan kebakaran muncul. Api berhasil dikendalikan setelah proses pemadaman berlangsung. “Kemarin asapnya sangat tebal di jalan. Sekarang kondisi mulai normal,” kata Yudi.
Tim gabungan masih berada di lokasi untuk melakukan pendinginan lahan. Langkah ini bertujuan mencegah api kembali muncul. Asap dari sisa pembakaran masih terlihat di beberapa titik.
Kebakaran lahan di Rokan Hilir bukan satu-satunya kejadian di Provinsi Riau. Sejumlah wilayah lain juga mengalami peristiwa serupa dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini kembali mengingatkan ancaman karhutla yang rutin muncul setiap musim kemarau.
Wilayah yang dilaporkan mengalami kebakaran antara lain Dumai, Pelalawan, Siak, Bengkalis, Indragiri Hilir, serta Kampar.
Karhutla sering memicu kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Dampaknya tidak hanya terasa pada kesehatan. Transportasi darat, laut, bahkan udara sering mengalami gangguan saat asap menyelimuti wilayah.
Di tengah arus mudik yang mulai meningkat, kondisi tersebut menjadi perhatian serius. Jalur lintas Sumatera merupakan salah satu jalur transportasi terpenting di pulau ini. Gangguan asap dapat memicu risiko kecelakaan jika tidak ditangani cepat.
Petugas terus melakukan pemantauan di lokasi kebakaran. Proses pendinginan dilakukan agar api tidak kembali muncul dari dalam tanah gambut. Asap perlahan mulai menipis meski bau hangus masih terasa di udara.
Perjalanan mudik tetap berlangsung di jalur tersebut. Kendaraan masih melintas perlahan di antara sisa kabut asap. Para pengendara berharap perjalanan panjang menuju kampung halaman tetap berakhir selamat. R-02

