Karhutla Menggila di Teluk Meranti, Hutan Habitat Harimau Sumatera Terbakar
Ilustrasi Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantam kawasan gambut di Kabupaten Pelalawan. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantam kawasan gambut di Kabupaten Pelalawan. Belasan hektar lahan gambut di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti dilaporkan terbakar hebat dan hingga kini belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Kebakaran yang sudah memasuki hari kelima itu bukan hanya mengancam lingkungan, tetapi juga mengkhawatirkan karena berada di kawasan yang menjadi habitat penting bagi Harimau Sumatera.
Api yang awalnya terdeteksi di lahan gambut Desa Pulau Muda kini terus merambat. Kobaran api bahkan dilaporkan meluas hingga ke Desa Pangkalan Tarap dan Kelurahan Gambut Mutiara. Kondisi tanah gambut yang mudah terbakar membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dibanding kebakaran hutan biasa.
Komandan Regu Manggala Agni Daops Rengat, Rio M Tambunan, mengatakan tim gabungan masih terus berjibaku di lapangan untuk mengendalikan api. Menurutnya, kebakaran di lahan gambut memiliki karakteristik unik karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit terdeteksi.
“Lokasi kebakaran ini merupakan kantong habitat Harimau Sumatera. Sampai saat ini api masih belum sepenuhnya berhasil dikendalikan,” ujar Rio, Sabtu (14/3/2026).
Ia menjelaskan, pemadaman melibatkan berbagai unsur, mulai dari tim Manggala Agni Sumatera VII Rengat, relawan dari perusahaan sekitar, hingga kelompok masyarakat peduli api (MPA). Selain itu, dukungan juga datang dari tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang turut melakukan pemadaman serta membuat sekat kanal untuk menghentikan laju api.
Kebakaran lahan gambut memang dikenal sangat sulit dipadamkan. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat menyusup ke lapisan gambut yang kering hingga kedalaman tertentu. Akibatnya, meski api di permukaan terlihat padam, bara api di dalam tanah masih bisa menyala dan kembali memicu kebakaran.
Selain ancaman kerusakan lingkungan, kebakaran ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kelangsungan hidup satwa liar, terutama Harimau Sumatera. Satwa endemik yang statusnya terancam punah tersebut diketahui masih memiliki populasi di kawasan hutan rawa gambut Pelalawan.
Para pemerhati lingkungan menyebutkan bahwa kawasan Teluk Meranti dan sekitarnya merupakan jalur jelajah penting bagi Harimau Sumatera. Jika habitat ini rusak akibat kebakaran, maka satwa tersebut berpotensi kehilangan tempat berburu dan berkembang biak.
Situasi ini juga dapat memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Ketika habitat alami mereka rusak atau terbakar, harimau bisa saja keluar dari kawasan hutan dan mendekati permukiman warga untuk mencari makan.
“Jika hutan terbakar, rantai makanan juga ikut terganggu. Satwa mangsa seperti rusa atau babi hutan bisa pergi dari kawasan tersebut, sehingga harimau berpotensi berpindah ke area lain yang lebih dekat dengan manusia,” ujar seorang aktivis lingkungan di Riau.
Sementara itu, tim pemadam terus berupaya mengendalikan titik api dengan berbagai metode. Selain melakukan penyemprotan air menggunakan pompa bertekanan tinggi, petugas juga membuat jalur isolasi api agar kobaran tidak meluas ke area hutan lainnya.
Di beberapa titik, tim juga melakukan pembasahan lahan gambut untuk mencegah api menyebar melalui lapisan tanah. Cara ini dinilai cukup efektif meskipun membutuhkan waktu dan tenaga yang besar.
Masyarakat sekitar juga ikut dilibatkan dalam upaya pemadaman. Kelompok masyarakat peduli api berperan membantu petugas memantau titik panas serta melakukan penanganan awal apabila muncul api baru di sekitar wilayah desa.
Kondisi cuaca yang panas dan kering dalam beberapa hari terakhir turut memperparah situasi. Tanah gambut yang kehilangan kelembapan menjadi sangat mudah terbakar, bahkan hanya oleh percikan kecil.
Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Aktivitas tersebut sering menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau setiap musim kemarau.
Selain itu, warga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api baru agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum api membesar.
Hingga kini, tim gabungan masih terus bekerja di lapangan untuk memastikan api tidak meluas lebih jauh. Fokus utama pemadaman saat ini berada di Desa Pulau Muda, Kelurahan Gambut Mutiara, serta Desa Pangkalan Tarap yang menjadi wilayah paling terdampak.
Rio menegaskan bahwa upaya pemadaman akan terus dilakukan hingga seluruh titik api benar-benar padam. Pihaknya juga meningkatkan patroli untuk mengantisipasi munculnya kebakaran baru di kawasan sekitar.
Karhutla di lahan gambut tidak hanya meninggalkan kerusakan hutan, tetapi juga berpotensi memicu kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian kebakaran menjadi prioritas utama agar dampaknya tidak semakin meluas.
Di tengah perjuangan memadamkan api, harapan besar muncul agar kawasan hutan gambut Pelalawan tetap bisa diselamatkan—bukan hanya demi lingkungan, tetapi juga demi kelangsungan hidup Harimau Sumatera yang menjadi simbol keanekaragaman hayati Indonesia. (R-03)

