Panen Cuan atau Cemas? Harga Sawit Terus Meroket Tiga Hari Beruntun
Ilustrasi kenaikan harga CPO akibat gejolak perang. (ai)
SABANGMERAUKE NEWS, Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatatkan rekor penguatan signifikan dalam tiga hari terakhir. Komoditas ini melanjutkan tren positif selama dua pekan beruntun di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama kenaikan harga CPO tersebut. Gangguan pasokan di kawasan Teluk memaksa pasar global mencari alternatif energi, sehingga permintaan terhadap bahan baku biodiesel berbahan dasar sawit melonjak drastis.
Data terbaru dari BMD pada penutupan Kamis, 12 Maret 2026, menunjukkan kontrak berjangka CPO untuk Maret 2026 melonjak 100 Ringgit Malaysia menjadi 4.525 Ringgit per ton. Kenaikan serupa juga menyasar kontrak pengiriman bulan-bulan berikutnya hingga Agustus 2026 dengan margin penguatan yang konsisten.
Secara mingguan, harga CPO tercatat melesat 4,69%. Pergerakan ini didorong aksi beli besar-besaran pada Senin lalu yang menjadi kenaikan harian terbesar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. "Harga minyak sawit sangat bergantung pada pergerakan harga minyak nabati pesaing serta sentimen energi global," ungkap salah satu analis pasar komoditas.
Dinamika ini juga dipengaruhi oleh kebijakan di negara produsen utama. Pemerintah Malaysia telah menaikkan harga referensi minyak sawit untuk April, yang secara otomatis meningkatkan bea ekspor menjadi 9,5%.
Sementara itu, permintaan dari pasar luar negeri tetap terjaga meski harga melambung tinggi. Impor minyak sawit India dilaporkan melonjak 11% pada Februari ke level tertinggi dalam enam bulan.
Para pengolah minyak di India memilih meningkatkan pembelian sawit karena penawaran diskon dibandingkan minyak nabati lainnya. Strategi ini menjadi langkah efisien bagi kilang-kilang di sana untuk menekan biaya operasional.
Di dalam negeri, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) kini tengah mengawal percepatan pengembangan biodiesel. Uji jalan untuk campuran biodiesel B50 ditargetkan tuntas sekitar Juni atau Juli 2026 guna mengantisipasi kebutuhan energi yang terus meningkat.
Sektor produksi sawit nasional sendiri masih menunjukkan stabilitas yang kuat. Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat total produksi CPO Indonesia mencapai 51,66 juta ton sepanjang 2025.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 7,3% dibandingkan tahun sebelumnya, meski tantangan efisiensi terus membayangi. Keberhasilan menjaga tingkat produksi ini sangat krusial bagi ketahanan pasokan di tengah volatilitas harga pasar dunia.
Hingga saat ini, pasar masih memantau perkembangan konflik di Timur Tengah sebagai penentu arah harga selanjutnya. Upaya dari Amerika Serikat dan International Energy Agency (IEA) untuk meredakan ketegangan pasokan sejauh ini belum mampu meredam kekhawatiran para pelaku pasar.
Para investor kini lebih berhati-hati menimbang potensi gangguan pasokan yang lebih besar jika eskalasi perang terus meluas. Kondisi tersebut diprediksi bakal tetap menjadi motor penggerak utama fluktuasi harga komoditas nabati di masa mendatang. R-02

