Drama Ijazah Jokowi Berbalik Arah: Rismon Sianipar Minta Maaf, Gibran Ajak Publik Saling Memaafkan
Rismon Hasiholan Sianipar menyampaikan permintaan maaf atas kasus dugaan ijazah palsu Jokowi. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menanggapi langkah peneliti Rismon Sianipar yang menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo terkait polemik penelitian dalam buku Jokowi’s White Paper.
Gibran menilai permintaan maaf tersebut sebagai langkah positif, terlebih disampaikan di tengah momentum bulan Ramadan yang identik dengan semangat rekonsiliasi dan saling memaafkan.
“Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” ujar Gibran dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis malam.
Apresiasi Sikap Klarifikasi
Menurut Gibran, sikap Rismon yang memberikan klarifikasi sekaligus kesediaannya meninjau ulang pernyataan sebelumnya menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi.
Wapres menilai langkah tersebut penting untuk menjaga ruang diskusi publik tetap sehat dan berbasis pada tanggung jawab ilmiah.
Polemik ini bermula dari penelitian yang dituangkan Rismon dalam buku Jokowi’s White Paper, yang sempat memunculkan kontroversi mengenai keaslian ijazah Jokowi.
Namun dalam perkembangan terbaru, Rismon mengaku menemukan sejumlah fakta baru setelah melanjutkan penelitiannya.
Rismon Datangi Kediaman Jokowi
Sebelumnya, Rismon mendatangi kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah, untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
Ia menjelaskan bahwa dalam dua bulan terakhir dirinya melakukan peninjauan ulang terhadap metodologi penelitian yang dituangkan dalam bukunya. Dari lebih dari 700 halaman buku tersebut, sekitar 480 halaman di antaranya membahas metodologi penelitian yang ia susun secara independen.
Menurut Rismon, kajian ulang tersebut menghasilkan temuan baru yang ia klaim dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademik.
Salah satu aspek yang diteliti kembali adalah fitur pada ijazah Jokowi, seperti emboss, watermark, hingga ketiadaan hologram.
“Dari fitur-fitur tersebut, saya meyakini tidak ada kejanggalan terhadap keaslian ijazah tersebut,” kata Rismon usai pertemuan dengan Jokowi.
Permintaan Maaf kepada Jokowi dan Publik
Rismon mengakui temuan barunya berpotensi menimbulkan kritik dari berbagai pihak. Meski demikian, ia menegaskan penelitian harus tetap disampaikan secara jujur.
Dalam kesempatan itu, ia juga meminta maaf kepada Jokowi dan masyarakat atas polemik yang terjadi.
“Ya tentu saya minta maaf kepada publik, apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itu bagian dari tanggung jawab seorang peneliti yang harus independen,” ujarnya.
Kasus ini sebelumnya juga menyeret Rismon ke proses hukum atas dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu terhadap Jokowi. Namun dengan adanya klarifikasi dan permintaan maaf tersebut, polemik yang sempat memanas di ruang publik diharapkan mereda.(R-04)

