Perang Timur Tengah Memanas! Harga Minyak Dunia Tembus US$100 per Barel, Pasar Global Bergetar
Ilustrasi minyak dunia. Foto: Dok SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Jakarta – Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai mengguncang pasar energi global. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah mendorong harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus US$100 per barel, level tertinggi sejak krisis energi akibat perang Rusia dan Ukraina pada 2022.
Lonjakan terjadi pada perdagangan Minggu (8/3) di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Wilayah ini merupakan salah satu pusat produksi energi global sehingga setiap eskalasi konflik langsung memicu gejolak di pasar komoditas.
Harga minyak mentah acuan Brent crude oil tercatat naik 12,63 persen menjadi sekitar US$104 per barel. Sementara minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate crude oil, melonjak 14,7 persen.
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar bahwa konflik militer dapat meluas dan mengganggu jalur distribusi energi utama di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Gangguan di Selat Hormuz
Salah satu titik paling krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Seorang pejabat senior Iran menyatakan konflik telah memasuki “fase baru” setelah serangan Israel. Ia memberi sinyal bahwa Iran dapat melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut dalam waktu dekat.
“Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai target yang diinginkan tercapai,” kata pejabat tersebut.
Ancaman terhadap jalur pelayaran ini memicu kekhawatiran pasar global. Jika arus kapal tanker minyak terganggu, pasokan energi dunia berpotensi terhambat dan mendorong harga minyak semakin tinggi.
Pemerintah AS Coba Redakan Pasar
Di tengah lonjakan harga energi, pemerintahan Donald Trump berupaya menenangkan pasar. Dalam wawancara dengan ABC News, Trump menyebut lonjakan harga bensin hanya sebagai “gangguan kecil” dan menilai kenaikan harga minyak sebagai dampak sementara dari konflik geopolitik.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan pemerintah Amerika tidak berencana menyerang industri minyak Iran maupun fasilitas energi lainnya.
Namun, pasar tetap mewaspadai risiko eskalasi konflik yang dapat memicu gangguan pasokan energi global dan mendorong inflasi, terutama di Amerika Serikat.
Dampak ke Ekonomi Indonesia
Lonjakan harga minyak dunia juga berpotensi menekan kondisi fiskal Indonesia. Pemerintah telah melakukan simulasi risiko terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 jika harga minyak global terus meningkat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan stress test terhadap skenario lonjakan harga minyak.
Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, tekanan terhadap fiskal dapat meningkat apabila rata-rata harga minyak dunia mencapai US$92 per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN yang ditetapkan sekitar US$60 per barel.
Dalam skenario tersebut, defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Eskalasi konflik di Timur Tengah menunjukkan bagaimana ketegangan geopolitik dapat dengan cepat mengguncang pasar energi global. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur distribusi minyak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara produsen, tetapi juga ekonomi dunia secara keseluruhan. (R-03)

