Hidung Offside! Drama VAR Warnai Kekalahan Memalukan Tottenham dari Crystal Palace
Jørgen Strand Larsen merayakan golnya ke gawang Tottenham Hotspurs. (PA Wire)
SABANGMERAUKENEWS, London - Malam kelam menyelimuti markas Tottenham Hotspur. Bermain di depan pendukung sendiri, Spurs justru dipaksa menyerah 1-3 oleh Crystal Palace dalam laga Premier League, Jumat (6/3/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini membuat Tottenham semakin dekat dengan zona degradasi.
Hasil buruk itu menempatkan Tottenham di posisi ke-16 klasemen sementara dengan 29 poin. Jarak mereka hanya satu angka dari batas zona merah yang menjadi momok bagi klub besar Inggris. Situasi ini membuat tekanan terhadap tim London Utara tersebut semakin besar.
Crystal Palace justru tampil lebih efektif sepanjang pertandingan. Tim tamu memanfaatkan kesalahan lawan dan situasi dramatis di babak pertama untuk mengunci kemenangan penting di kandang Spurs.
Drama VAR dan Gol Kontroversial
Pertandingan sudah memanas sejak babak pertama dimulai. Crystal Palace sempat mencetak gol lebih dulu melalui Ismaila Sarr pada menit ke-29 setelah menerima umpan dari rekannya. Namun gol tersebut dianulir setelah tinjauan Video Assistant Referee. Keputusan unik muncul ketika VAR menyatakan wajah Sarr, tepatnya bagian hidung, berada dalam posisi offside.
Keputusan itu langsung memancing reaksi luas di media sosial. Banyak penggemar sepak bola menganggap momen tersebut sebagai salah satu keputusan offside paling unik musim ini. Tak sedikit pula warganet yang bercanda dengan mengedit foto wajah Sarr tanpa hidung. Perdebatan soal teknologi VAR kembali muncul setelah keputusan yang sangat detail tersebut.
Setelah gol Palace dianulir, Tottenham justru berhasil mencuri keunggulan lebih dulu. Penyerang Dominic Solanke mencetak gol pada menit ke-34. Solanke memanfaatkan umpan tarik dari Archie Gray yang mengirim bola ke dalam kotak penalti. Tanpa kesulitan berarti, Solanke menyambar bola dan membawa tuan rumah unggul 1-0.
Stadion sempat bergemuruh merayakan gol tersebut. Pendukung Spurs berharap momentum itu bisa menjadi titik balik performa tim mereka. Namun keunggulan tersebut ternyata tidak bertahan lama. Crystal Palace segera menemukan cara untuk membalikkan keadaan.
Penalti dan Kartu Merah yang Mengubah Laga
Petaka bagi Tottenham datang pada menit ke-40. Bek Micky van de Ven melakukan pelanggaran terhadap Sarr di dalam kotak penalti. Wasit langsung menunjuk titik putih. Situasi itu juga membuat Van de Ven diganjar kartu merah karena dianggap menggagalkan peluang emas lawan.
Sarr maju sebagai eksekutor penalti. Pemain asal Senegal itu mengeksekusi bola dengan tenang dan sukses mengecoh kiper Guglielmo Vicario. Skor berubah menjadi 1-1 dan momentum pertandingan langsung berbalik. Bermain dengan 10 pemain membuat Tottenham semakin tertekan. “Penalti itu memberi kami kepercayaan diri,” ujar Sarr singkat setelah pertandingan.
Drama belum berhenti sampai di situ. Menjelang akhir babak pertama, lini belakang Tottenham membuat kesalahan fatal. Gelandang Adam Wharton berhasil mencuri bola dari kesalahan pemain Spurs. Ia lalu mengirim umpan matang kepada Jørgen Strand Larsen.
Strand Larsen tidak menyia-nyiakan peluang tersebut. Tendangan akuratnya membawa Crystal Palace berbalik memimpin 2-1 tepat di masa injury time babak pertama. Gol itu membuat suasana stadion mendadak sunyi. Tottenham yang sebelumnya unggul kini justru tertinggal.
Ismaila Sarr Mengunci Kemenangan
Petaka Tottenham semakin lengkap beberapa menit kemudian. Crystal Palace kembali mencetak gol saat babak pertama memasuki tambahan waktu delapan menit. Wharton kembali berperan penting dalam proses gol tersebut. Ia mengirim umpan terukur yang diterima Sarr di dalam kotak penalti.
Sarr dengan tenang menghadapi Vicario sebelum menuntaskan peluang tersebut menjadi gol. Skor berubah menjadi 3-1 untuk keunggulan Crystal Palace.Gol itu sekaligus menjadi pukulan telak bagi tuan rumah. Babak pertama berakhir dengan keunggulan nyaman bagi tim tamu.
Memasuki babak kedua, Tottenham mencoba bangkit meski bermain dengan 10 pemain. Tim tuan rumah berusaha menekan sejak menit awal. Setidaknya ada tiga peluang yang diciptakan oleh pasukan Spurs. Namun tidak satu pun percobaan tersebut benar-benar mengancam gawang lawan.
Crystal Palace memilih bermain lebih sabar dan fokus menjaga keunggulan. Strategi itu terbukti efektif karena Tottenham kesulitan menembus pertahanan mereka. Meski terus berusaha, tidak ada gol tambahan hingga peluit panjang berbunyi. Crystal Palace pun pulang dengan kemenangan 3-1 yang sangat berharga.
Spurs Terjebak di Papan Bawah
Kekalahan ini membuat Tottenham semakin terpuruk di klasemen. Mereka kini berada di posisi ke-16 dengan 29 poin. Jarak dengan zona degradasi hanya satu angka. Situasi itu membuat setiap pertandingan berikutnya menjadi sangat krusial bagi Spurs.
Sebaliknya, kemenangan ini membawa Crystal Palace naik ke posisi ke-13 klasemen dengan 38 poin. Hasil tersebut memberi mereka jarak aman dari ancaman degradasi.
Musim yang sulit bagi Tottenham tampaknya belum berakhir. Jika performa tidak segera membaik, ancaman turun kasta bisa menjadi kenyataan pahit bagi klub London Utara tersebut. (R-02)

