Video Pelecehan Siswi SMA Bikin Kadisdik Riau Geram: “Ini Harus Diproses Hukum!”
Ilustrasi pelecehan siswa SMA di Pekanbaru (ai)
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Sebuah video singkat membuat pejabat pendidikan di Riau terpaku. Isinya mengiris hati: seorang siswi SMA diduga menjadi korban pelecehan oleh gurunya sendiri. Dinas Pendidikan Provinsi Riau langsung bergerak setelah kasus itu mencuat dan memicu kemarahan publik.
Kepala Dinas Pendidikan Riau, Erisman Yahya, meminta insiden tersebut diusut hingga tuntas. Ia menegaskan sekolah tidak boleh menutup mata terhadap dugaan kekerasan seksual yang melibatkan tenaga pendidik.
“Kepala sekolah mengakui peristiwa itu terjadi. Saya sudah minta laporan tertulis dari pihak sekolah,” kata Erisman, Kamis, di Pekanbaru, Kamis (5/3/2026).
Kasus ini langsung memicu perhatian serius pemerintah daerah. Dunia pendidikan di Riau kembali dipertanyakan: bagaimana ruang sekolah yang seharusnya aman justru menjadi tempat yang menakutkan bagi siswa.
Erisman mengaku terpukul setelah melihat rekaman video yang beredar terkait kasus tersebut. Video itu memperlihatkan dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan seorang guru terhadap siswinya sendiri.
Rekaman itu membuatnya sulit menerima kenyataan yang terjadi di lingkungan pendidikan. “Saya sangat tidak habis pikir. Ini dilakukan oleh seorang guru kepada siswinya sendiri,” ujar Erisman.
Menurutnya, peristiwa tersebut harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Tidak boleh ada kompromi jika menyangkut keselamatan anak. Ia meminta kepala sekolah segera melaporkan kasus tersebut secara resmi ke Dinas Pendidikan.
Laporan itu juga harus ditembuskan ke Inspektorat serta Badan Kepegawaian Daerah untuk proses pemeriksaan dan kemungkinan sanksi. “Kami minta laporan lengkap. Kasus ini harus diproses sesuai aturan,” ujarnya.
Disdik Turunkan Tim Pendamping
Di balik ramainya perbincangan publik, kondisi korban menjadi perhatian utama. Siswi kelas II SMA berusia 17 tahun itu disebut mengalami trauma berat setelah kejadian tersebut. Korban bahkan sempat menolak kembali ke sekolah.
Situasi ini membuat Dinas Pendidikan memutuskan menurunkan tim khusus untuk memberikan pendampingan. “Kami akan menurunkan tim untuk mendampingi korban,” kata Erisman.
Pendampingan tersebut meliputi dukungan psikologis serta perlindungan agar korban tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa tekanan.Pihak sekolah juga diminta memastikan tidak ada intimidasi terhadap korban. “Yang terpenting sekarang keselamatan dan pemulihan korban,” ujarnya.
Kronologi Dugaan Pelecehan
Kasus ini bermula dari laporan seorang siswi SMA yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual oleh gurunya sendiri. Peristiwa itu terjadi saat kegiatan sekolah berlangsung di Mandau, Kabupaten Bengkalis.
Saat waktu istirahat, korban tertidur di dalam mobil. Di saat itulah guru berinisial SA diduga datang mendekat.
Korban yang sedang tertidur tidak menyadari ketika tubuhnya dielus dan dicium. Tindakan tersebut bahkan disebut direkam. Kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi korban.
Aktivis Perempuan Turun Tangan
Kasus tersebut kemudian sampai ke telinga aktivis perlindungan perempuan dan anak di Riau. Wakil Ketua Umum DPP Cipta Germas PPA Riau, Rika Parlina, mengaku menerima langsung laporan dari korban. Korban datang bersama kakaknya untuk meminta bantuan. “Korban dan abangnya datang ke kantor meminta pendampingan,” kata Rika.
Mereka mengaku sudah mencoba melapor ke polisi dan unit perlindungan perempuan dan anak. Namun menurut Rika, respons yang diterima saat itu belum memuaskan. Hal itu membuat dirinya memutuskan turun langsung membantu korban.
Klarifikasi Sekolah Memicu Kemarahan
Rika kemudian mendatangi sekolah tempat guru tersebut mengajar untuk meminta klarifikasi. Namun respons yang ia dapat justru membuatnya geram.
Menurutnya, kepala sekolah mengakui kejadian tersebut. Tetapi peristiwa itu dianggap sebagai kesalahan pribadi sang guru. “Kepala sekolah bilang gurunya hanya khilaf,” kata Rika.
Ucapan tersebut membuat Rika marah. Ia menilai tindakan pelecehan tidak bisa dianggap sekadar kesalahan kecil. “Ini bukan soal khilaf. Ini menyangkut keselamatan anak,” ujarnya.
Rika juga meminta pihak sekolah segera mengambil langkah tegas. Guru yang diduga melakukan pelecehan seharusnya tidak lagi mengajar selama proses pemeriksaan berlangsung. Menurutnya, hal ini penting untuk melindungi siswa lain.
Ia juga mengungkapkan adanya dugaan komunikasi tidak pantas antara guru tersebut dengan beberapa siswa melalui pesan malam hari. “Saya minta guru ini tidak diberi mengajar dulu,” kata Rika.
Sekolah Harus Jadi Tempat Aman
Kasus ini kembali membuka luka lama tentang keamanan di lingkungan sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi ruang belajar yang aman justru berubah menjadi tempat yang menakutkan bagi sebagian siswa.
Pemerintah berharap kasus ini menjadi peringatan bagi semua pihak. Sekolah harus memperkuat sistem perlindungan anak. Guru juga diingatkan untuk menjaga integritas dan etika profesi. “Lingkungan pendidikan harus aman bagi siswa,” kata Erisman.
Ia memastikan kasus ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja. Pemerintah, sekolah, dan aparat penegak hukum diminta bergerak bersama agar keadilan bagi korban benar-benar terwujud. (R-0

