Efek Perang Air dan Gemerlap Lampion, Arus Mudik Imlek Meledak: 11.607 Penumpang Tiba, Ratusan Kamar Hotel di Selatpanjang Sold Out
Kunjungan Imlek ke Selatpanjang, Kepulauan Meranti pada Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026 kali ini kembali menjanjikan pengalaman budaya yang unik dan tak terlupakan. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Air beterbangan di udara, tawa pecah di setiap sudut jalan, sementara becak motor melaju pelan membawa “pasukan” bersenjata ember dan pistol air. Begitulah gambaran wajah Selatpanjang setiap tahunnya saat Imlek tiba—riuh, basah, dan penuh sukacita.
Kunjungan Imlek ke Selatpanjang, Kepulauan Meranti pada Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026 kali ini kembali menjanjikan pengalaman budaya yang unik dan tak terlupakan. Puncaknya adalah Festival Perang Air yang digelar selama sepekan, sekitar 17 hingga 22 Februari 2026. Tradisi khas yang telah mendunia ini bahkan telah masuk dalam kalender pariwisata nasional Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, menegaskan posisinya sebagai salah satu event budaya unggulan Indonesia.
Perang Air atau Cian Cui bukan sekadar tradisi saling menyiram air. Ia telah menjelma menjadi atraksi budaya yang memikat. Konvoi becak motor yang menjadi ikon transportasi khas Selatpanjang dan dipenuhi beberapa orang di atasnya, bergerak menyusuri jalan protokol. Dari atas becak, mereka menyiramkan air ke arah warga dan pengunjung yang telah bersiap di pinggir jalan. Tak ada amarah, yang ada hanya tawa dan teriakan riang, seolah air menjadi bahasa universal kegembiraan.
Suasana kota pun berubah total. Jalan-jalan utama dipadati warga lokal, perantau yang pulang kampung, hingga wisatawan domestik dan mancanegara yang penasaran ingin merasakan langsung sensasi festival ini. Basah kuyup menjadi bagian dari cerita yang justru dinanti.
Tak hanya perang air yang menjadi magnet. Imlek di Selatpanjang juga diramaikan dengan bazar kuliner yang menyajikan aneka hidangan khas, serta night carnival yang menampilkan parade dan pertunjukan seni. Rangkaian perayaan ini disebut-sebut sebagai salah satu perayaan Imlek terbesar di Indonesia, menghadirkan kombinasi tradisi, hiburan, dan pariwisata dalam satu momentum.
Saat malam tiba, suasana semakin magis. Ribuan lampion dan lampu hias menghiasi sudut-sudut Kota Selatpanjang. Warna merah mendominasi, berpadu dengan kuning keemasan dan ornamen khas Tionghoa yang tergantung rapi di atas jalan. Cahaya lampion memantul di aspal yang masih basah oleh siraman air siang tadi, menciptakan panorama yang memikat setiap mata yang memandang.
Festival Lampion sendiri telah menjadi agenda pariwisata budaya tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti. Ribuan lampion berwarna-warni dipasang di berbagai ruas jalan utama dan sudut kota, menjadikan Selatpanjang lautan cahaya setiap malam selama perayaan berlangsung.
Dampak perayaan Imlek dan Festival Perang Air bagi Kepulauan Meranti terasa sangat besar. Dari sisi budaya, ia memperkuat identitas dan harmoni masyarakat multietnis. Dari sisi ekonomi, perputaran uang meningkat signifikan. Tukang becak kebanjiran penumpang, pelaku UMKM laris manis menjajakan dagangan, hotel dan penginapan penuh terisi, hingga sektor transportasi dan perdagangan ikut merasakan berkahnya.
Di balik basahnya pakaian dan gemerlap lampion, ada denyut ekonomi yang bergerak dan semangat kebersamaan yang menguat. Imlek di Selatpanjang bukan hanya tentang pergantian tahun, tetapi tentang bagaimana tradisi lokal mampu menjadi panggung budaya kelas nasional bahkan dunia.
Sementara itu, deru mesin kapal cepat bersahut-sahutan di perairan Selatpanjang. Satu per satu penumpang turun membawa koper, kardus oleh-oleh, hingga tas besar berisi harapan untuk merayakan Imlek bersama keluarga. Sejak H-7 atau tepatnya 10 Februari 2026, arus kedatangan di Pelabuhan Tanjung Harapan yang menjadi pintu gerbang utama Kota Selatpanjang terpantau meningkat tajam.
Belasan ribu penumpang memadati pelabuhan jelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili 2026. Wajah-wajah penuh rindu tampak di antara kerumunan itu para perantau Tionghoa yang pulang kampung bercampur dengan wisatawan yang sengaja datang untuk menyaksikan kemeriahan Festival Perang Air.
Data dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Selatpanjang mencatat lonjakan signifikan. Pada H-7, jumlah penumpang yang turun mencapai 942 orang. H-6 tercatat 921 orang, H-5 sebanyak 1.067 orang, dan H-4 melonjak menjadi 1.584 orang. Memasuki H-3, angka kedatangan menembus 2.269 orang, lalu memuncak pada H-2 dengan 3.100 orang. Sementara pada H-1, tercatat 1.724 penumpang tiba di Selatpanjang.
Total kedatangan sejak H-7 hingga H-1 mencapai 11.607 orang. Angka tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 11.191 orang yang menandakan antusiasme yang tetap tinggi untuk kembali ke kampung halaman atau berwisata ke kota sagu tersebut.
Kepala KSOP Kelas IV Selatpanjang, Derita Adi Prasetyo, melalui petugas Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhan, Ade Kurniawan, menyebut peningkatan ini jauh melampaui rata-rata hari biasa.
“Biasanya jumlah penumpang hanya sekitar 1.000 orang per hari. Namun sejak beberapa hari terakhir, baik kedatangan maupun keberangkatan meningkat signifikan jelang perayaan Imlek,” ujarnya.
Lonjakan ini menjadi denyut awal bergairahnya perekonomian daerah. Sektor transportasi laut bergerak lebih sibuk, penginapan mulai penuh, rumah makan kebanjiran pelanggan, dan pelaku UMKM bersiap menyambut lonjakan permintaan. Perputaran uang diperkirakan meningkat tajam seiring ramainya pengunjung yang datang.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kunjungan jelang Imlek kali ini sebenarnya mengalami penurunan cukup drastis. Salah satu faktor penyebabnya adalah momentum perayaan yang berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Tahun ini, Imlek jatuh pada 17 Februari 2026, sementara awal puasa Ramadan diperkirakan pada 18 atau 19 Februari.
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menyesuaikan jadwal perjalanan. Namun, semangat untuk pulang kampung dan merayakan Imlek di Selatpanjang tetap terasa kuat. Di setiap langkah penumpang yang menjejak dermaga, tersimpan kerinduan akan kampung halaman dan harapan untuk merayakan tradisi dalam suasana kebersamaan.
Pelabuhan Tanjung Harapan pun kembali menjadi saksi bahwa Imlek di Selatpanjang bukan sekadar perayaan, melainkan momentum yang menggerakkan kota, menyatukan keluarga, dan menghidupkan roda ekonomi di tepian Selat Malaka.
Riuh perayaan Imlek tak hanya terasa di jalanan Kota Selatpanjang. Di balik gemerlap lampion dan semarak Festival Perang Air, sektor perhotelan ikut merasakan lonjakan luar biasa. Bahkan, dua pekan sebelum puncak perayaan, kamar-kamar hotel di kota sagu itu telah habis dipesan.
Pantauan di lapangan menunjukkan hampir seluruh hotel di Selatpanjang tak lagi memiliki kamar kosong. Mulai dari Grand Meranti Hotel, Indo Baru Hotel, Red 9 Hotel, Furama Hotel, Lily Hotel, AKA Hotel, hingga Diva Hotel, seluruhnya telah penuh dipesan pengunjung. Hotel kelas melati pun mengalami kondisi serupa hingga tak menyisakan satu pun kamar tersedia.
Gelombang kedatangan perantau yang pulang kampung dan wisatawan yang ingin menyaksikan langsung tradisi Perang Air membuat kebutuhan penginapan melonjak tajam. Banyak tamu bahkan telah melakukan reservasi sejak dua minggu sebelum Imlek.
Informasi dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia menyebutkan, lonjakan pemesanan kamar memang sudah terasa sejak mendekati pertengahan Februari. Kini, seluruh kapasitas kamar praktis telah terisi penuh.
Ketua BPC PHRI Kepulauan Meranti, Raden Ulun Permadi Salis, yang akrab disapa Uyung, mengungkapkan bahwa total kamar hotel dan penginapan yang tercatat di Kota Selatpanjang berjumlah 406 kamar.
“Semua kamar hotel dan penginapan di Kota Selatpanjang sudah full booking sejak tanggal 17 sampai 22 Februari,” ujarnya.
Angka tersebut menjadi gambaran betapa besarnya magnet Imlek dan Festival Perang Air bagi Kepulauan Meranti. Ketika kamar-kamar hotel tak lagi tersedia, denyut ekonomi daerah pun ikut bergerak kencang. Selatpanjang tak hanya bersinar oleh lampion, tetapi juga oleh optimisme pelaku usaha yang merasakan langsung dampak dari perayaan budaya tahunan ini. (R-01)

