Koordinat Telah Disisir, Laut Tetap Membisu: Jasad Ridwan Tak Ditemukan, Operasi SAR di Perairan Meranti Dihentikan
Tim gabungan terdiri dari RB 218 Dumai, Unit Siaga SAR (USS) Dumai, USS Meranti, Polair Meranti, Polair Direktorat Polda Riau, serta Pos TNI AL Meranti melakukan penyisiran di lokasi. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Malam di perairan Kepulauan Meranti yang biasanya sunyi mendadak berubah mencekam. Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 19.30 WIB, dua kapal niaga yakni Kapal Mega Fajar 5 dan Kapal Leffindo 10 terlibat tubrukan keras di tengah laut. Dentuman benturan itu tak hanya mengguncang lambung kapal, tetapi juga memicu kepanikan di antara para awak.
Sekitar dua jam setelah kejadian, tepatnya pukul 21.54 WIB, kabar kecelakaan laut tersebut diterima oleh tim SAR. Informasi awal disampaikan oleh Naris, anggota Polair Polda Kepri, yang melaporkan bahwa insiden terjadi di perairan Kepulauan Meranti, tepatnya pada titik koordinat perkiraan 0°47'48.4"N 103°11'03.9"E.
Benturan keras antar kedua kapal mengakibatkan satu orang awak Kapal Mega Fajar 5 bernama M. Ridwan (62), terjatuh ke laut. Dalam kondisi gelap dan arus laut yang sulit diprediksi, korban dinyatakan hilang. Sejak saat itu, perlombaan melawan waktu pun dimulai—antara harapan dan kekhawatiran keluarga yang menunggu di darat.
Respons cepat dilakukan. Sekitar pukul 22.05 WIB, koordinasi awal digelar dengan berbagai pihak terkait. Pemberitahuan dan pemapelan segera dikirimkan ke Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Selatpanjang, SROP Kepulauan Meranti, serta Polair Selatpanjang. Tak hanya itu, koordinasi juga diperluas hingga ke KSOP Tanjung Buton guna memastikan dukungan maksimal dalam operasi pencarian.
Pencarian intensif secara resmi dimulai keesokan harinya, Selasa, 3 Februari 2026, pukul 09.30 WIB. Sejumlah unsur SAR dikerahkan menyisir lokasi kejadian dan sekitarnya. Tim gabungan terdiri dari RB 218 Dumai, Unit Siaga SAR (USS) Dumai, USS Meranti, Polair Meranti, Polair Direktorat Polda Riau, serta Pos TNI AL Meranti. Laut Kepulauan Meranti yang luas menjadi saksi kerja keras para petugas yang berjibaku dengan ombak, angin, dan waktu.
Operasi SAR ini bukan sekadar prosedur penyelamatan, tetapi juga wujud kehadiran negara di tengah duka dan kecemasan. Setiap lintasan pencarian, setiap koordinasi yang dilakukan, menyimpan satu harapan besar yakni menemukan M. Ridwan dan mengembalikannya kepada keluarga.
Hingga operasi pencarian berlangsung, tim SAR terus bekerja dengan penuh dedikasi, memastikan seluruh potensi dan sumber daya dikerahkan. Di balik mesin kapal yang meraung dan radar yang terus memindai laut, tersimpan doa-doa yang mengalir agar laut berkenan mengembalikan satu nyawa yang hilang di kedalamannya.
Di balik angka koordinat dan jam operasi, tersimpan kisah tentang ketekunan, kelelahan, dan doa yang tak pernah putus.
Pencarian pertama dimulai sekitar pukul 09.30 WIB, dimana kapal penyelamat RB 218 diberangkatkan dari Dumai menuju lokasi kejadian (Last Known Position/LKP) dengan membawa tujuh anak buah kapal (ABK). Mereka diperkuat tiga rescuer dari USS Dumai dan dua rescuer USS Meranti. Dengan heading 118 derajat dan jarak tempuh sekitar 116 mil laut, perjalanan panjang itu ditempuh hampir sepuluh jam, sebelum akhirnya RB 218 tiba di Selatpanjang pada pukul 21.30 WIB untuk sandar dan beristirahat di USS Meranti.
Keesokan harinya, Rabu, 4 Februari 2026, tepat pukul 06.30 WIB, operasi SAR kembali digelar. RB 218 bergerak dengan kekuatan penuh yakni 10 ABK, dua rescuer USS Meranti, lima personel Polair Meranti, dan satu personel Pos TNI AL Meranti. Penyisiran dilakukan di sekitar titik koordinat perkiraan LKP 0°47'48.4"N 103°11'03.9"E, dengan pola pencarian yang diperluas ke empat sektor berbeda.
Sejak pukul 07.00 hingga 17.45 WIB, laut disisir perlahan namun pasti. Mata para rescuer menatap cakrawala, radar terus memindai, dan sekoci diturunkan menyusuri permukaan air. Namun hingga senja tiba, hasil pencarian masih nihil. Debriefing dilakukan pukul 18.00 WIB, dan pencarian diputuskan dihentikan sementara untuk dilanjutkan esok hari.
Hari demi hari berlalu dengan pola yang nyaris serupa. Kamis, Jumat, Sabtu, hingga Minggu—5 sampai 8 Februari 2026, tim SAR gabungan terus kembali ke laut sejak pukul 06.30 WIB. Setiap hari, sektor pencarian diperluas, menyesuaikan analisis pergerakan arus dan angin. Ren Ops H3, H4, H5, hingga H6 dijalankan dengan disiplin tinggi. Namun laut tetap menyimpan rahasianya.
Setiap sore, tepat pukul 18.00 WIB, debriefing dilakukan. Evaluasi teknis, diskusi lintas unsur, dan penentuan strategi lanjutan menjadi rutinitas yang dijalani dengan penuh kesungguhan. Harapan tak pernah benar-benar padam, meski kelelahan mulai terasa di wajah para petugas.
Puncak operasi terjadi pada Senin, 9 Februari 2026. Sejak pagi pukul 06.30 WIB, RB 218 kembali bergerak menuju LKP. Penyisiran dilakukan hingga pukul 18.00 WIB menggunakan kapal utama dan sekoci.
Cuaca yang relatif bersahabat dengan langit berawan, angin bertiup dari utara ke selatan dengan kecepatan 5 knot, dan gelombang laut berada pada kisaran 0,1 hingga 0,6 meter—tenang, namun tetap menyimpan ketidakpastian.
Meski kondisi mendukung, hasil pencarian hari ketujuh tetap nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan korban. Tak ada petunjuk baru yang bisa ditindaklanjuti.
Pukul 18.10 WIB, suasana debriefing terasa berbeda. Kali ini, bukan sekadar evaluasi teknis. Tim SAR gabungan duduk bersama unsur terkait dan keluarga korban. Dengan pertimbangan kemanusiaan dan analisis teknis bahwa operasi SAR sudah tidak efektif lagi untuk dilanjutkan, disepakati usulan penghentian dan penutupan operasi pencarian.
Setelah tujuh hari penuh menyisir perairan, harapan yang digenggam perlahan harus dilepaskan. Operasi pencarian terhadap korban speedboat Mega Fajar akhirnya resmi dihentikan, menandai akhir dari sebuah ikhtiar panjang yang telah dikerahkan tanpa sisa.
Keputusan itu bukan akhir yang diharapkan, namun menjadi penutup dari ikhtiar maksimal yang telah dilakukan. Satu per satu unsur SAR kembali ke instansi masing-masing dengan ucapan terima kasih dan penghormatan atas kerja sama, dedikasi, dan pengabdian selama operasi berlangsung.
Di laut Kepulauan Meranti, mesin kapal boleh berhenti, radar boleh dimatikan, namun doa dan ingatan tentang seorang korban yang hilang akan tetap tinggal bersama jejak perjuangan para pencari harapan yang telah mengerahkan segalanya, hingga batas kemampuan terakhir.
Kepala Basarnas Pekanbaru, Budi Cahyadi, melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, menyampaikan bahwa penghentian operasi ini dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Basarnas. Hari ketujuh menjadi batas pencarian aktif, yang selanjutnya akan dilanjutkan dalam bentuk pemantauan.
“Apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda atau informasi baru terkait keberadaan korban, operasi SAR akan kembali dibuka sesuai ketentuan,” ujarnya dengan nada penuh kehati-hatian, seolah memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar pernyataan prosedural, melainkan juga secercah harapan yang masih ingin dijaga.
Selama tujuh hari, tim SAR gabungan telah memaksimalkan seluruh kemampuan dan sumber daya yang dimiliki. Area pencarian diperluas, membentang dari perairan Pulau Rangsang hingga Penyalai, Kabupaten Pelalawan. Laut disisir berulang kali, koordinat demi koordinat dijelajahi, siang dan malam dilewati dengan satu tujuan: menemukan jawaban.
Namun laut, seperti sering terjadi, memilih untuk tetap menyimpan rahasianya.
Dengan dihentikannya operasi SAR aktif ini, sesuai prosedur yang berlaku, korban dinyatakan dalam status hilang dan tidak ditemukan. Sebuah kalimat resmi yang berat, terutama bagi keluarga yang sejak awal hanya menggantungkan harapan pada satu hal: kepulangan.
Pihak Basarnas menyadari sepenuhnya bahwa keputusan ini bukanlah perkara mudah untuk diterima. Di balik peta pencarian dan laporan teknis, ada keluarga yang menunggu, ada doa yang tak pernah putus, dan ada rasa kehilangan yang tak terucap.
“Atas nama pimpinan Basarnas, TNI, dan Polri, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam pelaksanaan operasi terdapat kekurangan, keterbatasan, maupun hal-hal yang belum dapat memenuhi harapan keluarga,” ungkap Prima Harrie Saputra.
Lebih dari sekadar pernyataan resmi, kalimat itu adalah pengakuan bahwa dalam setiap operasi penyelamatan, ada batas kemampuan manusia yang tak bisa dilampaui, meski niat dan upaya telah dikerahkan sepenuh hati.
Di akhir pencarian ini, doa menjadi bahasa yang paling mungkin diucapkan. Basarnas bersama seluruh unsur yang terlibat menyampaikan duka mendalam, seraya mendoakan agar keluarga korban diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian yang berat ini.
Diberitakan sebelumnya, dua unit speedboat dilaporkan bertabrakan di jalur pelayaran antara Pulau Burung dan Pulau Pelembang. Insiden tersebut mengakibatkan satu awak kapal dikabarkan hilang tenggelam.
Akibat benturan keras tersebut, seorang awak Speedboat Mega Fajar 5 bernama M. Ridwan (62) terjatuh ke laut dan hingga kini belum ditemukan. Sementara awak kapal lainnya berhasil diselamatkan, tim SAR gabungan langsung bergerak melakukan koordinasi dan langkah penanganan darurat serta akan melakukan upaya pencarian di lokasi kejadian.
Speedboat Mega Fajar 5 diketahui mengangkut muatan ayam sebanyak 260 box. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Bongkar Muat Kota Segara Mentigi, kawasan Bintan, Kepulauan Riau.
Di atas kapal Mega Fajar 5 terdapat lima orang kru. Mereka masing-masing adalah nahkoda Darmansyah (53), Kepala Kamar Mesin (KKM) Ilah Samri (43), serta tiga Anak Buah Kapal (ABK) yakni M. Arsyad (56), M. Ridwan (62), dan Kamarizom (38).
Tabrakan dilaporkan terjadi di perairan Kepulauan Riau, di antara Pulau Burung dan Pulau Pelembang. Namun, berdasarkan laporan terakhir, titik koordinat kejadian berada di wilayah perairan Kepulauan Meranti, tepatnya di sekitar Pulau Rangsang.
Sementara itu, Speedboat Levindo 10 diketahui bermuatan barang ekspedisi yang berlayar dari Tanjung Buton, Kabupaten Siak, dengan tujuan Tanjung Uban, Kepulauan Riau.
Benturan keras antar dua kapal tersebut menyebabkan salah satu awak Mega Fajar 5, M. Ridwan (62), terjatuh ke laut dan korban dilaporkan hilang dan dalam upaya pencarian oleh tim SAR gabungan, sementara itu beberapa awak kapal juga terlihat terluka dan bahkan nahkoda Darmansyah (53) mengalami patah tangan.
Adapun awak kapal lainnya berhasil dievakuasi, dimana para awak kapal Levindo 10 tidak ada mengalami kecelakaan. Para korban selamat dibawa menggunakan Speedboat Levindo 8 menuju Tanjung Balai Karimun dan tiba sekitar pukul 22.00 WIB. Setibanya di darat, seluruh korban langsung dilarikan ke RSUD setempat untuk mendapatkan penanganan medis. (R-01)

