Misteri 10 Mayat Mengapung di Perairan Palika: Dua Korban Teridentifikasi Warga Tanjung Balai, 8 Lainnya Masih Misterius
Warga nelayan di Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir, digemparkan dengan penemuan sepuluh mayat yang mengapung di perairan Panipahan dalam kurun waktu sekitar satu pekan terakhir. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Warga nelayan di Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokan Hilir, digemparkan dengan penemuan sepuluh mayat yang mengapung di perairan Panipahan dalam kurun waktu sekitar satu pekan terakhir. Dari total penemuan tersebut, dua di antaranya telah dipastikan berasal dari Tanjung Balai, Sumatera Utara, sementara delapan korban lainnya belum berhasil diidentifikasi.
Mayat-mayat tersebut ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Sebagian tubuh korban sudah hancur, membengkak, bahkan ada yang kehilangan anggota tubuh tertentu sehingga menyulitkan proses identifikasi. Penemuan itu di lokasi yang berbeda-beda dan waktu yang tidak bersamaan.
“Total ada sepuluh mayat ditemukan hingga hari ini,” ungkap tokoh masyarakat Palika, H A Rahman Yus, Senin (8/12/2025).
Menurutnya, dua korban berhasil dikenali melalui tanda-tanda khusus pada tubuh dan telah dibawa pihak keluarga ke Tanjung Balai untuk dimakamkan. Sementara delapan jenazah lainnya telah dikebumikan di dua lokasi berbeda di wilayah Palika.
“Sebagian dimakamkan di areal pemakaman Masjid Raya An Nuur di Panipahan Darat, dan sebagian lagi di TPU RBB atau pemakaman tanah wakaf masjid Nur Hasanah Teluk Pulai,” jelas Penasehat HNSI Palika itu.
Rahman Yus mengimbau masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga atau mengenali ciri-ciri mayat yang ditemukan agar segera menghubungi pihak kecamatan atau Upika Palika untuk penanganan lebih lanjut.
Terpisah, Camat Palika Yahya Khan membenarkan rentetan penemuan mayat tersebut dan menyatakan apresiasi terhadap para nelayan yang dengan sigap membantu proses evakuasi.
“Benar, akhir-akhir ini beberapa kali ditemukan mayat oleh nelayan. Kami menilai langkah para nelayan yang segera mengevakuasi dan melapor merupakan tindakan mulia,” ujarnya saat ditemui di Bagansiapiapi.
Yahya menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu merasa takut atau terintimidasi dengan kejadian ini, melainkan justru harus menguatkan koordinasi dan kewaspadaan bersama.
“Kami memandang bahwa apa yang dilakukan nelayan adalah kemanusiaan dan mendatangkan keberkahan,” pungkasnya. (R-02)

