Ketika Pokir Menjadi Napas Budaya: Darsini Bangkitkan Festival Sampan Layar di Bandul dan Meriah!
Festival Sampan Layar kembali digelar, dan Bandul seperti menemukan kembali gema masa lampau, tradisi yang selama ini hanya berhembus dalam cerita orang-orang tua kini kembali hidup di depan mata. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Sinar mentari pagi memantul tajam di permukaan air, sementara angin utara berhembus kencang di Desa Bandul, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kepulauan Meranti, Sabtu, (6/11/2025). Hari itu, denyut kampung terasa berbeda.
Laut Selat Bengkalis yang biasanya hanya menampilkan riak tenang, mendadak berubah menjadi panggung besar penuh warna. Satu per satu sampan layar dengan corak mencolok berwarna-warni merapat ke tepian, seperti aktor yang bersiap memasuki pentas. Garis-garis cerah dari layar yang ditegakkan para nelayan tampak melukis permukaan laut dengan meriah.
Festival Sampan Layar kembali digelar, dan Bandul seperti menemukan kembali gema masa lampau, tradisi yang selama ini hanya berhembus dalam cerita orang-orang tua kini kembali hidup di depan mata.
Desa Bandul berdiri tenang di tepian Selat Bengkalis, tepat berhadapan dengan Pulau Bengkalis. Meski letaknya jauh dari ibukota kabupaten, denyut kebudayaan di kampung pesisir ini tak pernah padam. Jarak tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti merayakan warisan leluhur. Justru di tempat terpencil seperti inilah, tradisi menemukan rumahnya yang paling setia.
Sebelum lomba dimulai, kawasan pesisir telah berubah menjadi ruang pesta yang hangat. Anak-anak berlarian, suara tawa bercampur dengan riuh obrolan warga. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, memenuhi dermaga sambil mencari posisi terbaik untuk menyaksikan jalannya perlombaan.
Di sisi lain, para nelayan yang hari itu menjadi peserta sibuk menyiapkan perahu masing-masing. Ada yang merapikan tali, menegakkan tiang layar, memperbaiki simpul, atau sekadar memastikan perahu mereka siap menantang angin.
Setiap sampan terlihat memiliki karakternya sendiri. Ada yang dicat dengan warna cerah menyala, ada pula yang dibiarkan apa adanya seperti kayu tua yang retaknya menyimpan kisah perjalanan panjang di laut.
Saat aba-aba dilepas, layar-layar itu mengembang serempak, menampung angin seperti dada para nelayan yang penuh harapan. Dalam sekejap, deretan perahu melesat maju, membelah ombak menuju jalur perlombaan.
Layar-layar yang beradu di perairan itu menjadi penanda bahwa di ujung negeri ini, kehidupan tetap bergerak. Tradisi tetap bernapas. Masyarakat tetap menemukan alasan untuk bersyukur.
Aturan main, peserta akan berlayar melintasi garis lintasan sepanjang 1,7 KM dengan tiga kali putaran. Sementara pengamanan laut diperketat oleh Basarnas, BPBD, Posal, Kepolisian, maupun Dinas Perhubungan.
Di atas sampan-sampan itu, para peserta tampak bekerja seperti satu tubuh. Ada yang menarik tali dengan sigap, ada yang membuang air dari lambung sampan agar tidak tenggelam, sementara yang lain menjaga keseimbangan agar laju perahu tetap stabil diterpa angin. Semua bergerak cepat, seperti sudah terlatih oleh pengalaman turun-temurun.
Namun, laut tidak selalu ramah. Dalam hitungan detik, angin berubah dan arus tiba-tiba mengganas. Satu per satu sampan mulai oleng, lalu karam. Sorak penonton berubah menjadi helaan napas cemas. Tapi bagi para nelayan, tenggelam bukanlah akhir—itu hanya bagian dari perjalanan.
Tanpa panik, mereka kembali bekerja sama. Sebagian menahan sampan agar tidak hanyut, sebagian lainnya mendorong dari bawah permukaan air, berusaha mengangkat perahu agar kembali timbul. Keringat bercampur air laut, tetapi tekad mereka jauh lebih kuat dari gelombang yang menggulung.
Saat kapal penolong mendekat, rata-rata dari mereka justru mengangkat tangan memberi isyarat bahwa mereka baik-baik saja. Tidak sedikit yang menolak bantuan, bukan karena sombong, tetapi karena yakin dengan kemampuan sendiri.
Begitulah semangat orang-orang pesisir ini—lebih memilih bertarung dengan tenaga dan akal mereka sendiri sebelum meminta pertolongan. Di tengah ketangguhan itulah terlihat wajah asli Festival Sampan Layar yang menggambarkan bukan hanya adu cepat, tetapi adu nyali, adu kecerdikan membaca alam, dan adu kekuatan menjaga warisan para leluhur.
Sorak warga pun pecah, menggema di sepanjang garis pantai. Ada yang menjagokan kerabatnya, ada pula yang sekadar larut dalam euforia menyaksikan tradisi tua yang kembali hidup.
Festival ini memang bukan sekadar lomba. Ia adalah cara masyarakat merayakan identitas mereka—sebuah warisan pesisir tentang bagaimana orang-orang di sini berlayar, bekerja, dan bertahan hidup dengan memeluk laut sebagai rumah.
Di sela-sela perlombaan, denyut ekonomi masyarakat pun bergerak. Pedagang musiman membuka lapak, menjual minuman dingin, jajanan kampung, hingga menjual berbagai macam barang pecah belah.
Festival ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kesejahteraan. Bagi warga, ini bukan hanya nostalgia, melainkan momentum untuk menggerakkan ekonomi pesisir, sekaligus mempererat kebersamaan.
Kemeriahan festival ini juga tak lepas dari sosok anggota DPRD Kepulauan Meranti, Darsini SM, yang kembali tampil sebagai salah satu motor penggerak kegiatan kebudayaan daerah. Melalui pendanaan pokok pikiran (pokir) yang ia sinergikan bersama Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), Festival Sampan Layar di Desa Bandul kembali mendapat panggung terhormat untuk digelar dengan meriah.
Bukan sekadar perlombaan, Festival Sampan Layar adalah napas kebudayaan. Cara masyarakat menjaga warisan agar tidak ditelan waktu. Terbukti, tahun ini menjadi penyelenggaraan yang keenam kalinya dan setiap tahun, jumlah peserta dan penonton justru semakin bertambah.
Sebanyak 21 kelompok dari Kabupaten Bengkalis dan Kepulauan Meranti, masing-masing beranggotakan lima orang yang bersiap menunjukkan ketangkasan mereka mengendalikan sampan layar tradisional. Lomba yang berlangsung di perairan Bandul itu pun seketika menjelma menjadi atraksi penuh warna. Sorak sorai warga menggema sepanjang garis pantai, merayakan bukan hanya adu ketangkasan, tetapi juga persaudaraan.
Festival yang digelar melalui pendanaan pokir Darsini SM dan berkolaborasi dengan Event Organizer Kopja Pewarta Wibawa Investasi (PWI) ini menjelma lebih dari sekadar acara olahraga tradisional. Ia menjadi ruang pertemuan, tempat nostalgia bertemu semangat baru, tempat cerita lama bertaut dengan harapan masa depan.
Di penghujung acara, ketika sampan-sampan kembali merapat dan angin mulai mengecil, wajah peserta tampak lelah namun bahagia. Bagi mereka, kemenangan bukanlah tujuan utama. Yang penting adalah menjaga napas tradisi agar tetap hidup di tengah zaman yang berubah cepat.
Festival Sampan Layar Bandul bukan hanya tontonan, tetapi sebuah pengingat bahwa laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan ruang budaya yang membesarkan jati diri masyarakat pesisir Kepulauan Meranti.
Kepala Desa Bandul, H. Karyawan Noma, berdiri di hadapan warga dan peserta dengan senyum bangga. Festival Sampan Layar tahun ini terasa berbeda—lebih ramai, lebih meriah, dan lebih penuh semangat. Dua kabupaten turut ambil bagian, membawa warna tersendiri bagi perairan Selat Bengkalis yang hari itu berubah menjadi arena tradisi.
Dengan suara lantang yang dibalut kehangatan, pria yang akrab disapa Wawan itu menyampaikan betapa tingginya antusiasme warga. Bahkan, persiapan pembuatan sampan sudah dilakukan sejak dua bulan sebelumnya, sebuah bukti bahwa festival ini hidup bukan hanya di hari pelaksanaan, tetapi juga di benak masyarakat jauh sebelum lomba dimulai.
“Alhamdulillah, semua berjalan lancar,” ujarnya. “Meski ada beberapa sampan yang karam atau terbalik, itu bukan alasan untuk mundur. Tahun depan kita coba lagi. Hasil hari ini mungkin belum maksimal, tapi itu bukan karena kita tak jago di laut. Angin, layar, arus—semua bisa memengaruhi.”
Wawan menyampaikan pesannya dengan nada menenangkan, seakan merangkul seluruh peserta.
“Kepada yang belum juara, jangan berkecil hati. Ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal bagaimana kita mengadu fisik, mengadu teknik, dan mengadu keberanian di laut. Yang juara, jangan pula terlalu bangga, karena ini adalah ajang untuk belajar dan tetap rendah hati," ujarnya.
Ia lalu menoleh ke arah para tamu undangan yang datang dari luar daerah, memberikan apresiasi yang tulus. Bagi Bandul, kehadiran mereka bukan sekadar angka peserta, tetapi denyut kehidupan yang membuat desa nelayan itu hidup lebih ramai.
“Terima kasih banyak kepada tamu dari luar yang selalu hadir setiap ada event. Tahun ini saja ada 12 sampan dari Ketam Putih. Ini membanggakan, dan saya akan terus mendukung karena inilah tradisi kita,” tutupnya.
Anggota DPRD Kepulauan Meranti, Darsini SM, berdiri menyampaikan sambutannya. Suaranya lembut namun tegas, mencerminkan kepedulian seorang wakil rakyat yang tumbuh bersama masyarakat pesisir.
Ia mengungkapkan bahwa Festival Sampan Layar bukan sekadar perlombaan tahunan yang dinikmati mata, melainkan denyut ekonomi dan sosial yang terasa nyata bagi warga Desa Bandul. Di tengah lomba yang penuh adrenalin itu, lapak-lapak UMKM lokal ikut hidup, dimana para ibu menjajakan makanan tradisional, anak-anak muda menjual minuman segar.
“Melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan ini, kita berharap geliat UMKM semakin kuat dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga, khususnya di wilayah Desa Bandul,” ujar politisi Demokrat tersebut.
Namun Darsini tidak ingin festival ini hanya tumbuh di satu titik. Dengan pandangan yang lebih luas, ia berharap festival serupa bisa dilaksanakan secara merata di desa-desa lain di Kecamatan Tasik Putri Puyu maupun wilayah Kepulauan Meranti. Baginya, kebudayaan adalah denyut kolektif—semakin banyak ruang tampil, semakin banyak pula peluang ekonomi yang lahir.
“Jika semakin banyak event berkualitas, pelaku UMKM akan punya kesempatan lebih luas untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan,” tambahnya.
Tidak berhenti di situ, ia bahkan memandang Festival Sampan Layar memiliki potensi besar untuk mendunia. Tradisi yang lahir dari peradaban laut ini, menurut Darsini, layak mendapat panggung yang lebih besar—menghadirkan identitas Meranti di tingkat provinsi, bahkan nasional.
“Bukan hanya budaya lokal yang terangkat, tetapi juga produk UMKM kita akan mendapat sorotan lebih luas. Hal itu pasti membawa perubahan signifikan bagi kesejahteraan masyarakat,” ucapnya penuh keyakinan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Desa Bandul yang selalu kompak menyukseskan setiap kegiatan yang digelar pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten. Darsini menegaskan bahwa pokir yang ia salurkan bukan sekadar anggaran, tetapi bentuk dukungan untuk menghidupkan tradisi dan menumbuhkan kebersamaan.
“Terima kasih kepada masyarakat yang selalu kompak, selalu tumbuh, dan selalu memeriahkan setiap kegiatan. Ini bukan hanya soal pokir, tetapi soal dukungan kami kepada masyarakat yang menjaga tradisi,” ujarnya.
Tak lupa, ia memuji kerja keras panitia dan Event Organizer yang siang malam memastikan jalannya festival berjalan aman, tertib, dan meriah.
“Kerja keras panitia patut diapresiasi. Mereka telah menyatukan berbagai unsur masyarakat untuk berkolaborasi. Terima kasih kepada semua yang telah bertungkus lumus memeriahkan dan mensukseskan acara ini,” tutupnya.
Festival hari itu terasa lebih dari sekadar lomba—ia menjadi cermin bagaimana tradisi, ekonomi, dan kebersamaan bisa menyatu dalam satu tarikan angin, satu bentangan layar, dan satu gelombang yang menghubungkan warga pesisir dengan akar budaya mereka.
Kabid Pemuda dan Olahraga Disporapar Kepulauan Meranti, Dedi Saharani, menyampaikan pesan yang meneguhkan makna dari festival tahunan tersebut.
Dengan suara lantang namun penuh kehangatan, Dedi menegaskan bahwa Festival Sampan Layar lebih dari sekadar adu cepat di atas air—ia adalah identitas masyarakat pesisir yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan.
“Festival Sampan Layar ini bukan sekadar perlombaan, tetapi merupakan warisan leluhur yang harus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda. Melalui festival ini, semangat kehidupan maritim yang telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat Meranti dapat terus terjaga dan tidak tertelan oleh perkembangan zaman,” ujarnya, membuat banyak kepala mengangguk setuju.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah desa, panitia, peserta, hingga masyarakat yang menjaga ketertiban sepanjang acara.
“Keberhasilan festival ini tidak lepas dari dukungan berbagai elemen,” tambahnya.
Tak jauh dari tempat Dedi berdiri, Ketua Panitia Festival Sampan Layar 2025, Adi Kuspianto atau yang akrab disapa Mas Adi, ikut menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Raut wajahnya memancarkan lega bercampur bangga—tanda bahwa kerja keras berminggu-minggu akhirnya terbayar.
Tahun ini, sebanyak 21 sampan layar beradu ketangkasan di atas Selat Bengkalis. Mas Adi mengungkapkan bahwa sebenarnya ada 25 sampan yang mendaftar, namun sebagian terpaksa absen karena kendala teknis dan kesiapan armada.
“Meski begitu, kami tetap bersyukur. Peserta yang hadir sudah cukup memeriahkan festival. Mereka datang dari berbagai desa, termasuk dari Ketam Putih Bengkalis, dengan persiapan yang luar biasa,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kehadiran 21 sampan saja sudah menghadirkan tontonan khas yang memukau masyarakat pesisir. Dengan lima orang pada setiap sampan, tercatat 105 peserta yang turun langsung mengendalikan layar dan menaklukkan angin.
“Ini menjadi evaluasi untuk tahun depan. Harapan kita jumlah peserta meningkat, dan lebih banyak desa mengirimkan wakil,” kata Mas Adi, menatap optimis ke arah laut yang berkilau.
Tak lengkap rasanya jika festival tanpa para jawaranya. Tahun ini, sembilan sampan berhasil menembus daftar pemenang, dengan total hadiah mencapai 20 juta rupiah. Di antara mereka, tiga nama mencuri perhatian:
Juara I yakni Sampan Layar Kuda Terbang,
Sampan Layar Dolphin dan juara III yakni Sampan Layar Marlin.
Tepuk tangan panjang mengiringi pengumuman itu, menjadi bukti bahwa di Bandul, kemenangan bukan hanya soal cepat atau lambat, tetapi tentang bagaimana setiap layar mengajar manusia untuk bekerja sama, menghormati angin, dan merayakan warisan nenek moyang.
Di tengah gelombang kecil yang tak henti pecah di pantai, festival hari itu menegaskan satu hal: tradisi tua tidak pernah benar-benar pudar—ia hanya menunggu disentuh kembali. Dan di Desa Bandul, tradisi itu kembali bernafas dengan megah.
Selain Darsini, kegiatan itu juga dihadiri Kapolsek Merbau AKP Jimmy Andre SH MH, Kasi Pemerintahan Kecamatan Tasik Putri Puyu, Rusli, dan Kepala Unit SAR Kepulauan Meranti, Prima Harry. (R-01)

