Janjikan Umrah untuk Ahli Gizi yang Bersedia Gabung, Sudah Sebulan SPPG Bandul di Meranti Tak Kunjung Beroperasi
Dapur MBG yang dikelola Yayasan Bakti Anak Meranti di Kepulauan Meranti sudah sebulan tak beroperasi karena tak ada ahli gizi, Selasa (11/11/2025). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di sebuah sudut negeri paling timur Riau, tepatnya di Desa Bandul, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kabupaten Kepulauan Meranti semangat untuk menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bergelora sejak pertama kali dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Bagi masyarakat di kawasan yang dikenal sebagai teras terdepan NKRI ini, program tersebut bukan sekadar agenda pemerintah, melainkan harapan baru bagi anak-anak sekolah agar tumbuh sehat, kuat, dan cerdas.
Namun di balik semangat itu, roda dapur bergizi di Bandul kini tidak bisa beroperasi. Di dapur yang seharusnya ramai dengan aroma nasi hangat dan lauk bergizi, kini yang ada hanya peralatan masak yang tertata rapi menunggu untuk dihidupkan kembali.
Adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandul di bawah naungan Yayasan Bakti Anak Meranti, yang menjadi salah satu mitra penyedia MBG di Kepulauan Meranti. Segala persiapan telah dilakukan—bangunan dapur berdiri megah, alat masak lengkap, tenaga masak sudah disiapkan. Namun satu hal penting yang tak kunjung hadir membuat semua itu tertahan yakni seorang ahli gizi.
Ketua Yayasan Bakti Anak Meranti, Zuriyadi Fahmi, tak bisa menutupi rasa kecewanya. Ia menuturkan bahwa pihaknya telah hampir satu bulan lebih siap beroperasi, tetapi belum bisa memulai kegiatan karena tidak adanya ahli gizi yang bersedia ditempatkan.
“Kami sudah siap, semua fasilitas lengkap. Tapi karena belum ada ahli gizi, kegiatan tidak bisa jalan. Padahal anak-anak penerima manfaat sudah menunggu,” ujarnya dengan nada prihatin.
Zuriyadi mengungkapkan, anggaran yang digelontorkan mencapai ratusan juta rupiah untuk membangun dan menyiapkan dapur MBG tersebut. Jika dibiarkan terlalu lama tidak beroperasi, semua itu bisa terkesan sia-sia.
“Sayang sekali, dana sudah terserap banyak. Hanya karena satu posisi penting belum terisi, program sebesar ini belum bisa berjalan. Kami berharap ada intervensi dari Badan Gizi Nasional untuk mencari solusinya,” tambahnya.
Sementara itu, sebanyak 1.100 siswa penerima manfaat di wilayah Bandul kini hanya bisa menunggu. Harapan mereka untuk menikmati makanan bergizi setiap hari harus ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Di tengah segala keterbatasan, semangat para pengelola dan masyarakat tak surut. Mereka percaya, MBG bukan sekadar program makan gratis, tetapi bentuk nyata perhatian negara terhadap anak-anak di perbatasan.
Dan di Bandul, mereka hanya menunggu satu hal yakni adirnya seorang ahli gizi yang bisa menyalakan kembali api dapur di ujung negeri.
Namun Zuriyadi tidak menyerah dengan kondisi ini. Meskipun sudah hampir satu bulan lebih menunggu kepastian, mencoba mencari jalan keluar agar Program MBG yakni program unggulan Presiden Prabowo Subianto bisa segera berjalan di wilayah SPPG Bandul, Kecamatan Tasik Putri Puyu.
Ia menuturkan bahwa dirinya sudah beberapa kali coba bernegosiasi sehingga memberi benefit dan tawaran yang menjanjikan lainnya.
“Saya sudah beberapa kali coba bernegosiasi, menawarkan berbagai benefit, tapi belum juga ada yang mau. Di luar gaji, kami sediakan insentif, tempat tinggal, kendaraan bermotor, hingga makan minum,” tutur Fahmi.
Namun, kendala bukan pada fasilitas atau besaran gaji, melainkan lokasi penugasan yang dianggap jauh dari perkotaan. Padahal, Bandul bukanlah daerah terpencil — justru ibukota kecamatan Tasik Putri Puyu, dengan akses yang perlahan membaik. Tapi, jarak dari hiruk-pikuk kota tetap menjadi alasan klasik yang membuat para ahli gizi enggan bertugas.
Fahmi mengaku, di balik rasa kecewa, ada tekad yang tak padam. Baginya, program MBG adalah cita-cita besar untuk membentuk generasi Indonesia Emas 2045, dan ia tak ingin impian itu terhenti di Bandul.
“Pak Prabowo sudah membuat program ini dengan bagus, supaya anak-anak Indonesia bisa mendapatkan gizi yang cukup dan bagus. Untuk itu, bagaimana pun caranya, dapur ini harus bisa beroperasi,” tegasnya penuh keyakinan.
Janjikan Hadiah Umrah
Tak tinggal diam, Fahmi terus berkomunikasi dengan berbagai pihak, berupaya mencari solusi. Hingga akhirnya, ia melahirkan ide tak biasa — bahkan bisa dibilang baru pertama kali terjadi di Indonesia sejak program MBG bergulir. Ia menyiapkan hadiah umrah bagi siapa pun ahli gizi yang bersedia bergabung dan mengabdi di SPPG Bandul.
“Kita akan berikan hadiah umrah bagi ahli gizi yang siap bergabung bersama kita. Tentu ada syarat dan ketentuannya, tapi inilah upaya kami menarik minat mereka. Sekarang ini ahli gizi sangat sulit dicari, jadi kita wajib kreatif,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Lebih lanjut, Fahmi menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar iming-iming, tetapi bentuk penghargaan tulus bagi peran penting tenaga gizi dalam menyukseskan program nasional yang menyentuh masa depan anak-anak Indonesia.
“Pak Prabowo sudah triliunan mengalokasikan uang negara untuk anak-anak kita. Masak kita tidak bisa mencari sedikit uang untuk memberi bonus kepada orang yang berperan penting dalam menyukseskan Makan Bergizi Gratis ini,” pungkasnya.
Kini, semangat di dapur Bandul kembali menyala — bukan dari tungku, tapi dari tekad seorang anak negeri di perbatasan yang enggan menyerah demi masa depan anak-anak bangsanya. Dan mungkin, dari sebuah niat baik dan hadiah umrah itu, seorang ahli gizi akan datang membawa nyala api harapan baru di ujung negeri. (R-01)

