Ilmuwan Peraih Nobel Ungkap Penyebab Orang Cerdas Sering Salah Ambil Keputusan, Singgung Soal Kesombongan
Fisikawan Richard Feynman pernah menjelaskan alasan kenapa orang yang cerdas bisa salah mengambil keputusan. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Fisikawan Richard Feynman pernah menjelaskan alasan kenapa orang yang cerdas bisa salah mengambil keputusan.
Dilansir dari Jagran Josh (15/7/2025), Feynman merupakan peraih Nobel Fisika pada 1965 usai berhasil membuat teori interaksi cahaya dengan materi.
Ia berpastisipasi dalam Proyek Manhattan dan membantu mengembangkan bom atom pertama, serta berpartisipasi dalam proyek pencegahan bencana NASA setelah pesawat ulang-alik Challenger meledak.
Sebagai orang yang cerdas, Feynman mengaku sama seperti masyarakat pada umumnya.
Ia juga sering diliputi keraguan, tidak yakin dengan diri sendiri, dan skeptis dengan orang yang pintar.
Jebakan kecerdasan
Dilansir dari Good is, Senin (20/10/2025), Feynman menilai bahwa orang-orang yang sangat cerdas cenderung hanya mengandalkan kecerdasan mereka.
Karena fokus dengan diri dan kemampuan sendiri, mereka sangat mungkin membuat penilaian yang salah.
Namun, menurut Feynman, orang-orang ini lebih memilih menutupinya dengan kesombongan.
"Mereka juga bisa terlalu takut untuk mengajukan pertanyaan yang membuka wawasan," ujar Feynman.
Karena itu, dia menilai kesombongan atau egoisme yang dimiliki oleh orang cerdas sebagai jebakan pikiran.
"Anda tidak boleh menipu diri sendiri, dan Anda sendiri sebenarnya (adalah) orang yang paling mudah diitipu," ungkapnya.
Banyak masyarakat berpendapat, penemuan ilmiah terbesar Feynman bukanlah fisika, melainkan konsep ketidaktahuan dan ego manusia ini.
Orang cerdas suka salah ambil keputusan
Karena orang cerdas memiliki titik buta masing-masing, Feynman menganggap, orang dengan kecerdasan tinggi cenderung membuat lebih banyak kesalahan.
"Mereka mengandalkan kecerdasan dan penilaian mereka untuk mendapatkan jawaban, alih-alih mengajukan pertanyaan tambahan," kata dia.
Padahal, pertanyaan lanjutan dapat memperluas pengetahuan yang mungkin terlewat atau kurang diperhatikan.
"Mereka mengandalkan fakta bahwa mereka cerdas sampai-sampai mereka mengabaikan kemungkinan kalau mereka bisa saja keliru, salah arah, atau sekadar salah," ujarnya.
Ia menuturkan, ada sejumlah orang cerdas yang tidak terbuka untuk belajar karena merasa sudah mengetahui semuanya.
Padahal, kecerdasan sejati bukan terletak pada sikap mengandalkan keyakinan sendiri dan membenarkan kesalahan yang diperbuat.
"Kecerdasan yang sesungguhnya yaitu ketika Anda memasuki dunia yang belum diketahui dengan pikiran terbuka," tuturnya.
Feynman mengatakan, kecerdasan sejati ditunjukkan oleh sikap tidak takut bertanya dan mempercayai suatu jawaban jika belum teruji.
Mereka yang cerdas seharusnya menguji jawaban-jawaban berulang kali dari berbagai sudut pandang untuk menambah pengetahuan.(R-04)

