Lapangan Tua, Inovasi Baru: Strategi PHR Hadapi Tantangan Migas
Di tengah tekanan geopolitik, harga minyak fluktuatif, dan cuaca ekstrem, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Sumatra tetap meneguhkan langkah menjaga produksi migas nasional. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di tengah tekanan geopolitik, harga minyak fluktuatif, dan cuaca ekstrem, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Sumatra tetap meneguhkan langkah menjaga produksi migas nasional.
Mengelola aset tua di tengah tantangan zaman, PHR menjawab dengan strategi berbasis inovasi dan rekayasa teknologi.
Sepanjang semester pertama 2025, PHR menghadapi sejumlah hambatan operasional serius.
Tingginya curah hujan dan petir di wilayah Riau mengganggu sistem kelistrikan dan menghambat akses ke sumur-sumur tua yang membutuhkan perawatan. Ini turut memengaruhi kestabilan produksi di Wilayah Kerja Rokan.
"Kami terus bergerak untuk menutup gap produksi. Langkah-langkah teknis dilakukan mulai dari perbaikan kanal, tanggul, hingga rekayasa cuaca,” kata Direktur Utama PHR Regional 1 Sumatra, Ruby Mulyawan, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, dikutip Minggu (6/7/2025).
Selain rekayasa cuaca, PHR juga mempercepat pengeboran sumur pengembangan, serta layanan workover well service di sejumlah titik.
Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada strong engineering approach dan kolaborasi lintas fungsi.
Andalkan Teknologi dan Injeksi Kimia
Untuk menjaga dan meningkatkan produksi, PHR mengembangkan teknologi waterflood di 18 dari 93 lapangan yang dikelola.
Di Duri, proyek injeksi uap (steamflood) kembali dijalankan, dengan sumur pertama di Area 14 North Duri Development mulai diinjeksi Februari lalu.
Sementara itu, teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery juga mulai menunjukkan hasil.
Pilot project Simple Surfactant Flood (SSF) yang dilaksanakan di tiga pola, BLSO 075, BLSO 330, dan BLSO 353, mampu menghasilkan 40–70 barrel oil per day (BOPD) per pattern.
“Inisiatif ini bagian dari pencarian peluang perbaikan kinerja. Kami fokus pada pengembangan teknologi dan kerja lintas tim,” ujar Ruby.
Program lanjutan alkaline surfactant polymer di area A direncanakan mulai injeksi akhir Desember 2025.
Adapun injeksi polimer di lapangan Minas juga ditargetkan terealisasi tahun ini.
Dampak langsung dari proyek-proyek tersebut mulai terlihat. Produksi dari proyek steamflood, misalnya, naik 2.000–3.000 barrel per hari.
Inovasi juga dilakukan pada pengembangan minyak dan gas non-konvensional (MNK) serta pemanfaatan sumur horizontal dengan teknik multi-stage fracturing untuk lapisan reservoir berkualitas rendah.
Tekanan Global, Ketidakpastian Harga
Secara global, PHR menghadapi tekanan dari harga minyak mentah Brent yang melemah akibat ketidakpastian perdagangan. Konsumsi minyak global masih berada di bawah tren pra-pandemi.
Amerika Serikat dan China diperkirakan mengalami penurunan permintaan, sementara OPEC+ berencana menaikkan produksi hingga 1,2 juta barrel per hari hingga akhir 2025.
Di dalam negeri, tekanan justru bertambah dari faktor cuaca dan infrastruktur. Dalam jangka pendek, PHR fokus pada perbaikan jalur distribusi dan sumur untuk menjaga target produksi.
Sebagai informasi, pada 2025, PHR menyelesaikan proses restrukturisasi organisasi, mengintegrasikan Zona 1, Zona Rokan, dan Zona 4 ke dalam struktur Regional 1 Sumatra.
Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi, daya saing, serta menjamin pasokan energi nasional yang lebih stabil. Restrukturisasi ini sekaligus memperkuat posisi PHR sebagai penyumbang sepertiga produksi minyak Pertamina Subholding Upstream.
Dengan 70 tahun usia aset, tantangan pengelolaan lapangan tua menjadi agenda besar PHR untuk menjaga keberlanjutan energi nasional.(R-04)

