Hadiah Tak Terduga dari Bhayangkara : Polsek Tebingtinggi Barat Bedah Rumah untuk Sehat, Si Sepi Penjaga Gubuk di Desa Centai
Kepolisian Sektor (Polsek) Tebingtinggi Barat, di bawah naungan Polres Kepulauan Meranti, terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat dengan menggelar program sosial bedah rumah, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu. Foto : SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Dalam menyambut Hari Bhayangkara ke-79 Tahun 2025, bukan hanya gema perayaan atau seremoni yang menggema di Kepulauan Meranti, Riau. Namun, hadir pula sebuah aksi nyata yang menyentuh hati dan menebar harapan. Kepolisian Sektor (Polsek) Tebingtinggi Barat, di bawah naungan Polres Kepulauan Meranti, terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat dengan menggelar program sosial bedah rumah, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu.
Kali ini, sasaran dari kegiatan kemanusiaan itu adalah rumah seorang pria bernama Sehat (63), warga Jalan Peloncor, Desa Centai, Kecamatan Pulau Merbau. Sehat hidup sebatang kara di sebuah gubuk kecil tidak layak huni yang nyaris roboh. Tak bekerja, tak berpenghasilan tetap, kehidupan sehari-harinya hanya bertumpu pada belas kasih tetangga yang sesekali mengantarkan makanan. Di tengah ketidakpastian, Sehat bertahan hidup sendiri di gubuk reyotnya dengan semangat yang rapuh namun tak menyerah.
Namun, kisahnya berubah ketika kepedulian datang menyapa dalam wujud seragam cokelat muda.
“Beliau tinggal di rumah yang sangat memprihatinkan, bahkan bisa dikatakan tak layak disebut rumah. Atapnya bocor, dindingnya lapuk. Kita tak bisa tinggal diam melihat kondisi seperti ini,” ujar Kapolsek Tebingtinggi Barat, Iptu Iskandar Nopianto.
Program bedah rumah ini tidak dilakukan sendiri. Polsek menggandeng pemerintah kecamatan dan desa setempat. Kolaborasi ini menjadi sinyal kuat bahwa kepedulian tak bisa berjalan sendiri, namun ia harus tumbuh dalam kebersamaan.
Yang istimewa, tanah tempat rumah baru Sehat dibangun adalah hibah dari saudara dan warga lainnya. Ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong dan solidaritas masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.
“Ini bukan hanya soal membangun rumah, tapi membangun harapan. Semoga Pak Sehat bisa hidup lebih tenang dan nyaman di sisa usianya,” kata Iptu Iskandar.
Perayaan Hari Bhayangkara tahun ini tak hanya dirayakan dengan apel atau seremoni. Ia dihidupkan lewat aksi. Lewat kepedulian. Lewat rumah baru untuk seorang lelaki tua yang telah terlalu lama tinggal dalam kesunyian.
Aksi sosial yang dilakukan Kepolisian Sektor Tebingtinggi Barat, di bawah pimpinan Iptu Iskandar Nopianto yang memimpin langsung program bedah rumah ini bukan hanya bentuk amal, tetapi cerminan nyata dari semangat Polri untuk benar-benar hadir dalam denyut kehidupan masyarakat, khususnya mereka yang paling membutuhkan.
Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faoqi SH, S.IK, M.H., melalui Kapolsek Iskandar, menyebutkan bahwa kegiatan ini adalah wujud konkrit kepedulian Polres Kepulauan Meranti terhadap masyarakat kurang mampu.
“Kolaborasi dengan berbagai pihak akan terus kita lakukan untuk membantu masyarakat. Sebab masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan,” ujar Kapolsek.
Dengan semangat gotong royong, personel Polsek Tebingtinggi Barat dan masyarakat sekitar tak hanya membongkar rumah lama, tetapi juga membangunnya kembali dengan harapan baru dan struktur yang lebih layak. Sebuah simbol kehangatan antara aparat dan rakyat.
“Mudah-mudahan rumah ini bisa memberikan kenyamanan dan tempat tinggal yang layak bagi Pak Sehat. Inilah makna kehadiran Polri, bukan sekadar menjaga keamanan, tapi juga merawat kemanusiaan,” kata Kapolsek.
Ia menegaskan, Polri bukan hanya pelindung saat terjadi kekacauan atau konflik, tetapi juga pelayan masyarakat dalam arti yang lebih luas. Polri yang hadir saat tangis diam di pojok kampung, yang datang bukan karena panggilan darurat, tapi karena panggilan hati.
“Kita ingin membangun kebersamaan yang lebih hangat antara polisi dan masyarakat. Momentum HUT Bhayangkara ini harus menjadi ladang pengabdian, bukan hanya perayaan,” tuturnya.
Program ini selaras dengan tema besar HUT Bhayangkara ke-79 yakni Polri untuk Masyarakat, dan juga menggema dengan slogan Kapolda Riau, Menjaga Marwah, Melindungi Tuah. Dua kalimat yang sarat makna, dan kini menyatu dalam suara palu dan gergaji di Desa Centai.
Di tengah-tengah debu pembangunan dan peluh yang mengucur, tampak jelas dimana rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah wujud cinta. Wujud Bhayangkara yang bukan hanya berdiri gagah di pinggir jalan, tapi juga membungkuk rendah untuk membangun masa depan orang kecil.
Kepolisian Sektor Tebingtinggi Barat di bawah komando Iptu Iskandar Nopianto yang menginisiasi kegiatan bedah rumah itu bukan proyek besar-besaran, tetapi aksi yang lahir dari hati dan dari rasa peduli yang tak bisa dibiarkan hanya sebagai niat.
“Kegiatan ini didasarkan kepada kepedulian dan pengabdian kami untuk masyarakat. Kami mendengar informasi ini dan langsung bergerak bersama Bhabinkamtibmas serta pihak desa untuk membantu Pak Sehat,” ujar Iptu Iskandar.
Bripka M. Oktovian, Bhabinkamtibmas Desa Centai, menjadi ujung tombak pertama yang berkoordinasi dengan desa. Apa yang awalnya sekadar inisiatif sederhana, berubah menjadi gerakan kolaboratif yang hangat antara polisi, pemerintah desa, dan masyarakat.
Yang membuat momen ini semakin bermakna, Sehat diketahui lahir pada 1 Juli 1962, bertepatan dengan Hari Bhayangkara. Sebuah takdir yang terasa seperti panggilan dan seakan semesta ikut menyusun narasi, bahwa pada ulang tahunnya yang ke-63, Polri akan memberinya bukan hanya selamat ulang tahun, tapi juga sebuah tempat tinggal yang layak.
“Kami merasa iba. Kami hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi juga untuk merasakan apa yang dirasakan masyarakat kami. Kami ingin ulang tahun Bhayangkara kali ini benar-benar memberi arti,” ujar Iptu Iskandar.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, program ini adalah bentuk penghormatan Polsek Tebingtinggi Barat terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Dengan semangat Hari Bhayangkara, mereka ingin meningkatkan kualitas hidup masyarakat kurang mampu — mulai dari satu rumah, satu jiwa, dan satu harapan.
“Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya memperbaiki fisik rumah, tetapi juga membangun rasa kebersamaan dan kepedulian antarwarga,” pungkasnya.
Pagi itu, hari Minggu (15/6/2025), terasa berbeda. Bukan suara mesin atau kendaraan yang mendominasi, melainkan suara palu, gergaji dan tawa kebersamaan. Warga bahu membahu bersama anggota Polsek Tebingtinggi Barat membangunnya kembali menjadi rumah yang layak.
Semangat gotong royong terasa begitu kental. Para warga dengan sukarela membawa bahan bangunan, menyusun pondasi, hingga memaku dinding demi satu tujuan yakni menghadirkan hunian yang manusiawi bagi Sehat, yang selama ini tinggal di gubuk tak layak huni dan mengandalkan belas kasih tetangga untuk makan sehari-hari.
Dipimpin langsung oleh Kapolsek Tebingtinggi Barat, Iptu Iskandar Nopianto, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kepolisian tak hanya hadir dalam pengamanan, tetapi juga sebagai pelayan dan pengayom masyarakat dalam arti yang sesungguhnya.
“Ini bukan hanya soal membangun rumah, tetapi juga membangun harapan dan kemanusiaan,” ujar Iptu Iskandar sambil membantu mengangkat bahan bangunan.
Tak hanya aparat, Bhabinkamtibmas, aparat desa, dan warga sekitar bersatu dalam semangat solidaritas. Kepala Desa Centai, Abdul Latief, turut bersyukur atas kolaborasi yang terjalin. “Kami harap kerja sama seperti ini bisa terus hidup di tengah masyarakat. Ini bukti bahwa saat kita bersatu, tidak ada yang tak mungkin,” ujarnya.
Di sudut halaman, Sehat duduk memandangi rumah barunya yang mulai berdiri. Wajahnya yang renta tak mampu menyembunyikan kebahagiaan. Hari itu, yang dibangun bukan sekadar dinding dan atap, tapi juga kepercayaan dan kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan sejati masyarakat pedesaan.
Kini, sebuah rumah berdiri bukan hanya dari kayu dan paku, tetapi dari niat baik dan hati yang saling menyambut. Sebuah kado Bhayangkara, untuk seorang lelaki tua bernama Sehat yang akhirnya bisa tidur dengan tenang di rumah barunya.
Sehat, pria paruh baya yang hidup sebatang kara tak pernah membayangkan akan memiliki rumah sendiri. Apalagi rumah itu berdiri di atas tanah yang bahkan bukan miliknya — tanah hibah dari warga dan dibangun bukan oleh sanak saudara, melainkan oleh mereka yang biasa ia lihat lewat dengan seragam cokelat yakni Polisi Republik Indonesia.
Kepala Desa Centai, Abdul Latief, pun tak kuasa menyembunyikan rasa terima kasihnya.
“Kami sangat bersyukur dan terharu. Kolaborasi seperti ini harus terus terjalin, karena dengan saling bergandeng tangan, kita bisa menyentuh lebih banyak orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Kini, Sehat tak lagi hanya menatap hari dari bilik gubuk reyot. Ia punya rumah, punya harapan baru, dan yang paling penting ia tahu bahwa masih ada orang-orang yang peduli.
Rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol bahwa kebaikan bisa datang dari arah yang tak disangka. Dan bagi Sehat, itu datang dari tangan Bhayangkara yang memilih merayakan hari jadinya dengan memberi, bukan sekadar memperingati. (R-03)

