Pupus Harapan, KMP Berembang Tinggalkan Selatpanjang: Jalur Impian ke Batam dan Karimun Tinggal Kenangan?
Di tengah tenangnya riak Selat Air Hitam, tepat di hadapan Kota Selatpanjang, selama berbulan-bulan sebuah kapal berwarna putih itu diam tak berlayar. Foto : Istimewa
SABANGMERAUKE NEWS, Selatpanjang - Di tengah tenangnya riak Selat Air Hitam, tepat di hadapan Kota Selatpanjang, selama berbulan-bulan sebuah kapal berwarna putih itu diam tak berlayar. Ia menjadi saksi bisu akan mimpi besar Pemkab Kepulauan Meranti yang akan membuka jalur pelayaran ke Batam, Tanjung Balai Karimun, dan Tanjung Pinang. Namun kini, mimpi itu kandas.
Kapal penyeberangan Roll On/Roll Off (RoRo) KMP Berembang resmi diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Harapan yang sebelumnya digantungkan pada KMP Berembang untuk menjadi tulang punggung konektivitas maritim Kepulauan Meranti itu kini harus dilepaskan.
KMP Berembang yang memiliki kapasitas 200 penumpang, mampu mengangkut 25 mobil dan 100 kendaraan roda dua. Kapal itu memilikiberbobot 724 GT dengan mesin 2x823 daya kuda dan kecepatan hingga 12 knot.
Kamis malam, 12 Juni 2025, KMP Berembang menjejak pelabuhan baru di Parit 21, Tembilahan. Kapal yang dahulu menjadi harapan Kepulauan Meranti, kini menjadi sejarah baru di Inhil — sebagai kapal RoRo pertama yang merapat di Tembilahan.
Padahal, sebelumnya KMP Berembang adalah kapal yang cukup berjasa. Ia sempat menghidupkan jalur Kampung Balak – Tanjung Buton, bahkan berpindah ke Sungai Selari, Bengkalis. Namun sejak rute-rute tersebut perlahan ditutup dan diambil alih oleh kapal lain, ia terdampar — diam dalam ketidakpastian di perairan Selatpanjang.
Pemkab Kepulauan Meranti sejatinya tak tinggal diam. Pengajuan rute baru ke Kementerian Perhubungan telah dilayangkan. Harapan besar disematkan agar KMP Berembang bisa menghubungkan Meranti langsung ke jalur perdagangan utama di kawasan perbatasan.
Dimana waktu itu Bupati Kepulauan Meranti AKBP (Purn) H. Asmar, langsung menggelar pertemuan dengan Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhy di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Jakarta Pusat, 6 Mei 2025 lalu.
Namun waktu terus berjalan, dan keputusan tak kunjung datang. KMP Berembang pun hanya menjadi “penghuni tetap” perairan Selatpanjang — tidak digunakan, tidak juga dirawat maksimal. Hingga akhirnya, tawaran dari Inhil menjadi tak terelakkan, dan kapal itu kini resmi meninggalkan Kepulauan Meranti, dan siap mengarungi rute baru Tembilahan-Batam.
KMP Berembang telah pergi. Dan dengan kepergiannya, tertutup sudah satu babak rencana besar konektivitas Kepulauan Meranti ke jalur-jalur strategis luar provinsi. Tinggal angin laut yang masih berembus di Selat Air Hitam, mengingatkan pada sebuah harapan yang pernah tumbuh, namun tak pernah sempat berlayar.
Tak sedikit masyarakat yang kecewa. Mereka merasa telah kehilangan kesempatan besar untuk membuka jalur konektivitas baru yang bisa mendongkrak ekonomi daerah. Apalagi setelah sebelumnya beredar kabar bahwa Meranti tengah mengajukan rute baru ke Kementerian Perhubungan.
"Kapal itu bisa jadi peluang besar untuk kita. Kalau rute ke Batam atau Tanjung Balai Karimun dibuka, jelas kita ini akan sangat terbantu. Barang-barang bisa lebih cepat sampai, biaya lebih ringan, dan kita juga bisa kirim hasil laut dan pertanian lebih gampang," ungkap Rahmat, seorang pedagang kelontong di Jalan Rintis.
Masyarakat merasa seperti disisihkan dalam permainan besar yang tak mereka pahami. Mereka bertanya-tanya, kenapa kapal yang selama ini parkir di perairan Meranti justru diambil daerah lain, sementara Meranti sendiri masih tertatih dalam urusan transportasi laut.
“Kalau dulu kami semangat nanya kapan kapal ini jalan lagi, sekarang malah kecewa dengar dia pergi ke tempat lain,” ujar Ibu Tia, warga Alah Air yang sering bepergian ke luar daerah untuk menjual hasil kerajinan sagu.
Bagi masyarakat, KMP Berembang bukan sekadar kapal. Ia adalah simbol harapan akan kemajuan, keterhubungan, dan peluang. Kini, setelah “diambil” oleh pihak lain, yang tersisa hanyalah rasa kecewa, pertanyaan tanpa jawaban, dan secuil keraguan apakah perjuangan untuk konektivitas daerah hanya akan selalu tertinggal selangkah?.
Angin sore di Selatpanjang sore itu berhembus pelan, seolah menyampaikan kabar kehilangan. Di tengah riuh pelabuhan, satu cerita membuat suasana menjadi muram. KMP Berembang, kapal yang pernah menjadi tulang punggung konektivitas Kepulauan Meranti, kini telah resmi diambil alih oleh Pemkab Inhil. Dan bersama kepergiannya, pupus pula sebuah harapan yang lama dibangun.
Kabar ini bukan sekadar soal berpindahnya kapal. Bagi Mulyono, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kepulauan Meranti, ini adalah luka yang dalam. Sebagai pihak yang sejak awal mengawasi dan mendorong kebijakan transportasi antarpulau, ia mengaku sangat sedih dan prihatin dengan keputusan itu.
"Saya sangat sedih dan prihatin dengan hal ini. Bagaimana mungkin yang dulunya kita perjuangkan dengan susah payah bisa diambil orang lain begitu saja," ujar Mulyono, dengan nada lirih namun tegas.
KMP Berembang bukan sekadar kapal. Ia adalah simbol konektivitas daerah kepulauan yang berusaha keras menjangkau daratan Sumatera, kapal ini membawa harapan ribuan warga untuk mobilitas, perdagangan, dan kehidupan yang lebih baik.
Sebagai wakil rakyat, Mulyono sudah lama menyuarakan pentingnya keberadaan dua kapal RoRo aktif di Kepulauan Meranti. Satu untuk operasional harian, dan satu lagi sebagai cadangan jika kapal seperti KMP Tirus mengalami kendala.
"Keberadaan KMP Berembang tidak boleh dibiarkan terbengkalai. Meranti harus punya minimal dua kapal RoRo yang aktif. Kita ini daerah kepulauan, bukan daratan, maka koneksi ke Sumatera sangat vital," tegas Mulyono saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Lebih jauh lagi, Mulyono juga pernah mengungkapkan bahwa trayek RoRo Meranti-Dumai akan ditutup, dan Pemkab Kepulauan Meranti sudah mengajukan rute baru ke Punggur, Batam. Sebuah langkah strategis yang akan membuka jalur ekonomi baru ke Kepulauan Riau — provinsi tetangga yang secara geografis lebih dekat dari ibukota provinsi, Pekanbaru.
Namun, semuanya kini terasa mengecewakan. KMP Berembang telah pergi. Dan dengan kepergiannya, peluang besar itu terpaksa direlakan atau bahkan harus dibangun dari nol lagi.
"Kalau rute ke Kepulauan Riau sudah dibuka, dan KMP Berembang sudah tidak ada, kita mau pakai kapal apa lagi? Jangan sampai kita menyesal. Harusnya ini bisa kita jaga," ucap Mulyono, getir.
Ia pun mengajak Pemkab Kepulauan Meranti untuk bergerak cepat dan tegas. Bukan untuk menangisi kapal yang telah pergi, tetapi untuk merebut peluang-peluang baru dan menyusun strategi agar tidak kehilangan lagi sumber daya penting lainnya.
"Kalau soal kebutuhan, kita ini yang paling perlu. Kita jauh dari ibukota provinsi. Justru lebih mungkin untuk terhubung ke Batam dan Karimun. Jangan sampai pemerintah daerah terlihat lemah di hadapan kepentingan yang lebih kuat," pungkas Mulyono.
Di tengah kecewa masyarakat dan harapan yang sempat terbangun, ada satu sosok yang terus bergerak dalam diam—Agusyanto Bakar, Kepala Dinas Perhubungan Kepulauan Meranti.
Dikonfirmasi terkait nasib KMP Berembang, Agusyanto membenarkan bahwa kapal yang sebelumnya direncanakan untuk melayani jalur ke Kepulauan Riau kini telah resmi diambil alih oleh Pemkab Inhil. Ia tak menutupi rasa kehilangan, namun tidak pula larut dalam kekecewaan.
“Kita sudah melaporkan kondisi ini kepada Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar. Kami meminta agar segera dilakukan koordinasi lanjutan dengan pihak terkait, agar harapan konektivitas laut kita tidak ikut tenggelam bersama kapal itu,” ungkap Agusyanto dengan nada tenang namun penuh makna.
Menurutnya, terlalu disayangkan jika kapal sebesar KMP Berembang hanya terparkir di laut, tanpa ada kepastian operasional. Sementara Kepulauan Meranti, sebagai daerah kepulauan, sangat mengandalkan moda transportasi laut untuk mendukung kehidupan ekonomi, pendidikan, dan sosial warganya.
Namun meski harus merelakan kapal itu berpindah tangan, Agusyanto membawa secercah harapan dari hasil koordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Ia menyebut bahwa saat pengajuan trayek baru menuju Batam dan Tanjung Balai Karimun, kementerian tidak hanya mempertimbangkan izin rute, tapi juga berencana memberikan solusi menyeluruh.
“Memang kita pasrahkan saja jika kapal itu harus dipindahkan, daripada hanya terbiarkan begitu saja di tengah laut. Tapi ini tidak jadi masalah besar. Kami sudah berkoordinasi dan pihak kementerian memberi sinyal positif saat izin trayek keluar, maka kapal baru juga akan disiapkan untuk melayani rute tersebut,” jelasnya.
Agusyanto menyebut ini sebagai solusi ganda—izin trayek baru sekaligus kapal pengganti. Harapan pun kembali tumbuh, bahwa pelayaran dari Kepulauan Meranti menuju pusat-pusat ekonomi seperti Batam dan Tanjung Balai bukan lagi angan-angan kosong. Meskipun KMP Berembang telah pergi, semangat untuk membangun konektivitas laut tetap menyala, menunggu kapal baru yang akan mengarungi jalur yang sudah lama dinanti. (R-03)

