Jikalahari: Deforestasi Konsesi Perusahaan HTI Terafiliasi APRIL Group di Indragiri Hulu Tembus 47.177 Hektare
Wakil Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Arpiyan Sargita saat memberi pemaparan tentang hasil monitoring performa sektor HTI selama periode 1994-2020 dalam Forum Dialog Pemangku Kepentingan Implementasi Kebijakan Forest Stewardship Council (FSC) di Aula Bappeda Indragiri Hulu, pada Selasa (6/5/2025). Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) memaparkan hasil monitoring performa sektor Hutan Tanaman Induatri (HTI) selama periode 1994-2020 dalam Forum Dialog Pemangku Kepentingan Implementasi Kebijakan Forest Stewardship Council (FSC) di Aula Bappeda Indragiri Hulu, pada Selasa (6/5/2025).
Dalam pemaparannya, Jikalahari mengungkap terjadi pengurangan hutan secara signifikan atau deforestasi di dalam konsesi milik perusahaan yang tergabung dalam Grup Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) di Inhu mencapai 47.177 hektare. Adapun total luasan konsesi HTI dari beberapa korporasi terafiliasi APRIL Grup di wilayah tersebut seluas 65.289 hektare.
“Luasan konsesi HTI dari seluruh perusahaan yang tergabung dari APRIL Grup sekitar 7,8 persen atau 65.289 hektar dari total luasan Kabupaten Indragiri Hulu yaitu 826.744 hektar,” kata Wakil Koordinator Jikalahari, Arpiyan Sargita.
Arpiyan merinci luasan deforestasi pada masing-masing korporasi HTI milik April Grup di Inhu. Di antaranya, PT Rimba Lazuardi seluas 1.743 hektar, PT Mitra Kembang Selaras seluas11.267 hektar, PT Bukit Betabuh Sungai Indah seluas 12.286 hektar, PT Citra Sumber Sejahtera seluas 15.385, PT Sumatera Riang Lestari seluas 2.429 hekar, PT Rimba Peranap Indah 3.862 hektar dan PT Riau Andalan Pulp an Paper seluas 204 hektar.
“Jadi berdasarkan data tutupan hutan alam dan deforestasi periode 2000-2024 tercatat luas deforestasi dalam konsesi HTI pada korporasi yang tergabung dalam APRIL Grup di Inhu seluas 47.177 hektar,” paparnya.
Jikalahari juga membeberkan dampak kehadiran korporasi HTI APRIL Grup di Inhu. Yakni terjadinya konflik lahan dengan masyarakat dan tidak patuhnya korporasi HTI terhadap aturan restorasi lahan pasca kebakaran.
“Terjadi konflik PT Rimba Peranap Indah dengan masyarakat pada 2020, berdasarkan investigasi yang Jikalahari lakukan kami menemukan ada tanaman masyarakat yang diduga diracun oleh pihak perusahaan,” ungkap Arpiyan.
“Kemudian kami juga melakukan investigasi di areal konsesi PT Mitra Kembang Selaras pada 2021. Kami menemukan areal mereka yang terbakar pada 2015-2017 harusnya di restorasi oleh perusahaan baik itu secara alami ataupun buatan. Akan tetapi, pada 2021, kami menemukan areal tersebut ditanami akasia,” imbuhnya.
Diketahui, APRIL Grup dan FSC menandatangani perjanjian remedy framework yang menjadi awal penerapan proses perbaikan pada November 2023 lalu.
FSC adalah lembaga sertifikasi bidang kehutanan yang menyiapkan pengembangan standar pengelolaan hutan berkelanjutan.
Dalam kebijakan FSC, jika APRIL Grup ingin mendapatkan sertifikasi dari FSC, maka mereka harus mematuhi semua persyaratan remedy framework dari FSC yaitu memulihkan kerugian lingkungan dan sosial yang disebabkan oleh kegiatan perusahaannya di masa lalu.
Sementara itu, sertifikat FSC adalah sertifikasi yang menjamin pengelolaan hutan secara bertanggung jawab dan lestari, serta memastikan keterlacakan produk kayu dari hutan ke konsumen akhir. Ada dua jenis sertifikasi FSC yaitu sertifikasi pengelolaan hutan (forest management) dan sertifikasi lacak balak (chain of custody).
Sertifikasi ini memberikan jaminan bahwa produk kayu yang menggunakan label FSC berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab, memenuhi standar sosial, lingkungan, dan ekonomi.
Jikalahari lantas meminta Pemerintah Kabupaten Inhu ikut mengawal implementasi kebijakan FSC.
“Masyarakat yang terdampak dan terpengaruh akibat aktivitas APRIL Grup dapat dilibatkan dalam proses tanpa ada tekanan,” ujar Arpiyan.
“Kami juga meminta FSC Indonesia membuka partisipasi publik untuk memantau proses FSC yang sedang dilakukan APRIL Grup,” pungkasnya. (KB-01/Rachdinal)

