Jaga Marwah Daerah di Tengah Krisis, Wakil Bupati Muzamil: Pemimpin yang Memecah Masalah, Bukan Menjaga Kekuasaan
Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin SM, MM. Foto: SM News
SABANGMERAUKE NEWS, Riau - Di balik geliat pembangunan yang dilakukan dan harapan pasca-Lebaran, pemerintah daerah kini tengah menghadapi kenyataan pahit, dimana sejumlah sumber pendapatan yang menjadi tulang punggung dan penopang APBD mengalami penurunan. Tambah parah, akibat rasionalisasi dari pemerintah pusat membuat pendapatan makin menyusut dan ruang gerak semakin sempit. Tapi di tengah tekanan itu, Pemkab Kepulauan Meranti memilih untuk tidak menyerah.
Di tengah situasi sulit ini, Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin SM, MM, angkat suara. Dalam pernyataannya yang disampaikan dengan nada tenang namun tegas, ia tidak menutup-nutupi kondisi fiskal daerah yang mulai goyah.
“Beberapa sektor APBD mengalami penurunan. Untuk itu kita terpaksa buat kebijakan yang tidak populer,” ucapnya, seolah menyadarkan bahwa badai sedang datang, dan kebijakan harus berpijak pada realitas.
Muzamil menyampaikan dengan jujur dan terbuka bahwa dirinya tak lagi berbicara tentang visi-misi bersama Bupati AKBP (Purn) H Asmar yang dulu dijanjikan saat kampanye. Karena realitas hari ini menuntut lebih dari sekadar janji. Ia memilih jalan yang lebih sunyi tapi bermartabat yakni menyelamatkan masyarakat dengan anggaran seadanya.
“Tidak ada lagi kebijakan strategis. Tidak ada lagi mengejar visi dan misi. Yang ada saat ini adalah bagaimana kita menyelamatkan masyarakat. Itu tujuannya,” ujarnya
Muzamil dan tim TAPD kini menyiapkan opsi penghematan yang telah diajukan ke DPRD. Alih-alih mencari jalan pintas dengan melalui pinjaman daerah kepada lembaga keuangan, pemerintah mengambil langkah sunyi penghematan. Opsi-opsi efisiensi itu kini tengah dibahas bersama Badan Anggaran DPRD, sebuah upaya yang menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal popularitas, melainkan keberanian membuat keputusan.
Kata Muzamil, pihaknya kini lebih memilih menyesuaikan diri dengan kemampuan keuangan daerah. Baginya, menyelesaikan masalah lebih penting daripada menjaga pencitraan kekuasaan.
"Bagi kami, tidak lagi di puncak kekuasaan, tapi kita masuk dalam persoalan sebagai problem solver,” tegasnya, seakan ingin mengingatkan bahwa kekuasaan yang sejati adalah yang hadir saat masyarakat butuh pertolongan.
Ia paham, menjadi pemimpin bukanlah tentang berdiri di menara gading, tapi tentang menyingsingkan lengan, menapak lumpur, dan ikut memikul beban masyarakat.
Namun ia sadar, seorang kepala daerah tak akan mampu berjalan sendiri. Ia pun mengajak seluruh pegawai dari OPD, kecamatan, kelurahan hingga desa untuk menyatu dalam semangat pengabdian. Mereka adalah ujung tombak, bukan hanya struktur birokrasi, tetapi benteng pertahanan moral Kepulauan Meranti.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pegawai dari OPD sampai desa yang menjadi garda terdepan. Mari kita atasi persoalan bersama. Jangan kaitkan ini lagi dengan politik. Kami tidak punya waktu untuk dendam. Nanti kita sakit. Kerjaan kita masih banyak,” tuturnya bijak.
Muzamil ingin mengajak semua pihak untuk mengubur dendam politik dan mulai merawat kampung ini dengan hati, dengan kerja keras, dan dengan cinta terhadap marwah daerah. Di tengah keterbatasan, ia justru menanam harapan bahwa jika komunikasi berjalan cair, dan ego disingkirkan, Kepulauan Meranti bisa tetap berdiri tegak.
Karena di tengah krisis dan badai fiskal yang menerpa, bukan jabatan yang diuji, melainkan niat. Dan dalam sunyi, pemimpin sejati akan tetap memilih untuk hadir sebagai penjawab, bukan penonton.
"Mari kita urus kampung ini, nama baik dan marwah daerah kita,” tutur Muzamil, menutup pernyataannya dengan ketulusan seorang anak kampung yang hanya ingin melihat tanah kelahirannya tumbuh dan bermartabat. (R-01)

