Ketika Air Mata Mengiringi Perpisahan, AKBP Aldi Alfa Faroqi Tinggalkan Kepulauan Meranti dengan Segudang Kenangan dan Prestasi
perpisahan AKBP Aldi Alfa Faroqi, S.H., S.I.K., M.H. bersama keluarga besar Polres Kepulauan Meranti, Sabtu (18/7/2026). Foto : Istimewa
SELATPANJANG, SabangMerauke News – Tidak semua perpisahan dapat diucapkan dengan kata-kata. Ada yang justru tersampaikan lewat mata yang berkaca-kaca, genggaman tangan yang tak ingin dilepaskan, dan keheningan yang menyelimuti ruangan. Begitulah suasana yang mengiringi perpisahan AKBP Aldi Alfa Faroqi, S.H., S.I.K., M.H. bersama keluarga besar Polres Kepulauan Meranti, Sabtu (18/7/2026).
Setelah lebih dari satu tahun mengemban amanah sebagai Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi kini dipercaya melanjutkan pengabdian di tempat baru sebagai Kapolres Rokan Hilir. Promosi jabatan tersebut merupakan bagian dari rotasi dan penyegaran organisasi di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Tongkat estafet kepemimpinan Polres Kepulauan Meranti selanjutnya resmi diemban AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita, S.I.K., perwira menengah yang sebelumnya menjabat sebagai Kasubdit III Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Riau.
Prosesi pergantian kepemimpinan berlangsung penuh makna. Dalam rangkaian Farewell Parade, AKBP Aldi Alfa Faroqi bersama Ketua Bhayangkari Cabang Kepulauan Meranti, Ny. Esti Aldi Alfa, tiba di Selatpanjang menggunakan helikopter dari Pekanbaru. Kedatangan mereka menjadi bagian dari prosesi penghormatan terakhir sebagai Kapolres Kepulauan Meranti sekaligus penyambutan bagi pemimpin baru.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi adat Tepuk Tepung Tawar, sebagai simbol doa dan harapan agar kepemimpinan baru diberikan keselamatan serta keberkahan dalam menjalankan tugas. Suasana kemudian berlanjut dengan paparan laporan satuan, yang memuat berbagai informasi strategis mengenai kondisi keamanan wilayah, capaian kinerja, hingga program-program yang telah berjalan sebagai bekal bagi kepemimpinan berikutnya.
Momen kenal pamit berlangsung khidmat. Tayangan video perjalanan pengabdian pejabat lama dan pejabat baru diputar di hadapan seluruh tamu undangan. Potongan demi potongan dokumentasi selama memimpin Polres Kepulauan Meranti seolah mengajak seluruh hadirin kembali mengenang perjalanan yang telah dilalui bersama.
Ketika tiba saatnya menyampaikan sambutan, suasana berubah menjadi begitu emosional.
Dengan suara yang beberapa kali bergetar, AKBP Aldi Alfa Faroqi menyampaikan salam perpisahan kepada seluruh personel, Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh agama, insan pers, serta masyarakat Kepulauan Meranti yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya.
Air mata tak mampu lagi dibendung. Beberapa kali ia menghentikan kalimatnya sejenak untuk menahan haru. Begitu pula saat menyalami satu per satu anggota Polres Kepulauan Meranti. Di balik kaca matanya, ia beberapa kali terlihat menyeka air mata yang tak kuasa disembunyikan.
Usai acara, saat ditanya mengenai perasaannya, AKBP Aldi mengaku dirinya sendiri tidak menyangka akan larut dalam suasana perpisahan tersebut.
"Selama saya berdinas, baru kali ini pecah banget seperti kemarin. Saya spontan saja merasakan kesedihan," ujarnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Menurutnya, rasa haru itu lahir bukan semata karena berpindah tugas, melainkan karena hubungan kekeluargaan yang telah terjalin begitu erat selama memimpin Polres Kepulauan Meranti.
Baginya, Kepulauan Meranti bukan sekadar wilayah penugasan. Daerah perbatasan itu telah menjadi tempat yang menghadirkan begitu banyak pengalaman, persahabatan, dan kenangan yang akan terus dikenangnya di mana pun bertugas.
Ia mengaku keberhasilan menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat selama ini tidak mungkin dicapai tanpa dukungan seluruh personel, Forkopimda, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga insan media yang selalu menjaga komunikasi dan sinergi.
Keakraban yang terbangun, menurutnya, menjadi modal utama sehingga Polres Kepulauan Meranti mampu menorehkan berbagai prestasi dan memperoleh apresiasi dari pimpinan Polda Riau. Situasi keamanan yang tetap kondusif menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi seluruh elemen masyarakat telah berjalan dengan baik.
"Para Forkopimda, tokoh-tokoh masyarakat, dan kawan-kawan media semuanya guyub. Rasanya seperti keluarga sendiri," tuturnya.
Ungkapan sederhana itu seolah menjadi penutup dari sebuah perjalanan pengabdian yang meninggalkan kesan mendalam. Bagi AKBP Aldi Alfa Faroqi, Kepulauan Meranti bukan hanya tempat menjalankan tugas sebagai seorang polisi, melainkan rumah kedua yang telah mengajarkan arti kebersamaan, kekompakan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pergantian kepemimpinan memang menjadi bagian dari dinamika organisasi Polri. Namun bagi keluarga besar Polres Kepulauan Meranti, sosok AKBP Aldi Alfa Faroqi akan tetap dikenang sebagai pemimpin yang meninggalkan jejak melalui kedekatan dengan anggota, sinergi bersama seluruh unsur daerah, serta komitmennya menjaga Kepulauan Meranti tetap aman, damai, dan kondusif.
Kabupaten kepulauan yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka, perang melawan narkotika bukanlah tugas yang sederhana. Hamparan laut yang luas, ratusan jalur tikus, serta kedekatan dengan negara tetangga menjadikan Kepulauan Meranti sebagai salah satu wilayah yang rawan dimanfaatkan jaringan narkotika internasional untuk menyelundupkan barang haram ke Indonesia.
Di tengah tantangan itu, nama AKBP Aldi Alfa Faroqi meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Selama memimpin Polres Kepulauan Meranti, ia dikenal sebagai sosok yang tidak hanya hadir dalam berbagai kegiatan seremonial, tetapi juga aktif turun langsung ke lapangan. Mulai dari penanganan kasus kriminal, pemberantasan narkotika, pengamanan agenda masyarakat, hingga membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, insan pers, organisasi kepemudaan, dan berbagai komunitas demi menjaga stabilitas keamanan di kabupaten paling timur Provinsi Riau tersebut.
Bagi masyarakat Kepulauan Meranti, pengabdian seorang Kapolres tidak hanya diukur dari lamanya menjabat, melainkan dari jejak yang ditinggalkan.
Selama 1 tahun 3 bulan 13 hari, sejak Surat Telegram Kapolri diterbitkan pada 12 Maret 2025 hingga mutasi jabatan pada 25 Juni 2026, AKBP Aldi Alfa Faroqi mencatatkan salah satu capaian terbesar dalam sejarah pemberantasan narkotika di Polres Kepulauan Meranti.
Wilayah yang selama ini dikenal sebagai pintu masuk strategis dari perairan internasional menjadi medan yang tidak pernah sepi dari ancaman penyelundupan narkoba.
Posisi geografis Kepulauan Meranti yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat jalur laut menjadi tantangan tersendiri bagi aparat kepolisian. Perairan yang luas dan banyaknya akses masuk menjadikan wilayah ini kerap dimanfaatkan sindikat lintas negara untuk menyelundupkan narkotika menuju berbagai daerah di Indonesia.
Namun, tantangan tersebut justru melahirkan sederet keberhasilan besar.
Di bawah kepemimpinan AKBP Aldi Alfa Faroqi, Polres Kepulauan Meranti berhasil membongkar sejumlah jaringan narkotika internasional dengan barang bukti yang nilainya mencapai puluhan miliar rupiah. Pengungkapan itu bahkan menjadi yang terbesar sejak Polres Kepulauan Meranti berdiri.
Salah satu operasi paling monumental berhasil menggagalkan penyelundupan 30.713 gram sabu-sabu, atau sekitar 30,7 kilogram, yang diduga berasal dari jaringan lintas negara.
Tidak hanya itu, petugas juga menyita 24.302 gram Happy Water bermerek Lamborghini, salah satu jenis narkotika sintetis yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar gelap dan mulai marak beredar di berbagai negara Asia.
Pengungkapan tersebut semakin menunjukkan bagaimana jaringan narkotika terus berinovasi dalam memasarkan barang haram mereka.
Tak berhenti di situ. Petugas kembali menemukan 745 cartridge vape berisi cairan yang diduga mengandung narkotika golongan II bermerek Popeye. Polisi juga menyita 289 cartridge lainnya dengan variasi warna hijau, merah muda, dan ungu yang diduga mengandung zat berbahaya.
Temuan itu menjadi alarm baru bagi aparat penegak hukum. Rokok elektrik yang selama ini dikenal sebagai perangkat gaya hidup modern ternyata mulai dimanfaatkan sebagai media baru penyelundupan narkotika.
Modus peredaran barang haram pun berubah.
Bukan lagi hanya berbentuk paket sabu atau pil, tetapi telah bertransformasi menjadi liquid rokok elektrik yang jauh lebih sulit dikenali masyarakat.
Belum lama berselang, Satresnarkoba Polres Kepulauan Meranti kembali mencatatkan prestasi yang tidak kalah besar.
Dalam operasi lainnya, aparat berhasil menggagalkan penyelundupan 27 kilogram sabu yang dikemas dalam 27 paket, terdiri atas 17 paket bermerek Chinese Pin Wei dan 10 paket bermerek Gold Leaf, yang diduga berasal dari jaringan narkotika internasional.
Selain itu, polisi kembali mengamankan 260 cartridge vape yang diduga mengandung etomidate, obat anestesi yang belakangan disalahgunakan sebagai campuran liquid rokok elektrik dan menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena efeknya yang membahayakan kesehatan.
Rentetan pengungkapan tersebut menjadi bukti bahwa ancaman narkotika di wilayah perbatasan terus berkembang.
Sindikat internasional tidak lagi hanya mengandalkan cara-cara lama, tetapi terus memanfaatkan berbagai teknologi dan produk baru untuk mengelabui aparat.
Karena itu, keberhasilan Polres Kepulauan Meranti bukan sekadar soal banyaknya barang bukti yang berhasil disita. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi bentuk perlindungan terhadap ribuan generasi muda dari ancaman narkotika yang setiap saat dapat masuk melalui wilayah perairan perbatasan.
Bagi AKBP Aldi Alfa Faroqi, setiap kilogram narkotika yang berhasil digagalkan bukan hanya angka dalam laporan penegakan hukum. Di balik setiap pengungkapan, terselamatkan ribuan jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkoba, sekaligus mempersempit ruang gerak jaringan narkotika internasional yang menjadikan Kepulauan Meranti sebagai salah satu pintu masuk ke Indonesia.
Perang melawan narkotika memang menjadi salah satu catatan paling menonjol selama kepemimpinan AKBP Aldi Alfa Faroqi. Namun, pengabdian perwira menengah Polri itu tidak berhenti pada pemberantasan barang haram semata.
Selama memimpin Polres Kepulauan Meranti, hampir setiap persoalan hukum yang meresahkan masyarakat menjadi perhatian serius. Mulai dari tindak pidana korupsi, pencurian, kekerasan seksual, penyelundupan satwa dilindungi, hingga berbagai bentuk kejahatan konvensional lainnya berhasil diungkap bersama jajaran.
Salah satu perkara yang sempat menyita perhatian publik adalah pengungkapan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan kopi yang menyeret seorang tersangka. Kasus tersebut menjadi bukti bahwa penegakan hukum tidak hanya menyasar kejahatan jalanan, tetapi juga menyentuh dugaan penyalahgunaan keuangan negara yang merugikan masyarakat.
Perhatian terhadap perlindungan kelompok rentan juga menjadi bagian penting dalam penegakan hukum. Berbagai perkara pelecehan seksual dan tindak kekerasan terhadap perempuan maupun anak ditangani secara serius. Bagi AKBP Aldi Alfa Faroqi, setiap korban berhak memperoleh keadilan, sementara setiap pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Berbagai pengungkapan itu menjadi potret bahwa penegakan hukum di Kepulauan Meranti dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada satu jenis kejahatan, tetapi menyentuh seluruh aspek yang berpotensi mengganggu keamanan, ketertiban, serta rasa keadilan masyarakat.
Di balik setiap konferensi pers, setiap tersangka yang diamankan, dan setiap barang bukti yang disita, tersimpan kerja panjang para personel kepolisian yang harus berjibaku siang dan malam di wilayah kepulauan dengan tantangan geografis yang tidak mudah. Semua itu menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.
Kini, ketika masa kepemimpinan AKBP Aldi Alfa Faroqi di Kepulauan Meranti telah berakhir, berbagai pengungkapan kasus tersebut bukan sekadar deretan angka dalam laporan tahunan. Ia telah menjadi bagian dari jejak pengabdian yang akan dikenang sebagai upaya menjaga marwah hukum, melindungi masyarakat, dan memastikan bahwa di wilayah perbatasan sekalipun, negara tetap hadir melalui penegakan hukum yang tegas, profesional, dan berkeadilan.
Dalam sambutan terakhir di Polres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi mengatakan, selama menjabat sebagai Kapolres dirinya bersama keluarga merasakan kehangatan masyarakat serta kekompakan seluruh unsur pemerintahan dan pemangku kepentingan di daerah. Menurutnya, kebersamaan tersebut menjadi modal utama dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif.
"Hati saya tertanam di wilayah Meranti. Ini bukan sekadar ucapan, tetapi karena begitu banyak kenangan dan pengalaman yang sangat berarti bagi saya dan keluarga. Semua itu akan terus menjadi kenangan indah di mana pun kami bertugas nantinya," ujar AKBP Aldi.
Ia menilai semangat kebersamaan yang dimiliki Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi salah satu kekuatan daerah. Kekompakan antara pemerintah daerah, aparat keamanan, instansi vertikal, tokoh masyarakat, hingga seluruh elemen masyarakat dinilai mampu menciptakan stabilitas yang kondusif selama dirinya memimpin Polres Kepulauan Meranti.
Atas dukungan tersebut, AKBP Aldi menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Bupati Kepulauan Meranti, Ketua DPRD, Forkopimda, para pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama, insan pers, serta seluruh masyarakat yang selama ini telah mendukung pelaksanaan tugas kepolisian.
Menurutnya, Kepulauan Meranti kini telah menjadi daerah yang semakin dikenal luas, termasuk di lingkungan Polda Riau. Berbagai agenda daerah dinilai berhasil menarik perhatian pimpinan Polda Riau untuk hadir secara langsung, baik pada kegiatan berskala lokal maupun nasional.
Salah satu momentum yang paling membanggakan, kata dia, adalah pelaksanaan Festival Perang Air yang telah masuk dalam kalender event nasional. Pada kegiatan tersebut, Kapolda Riau, Wakapolda Riau, Irwasda Polda Riau beserta jajaran pejabat utama dan Bhayangkari turut hadir untuk menyaksikan secara langsung kemeriahan budaya masyarakat Kepulauan Meranti.
Dalam kesempatan itu, AKBP Aldi juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kepulauan Meranti apabila selama menjalankan tugas terdapat sikap, tindakan maupun pelayanan yang kurang berkenan. Ia menegaskan, sebagai seorang pemimpin, seluruh kekurangan yang terjadi selama masa kepemimpinannya merupakan tanggung jawab moral dirinya.
"Apabila ada kesalahan anggota selama saya memimpin, itu bukan semata-mata kesalahan mereka, tetapi menjadi tanggung jawab saya sebagai pimpinan. Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya atas segala kekhilafan, baik secara pribadi maupun atas nama keluarga dan institusi," ucapnya.
Ia berharap tali silaturahmi yang telah terjalin selama bertugas di Kepulauan Meranti tidak akan terputus meskipun dirinya kini mendapat amanah baru di tempat lain. Menurutnya, hubungan baik yang telah dibangun selama ini akan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan karier dan kehidupan pribadinya.
Menjelang penutupan kegiatan, prosesi pelepasan AKBP Aldi Alfa Faroqi kembali dilaksanakan melalui tradisi Pedang Pora. Di gerbang keluar Mapolres Kepulauan Meranti, seluruh personel berdiri berjajar memberikan penghormatan terakhir. Momen haru semakin terasa ketika AKBP Aldi Alfa Faroqi bersama Ny. Esti Aldi Alfa secara simbolis melepaskan burung merpati sebagai lambang harapan, kedamaian, dan awal perjalanan pengabdian di tempat tugas yang baru. (R-01)

