Harga Batu Bara Melejit, China Borong Pasokan Global, Target US$137 Semakin Dekat
Harga batu bara Newcastle kembali menguat sepanjang pekan setelah permintaan China melonjak akibat gelombang panas ekstrem. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga batu bara Newcastle kembali menguat sepanjang pekan setelah permintaan China melonjak akibat gelombang panas ekstrem. Kenaikan tersebut memperkuat optimisme pasar terhadap prospek komoditas energi global. Pelaku pasar kini mencermati peluang harga menembus level US$137 per ton dalam waktu dekat.
Harga batu bara Newcastle menutup perdagangan Jumat, 17 Juli 2026, pada level US$133,35 per ton. Posisi tersebut naik 3,57 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya sebesar US$128,75 per ton. Penguatan berlangsung setelah minat beli meningkat menjelang akhir perdagangan pekan.
Pergerakan harga sempat tertahan pada kisaran US$130 hingga US$131 per ton sepanjang awal pekan perdagangan. Tekanan jual mulai mereda ketika permintaan kembali meningkat dalam dua sesi terakhir. Kondisi tersebut membawa harga mencapai penutupan tertinggi selama pekan berjalan.
China menjadi faktor terbesar penggerak kenaikan harga batu bara sepanjang pertengahan Juli tahun ini. Gelombang panas meningkatkan konsumsi listrik hingga sekitar 1,55 miliar kilowatt pada pertengahan bulan. Permintaan energi pembangkit pun melonjak seiring tingginya aktivitas ekonomi nasional.
Produksi batu bara domestik China belum sepenuhnya pulih setelah inspeksi keselamatan tambang diberlakukan secara ketat. Pemeriksaan dilakukan menyusul kecelakaan tambang besar di wilayah Shanxi beberapa waktu lalu. Situasi tersebut mendorong perusahaan meningkatkan pembelian batu bara dari pasar internasional.
Impor batu bara China sepanjang Juni mencapai 42,78 juta ton menurut data perdagangan terbaru. Angka tersebut meningkat 28,6 persen dibandingkan Mei serta melonjak 29,5 persen secara tahunan. Peningkatan pembelian memperketat ketersediaan pasokan batu bara di kawasan Asia.
Seorang pelaku pasar energi mengatakan permintaan China menjadi penopang utama penguatan harga saat ini. “Permintaan listrik meningkat sangat tinggi sehingga pembelian batu bara ikut bertambah,” ujarnya. Kondisi tersebut memperkuat optimisme pasar terhadap prospek harga jangka pendek.
Permintaan batu bara berkalori tinggi juga datang dari Jepang serta Korea Selatan sepanjang pekan ini. Harga LNG Asia tetap tinggi sehingga batu bara masih menjadi pilihan pembangkit listrik. Kebijakan tersebut menjaga permintaan komoditas energi tetap stabil di kawasan.
Situasi berbeda terlihat dari India meski kebutuhan listrik juga mengalami peningkatan cukup signifikan sepanjang musim panas. Konsumsi batu bara pembangkit mencapai level tertinggi sejak tahun 2023 selama Juni. Namun perusahaan lebih mengandalkan pasokan hasil produksi domestik.
Impor batu bara India pada April turun hampir 13 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Impor batu bara termal Januari hingga Mei bahkan menjadi yang terendah selama empat tahun. Kondisi tersebut mengurangi tekanan persaingan memperoleh pasokan batu bara internasional.
Pasar akhirnya melihat keseimbangan berbeda antara permintaan China dan strategi pengadaan energi India saat ini. China terus menyerap pasokan global, sedangkan India belum meningkatkan impor secara agresif. Dampaknya, harga naik bertahap tanpa menciptakan lonjakan ekstrem seperti pertengahan Juni.
Pelaku industri juga mencermati perkembangan kebijakan ekspor Indonesia sebagai pemasok batu bara termal terbesar dunia. Perubahan tata kelola perdagangan berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan pasar internasional. Hingga sekarang belum terdapat tambahan pembatasan ekspor dari pemerintah.
Prospek harga batu bara masih dinilai positif sepanjang beberapa pekan mendatang menurut pengamatan pelaku pasar. Kombinasi permintaan tinggi serta produksi terbatas menjadi penopang utama penguatan harga global. Harga Newcastle diperkirakan bergerak menuju kisaran US$135 hingga US$137 per ton.
Apabila impor China terus meningkat, harga berpeluang menguji level psikologis US$140 per ton mendatang. Meski demikian, tingginya stok pelabuhan China masih menjadi faktor penahan kenaikan lebih agresif. Permintaan impor India yang lemah juga membuat penguatan berlangsung lebih bertahap.(R-04)

