Heboh Santriwati Kuansing Melahirkan di Pondok Pesantren
Ilustrasi
RIAU, SabangMerauke News – Warga Desa Sumber Jaya, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), dibuat geger setelah seorang santriwati dilaporkan melahirkan di dalam pondok pesantren. Peristiwa itu memicu munculnya dugaan kasus pelecehan seksual yang menyeret seorang oknum pengasuh pondok pesantren berinisial I.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, suasana desa berubah tegang pada Selasa (7/7/2026) malam. Sejumlah pemuda mendatangi rumah salah satu korban setelah beredar kabar adanya dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santriwati di Pondok Pesantren Nurul Tauchid.
Kemarahan warga dipicu informasi bahwa sedikitnya lima santriwati diduga menjadi korban. Salah satu korban bahkan disebut telah melahirkan beberapa hari sebelumnya.
Seorang warga yang meminta identitasnya disamarkan dengan inisial EM mengatakan, masyarakat selama ini memilih diam karena menganggap terduga pelaku merupakan tokoh agama yang disegani.
"Kami panggil I tadi malam di rumah salah satu korban. Korbannya yang ini sudah menikah. Malam itu ia mengaku ada lima korban," ujar EM, Rabu (8/7/2026).
Menurut keterangan warga, dugaan pelecehan seksual itu telah berlangsung selama beberapa tahun. Bahkan, salah seorang korban disebut mengalami pelecehan sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Kasus tersebut mulai mencuat setelah santriwati berinisial AF, sekitar 23 tahun, melahirkan di kamar pondok pesantren. Setelah persalinan, AF dibawa ke sebuah klinik untuk mendapatkan penanganan medis karena plasenta masih tertinggal di dalam rahim.
Awalnya AF disebut enggan mengungkap identitas ayah dari bayi yang dilahirkannya. Namun setelah mendapat desakan, ia akhirnya mengaku bahwa sosok yang diduga menjadi pelaku adalah I.
"Kabar AF melahirkan anak I itu membuat kami geram dan ingin mengusut masalah ini agar tidak ada korban lainnya," kata EM.
Munculnya pengakuan tersebut membuat dugaan kasus yang sebelumnya hanya menjadi pembicaraan tertutup di lingkungan masyarakat mulai terbuka ke publik.
Informasi yang beredar juga menyebutkan bahwa persoalan tersebut sempat diselesaikan secara kekeluargaan sehingga tidak berlanjut ke proses hukum. Keluarga korban diduga memilih jalur damai karena merasa takut dan segan terhadap pengaruh I sebagai tokoh agama di wilayah tersebut.
Hingga Rabu (8/7/2026), belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait penanganan perkara tersebut. Upaya konfirmasi kepada I juga belum berhasil karena nomor telepon yang bersangkutan tidak aktif. Sementara itu, ayah AF juga belum dapat dihubungi.
Di sisi lain, beredar informasi bahwa oknum kyai berinisial I telah diamankan di Polres Kuantan Singingi. Namun, informasi tersebut masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak kepolisian.
Kasus ini masih berkembang dan aparat diharapkan segera memberikan penjelasan resmi agar seluruh fakta dapat terungkap secara transparan sesuai proses hukum yang berlaku. (R-03)

