Tiga Jasad Korban Kapal Pompong Tenggelam Ditemukan, Satu Masih Hilang di Perairan Tanjung Buton
Petugas SAR mengevakuasi jasad korban kapal pompong tenggelam di perairan Tanjung Buton, Siak. (sumber: istimewa)
RIAU, SabangMerauke News – Operasi pencarian di perairan Tanjung Buton memasuki babak paling menyedihkan. Tim SAR gabungan menemukan tiga korban dalam keadaan meninggal dunia. Satu korban lainnya masih belum berhasil ditemukan hingga Selasa malam, 7 Juli 2026.
Penemuan itu terjadi di perairan Kawasan Industri Tanjung Buton. Lokasi berada di Kampung Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak. Tim gabungan masih melanjutkan operasi pencarian pada Rabu pagi, 8 Juli 2026.
Tragedi bermula ketika kapal pompong menjalankan pemeriksaan draft survey. Kapal tersebut mendekati MV Himala di kawasan perairan Tanjung Buton. Tiba-tiba kapal mengalami kecelakaan hingga akhirnya tenggelam.
Sebanyak tujuh orang berada di atas kapal saat kejadian. Tiga orang berhasil menyelamatkan diri dari musibah tersebut. Empat lainnya sempat dinyatakan hilang dalam pencarian.
Kapolsek Sungai Apit, Iptu Adifian Ikhsan, memastikan perkembangan operasi penyelamatan. Ia menyebut tiga korban telah ditemukan oleh tim gabungan. Pencarian terhadap satu korban lainnya akan kembali dilakukan.
"Tim tidak akan menghentikan pencarian sebelum seluruh korban ditemukan," ujar Adifian, Selasa malam, 7 Juli 2026.
Korban meninggal pertama bernama Ilham Putra Siregar. Pria berusia 29 tahun itu merupakan warga Kampung Merempan, Kabupaten Siak. Jenazahnya berhasil dievakuasi oleh petugas gabungan.
Korban kedua bernama Aditia Waskita. Pria berusia 27 tahun tersebut berasal dari Kota Binjai, Sumatera Utara. Ia ditemukan setelah penyisiran dilakukan di sekitar lokasi kejadian.
Korban ketiga bernama Desmon Nataldo. Korban berusia 34 tahun itu merupakan warga Kota Pekanbaru. Tim SAR mengevakuasi jenazahnya menuju daratan untuk proses selanjutnya.
Sementara itu, satu korban lainnya masih belum ditemukan. Tim memperluas penyisiran di sekitar titik tenggelamnya kapal. Arus perairan menjadi tantangan besar selama operasi berlangsung.
Kepala Kantor Basarnas Kelas A Pekanbaru, Budi Cahyadi, menjelaskan kronologi awal. Laporan kecelakaan diterima sekitar pukul 00.00 WIB. Informasi berasal dari perwakilan Perusahaan Pelayaran Tujuh Samudra.
"Setelah laporan diterima, seluruh unsur langsung bergerak menuju lokasi," kata Budi.
Operasi melibatkan berbagai instansi dalam satu komando pencarian. Basarnas bekerja bersama TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya. Seluruh personel membagi area pencarian secara sistematis.
Petugas menggunakan perahu karet dan perlengkapan penyelamatan. Penyisiran dilakukan mengikuti arah arus perairan. Setiap titik yang dicurigai diperiksa secara menyeluruh.
Cuaca menjadi salah satu faktor penting selama pencarian berlangsung. Kondisi perairan berubah mengikuti pasang surut laut. Tim tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel lapangan.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Mereka terus menunggu kabar dari lokasi operasi pencarian. Harapan terakhir kini tertuju kepada tim SAR gabungan.
Insiden tersebut menjadi pengingat penting bagi aktivitas pelayaran. Pemeriksaan teknis di laut tetap menyimpan risiko besar. Prosedur keselamatan harus diterapkan tanpa kompromi.
Hingga Selasa malam, garis pencarian belum ditutup. Tim akan kembali menyisir kawasan perairan Tanjung Buton. Fokus utama diarahkan menemukan korban terakhir yang masih hilang.
Operasi lanjutan dijadwalkan dimulai sejak Rabu pagi. Seluruh unsur bersiap memperluas radius pencarian. Keluarga korban berharap penantian panjang segera berakhir. R-02

