Mengapa Pemakaman Ali Khamenei Berubah-ubah? Keamanan hingga Suksesi Jadi Faktor Utama
Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Foto: Dok SM News
TEHERAN, SabangMerauke News – Rencana pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mengalami perubahan berulang sejak kematiannya diumumkan. Otoritas Iran beberapa kali merevisi jadwal dan rangkaian prosesi kenegaraan yang semula telah disiapkan, memunculkan pertanyaan mengenai alasan di balik perubahan tersebut.
Berdasarkan laporan media Iran, Iran International, perubahan jadwal pemakaman dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya ancaman keamanan, ketidakpastian kehadiran tamu negara, hingga belum tuntasnya proses penentuan suksesi kepemimpinan di Iran.
Pemakaman Khamenei kini dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026 di kota kelahirannya, Mashhad. Sebelum dimakamkan di kompleks makam suci Imam Reza (AS), pemerintah Iran menggelar rangkaian upacara kenegaraan yang dimulai pada 4 Juli 2026 di Grand Mosalla, Teheran.
Sejak kematiannya diumumkan pada 1 Maret 2026, pemerintah Iran telah beberapa kali mengubah konsep prosesi pemakaman. Awalnya, jenazah direncanakan dibawa melalui tiga kota, yakni Teheran, Qom, dan Mashhad.
Namun, sehari kemudian, setelah diumumkan wafatnya istri Khamenei, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, pemerintah memutuskan menggelar pemakaman bersama di kompleks Imam Reza, Mashhad.
Beberapa hari setelah itu, televisi pemerintah mengumumkan peti jenazah akan disemayamkan di Grand Mosalla Teheran agar masyarakat dapat memberikan penghormatan terakhir. Akan tetapi, jadwal tersebut kembali diundur, pertama hingga malam hari, kemudian ditunda lagi tanpa kepastian waktu.
Meski demikian, televisi pemerintah sempat menayangkan persiapan lokasi dengan pemasangan podium dan pelindung kaca antipeluru untuk peti jenazah, sebagai bagian dari persiapan upacara kenegaraan.
Ancaman Keamanan Jadi Pertimbangan Utama
Situasi keamanan disebut menjadi faktor terbesar di balik perubahan jadwal tersebut. Iran masih berada dalam ketegangan konflik kawasan, sementara pejabat Israel sebelumnya menyatakan akan menargetkan siapa pun yang nantuk menjadi Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya.
Kondisi itu membuat sejumlah tamu asing dikabarkan mempertimbangkan kembali kehadiran mereka. Tokoh-tokoh yang berafiliasi dengan Hizbullah dan Houthi disebut memiliki kekhawatiran keamanan, terutama setelah terbunuhnya pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran dalam kunjungan sebelumnya.
Sementara itu, delegasi dari Rusia dan Tiongkok diperkirakan hadir dengan tingkat perwakilan yang lebih rendah dibanding biasanya.
Pemerintah Ingin Hadirkan Jutaan Pelayat
Selain keamanan, pemerintah Iran juga menghadapi tantangan untuk menghadirkan jumlah pelayat dalam skala besar. Media pemerintah mengakui adanya upaya mengerahkan pendukung dari berbagai daerah guna mewujudkan prosesi yang diklaim akan dihadiri jutaan orang.
Pemerintah disebut ingin mengulang besarnya prosesi pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 yang menurut klaim resmi dihadiri sekitar 10 juta orang, meski sejumlah jurnalis asing memperkirakan jumlahnya hanya berkisar dua hingga empat juta pelayat.
Di tengah situasi perang regional dan meningkatnya ketidakpuasan publik, target tersebut dinilai tidak mudah dicapai. Selain itu, mobilisasi massa antara Teheran, Qom, dan Mashhad juga menjadi tantangan logistik tersendiri.
Sejumlah analis menilai penundaan berulang terhadap pemakaman Khamenei merupakan bagian dari upaya pemerintah Iran menyiapkan prosesi yang aman sekaligus menampilkan simbol persatuan nasional menjelang penetapan pemimpin tertinggi yang baru. (R-05)

