Harga Emas Antam Turun Lagi, Buyback Ambles, Pengamat Prediksi Masih Bergerak Fluktuatif
Ilustrasi perdagangan emas Antam. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News - Harga emas Antam kembali turun pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026. Penurunan terjadi pada harga jual maupun harga pembelian kembali atau buyback. Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan logam mulia di tengah penguatan dolar Amerika Serikat, dinamika kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta perkembangan konflik geopolitik dunia.
Berdasarkan data PT Aneka Tambang Tbk melalui Butik Emas Logam Mulia Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta, harga emas batangan pecahan satu gram dipatok Rp2.645.000. Nilai tersebut turun Rp15.000 dibanding perdagangan sebelumnya.
Penurunan tersebut membuat harga emas Antam tetap bertahan di kisaran Rp2,6 juta per gram. Posisi itu menjadi salah satu level terendah sejak pertengahan Januari 2026.
Harga buyback ikut mengalami koreksi. Pada perdagangan hari ini, buyback berada di level Rp2.360.000 per gram. Nilainya turun Rp18.000 dibanding hari sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku investasi logam mulia. Perubahan harga terjadi setelah emas dunia kembali berada di bawah tekanan pasar global.
Selain harga jual, investor juga memperhatikan ketentuan perpajakan transaksi emas Antam. Pembelian emas batangan dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 22 sebesar 0,25 persen bagi pemilik NPWP. Pembeli tanpa NPWP dikenakan tarif 0,5 persen.
Transaksi buyback dengan nilai di atas Rp10 juta juga dikenakan pajak. Besarannya mencapai 1,5 persen bagi pemilik NPWP dan tiga persen bagi non-NPWP. Potongan dilakukan langsung dari nilai transaksi.
Sejalan dengan emas Antam, harga emas dunia ikut melemah pada perdagangan pagi. Harga emas spot tercatat berada di kisaran 4.058,1 dolar Amerika Serikat per troy ons. Nilainya turun sekitar 0,71 persen dibanding penutupan perdagangan pekan lalu.
Penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas dunia. Saat mata uang dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor luar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat permintaan emas cenderung menurun.
Sepanjang pekan lalu, indeks dolar Amerika Serikat naik sekitar 0,51 persen. Penguatan mata uang tersebut didorong ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat.
Bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve masih menunjukkan sikap ketat terhadap inflasi. Pasar memperkirakan suku bunga acuan tetap berada pada level tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Charu Chanana, Chief Investment Strategist Saxo Markets, menilai tekanan terhadap emas juga dipengaruhi kebutuhan likuiditas investor. "Saat pasar mengalami tekanan, investor menjual aset yang mudah dicairkan. Emas menjadi salah satu pilihan karena mencatat kenaikan cukup besar setahun terakhir," kata Charu.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini. Menurutnya, harga logam mulia berpotensi berada pada kisaran Rp2.530.000 hingga Rp2.750.000 per gram.
Pergerakan tersebut mengikuti perubahan harga emas dunia. Jika tekanan berlanjut, harga emas Antam diperkirakan kembali turun mendekati batas bawah kisaran tersebut. "Apabila emas dunia melemah lagi, harga logam mulia berpotensi bergerak menuju Rp2.640.000 bahkan Rp2.530.000 per gram," ujar Ibrahim Assuaibi.
Sebaliknya, apabila emas dunia kembali menguat, harga logam mulia diperkirakan mampu naik menuju kisaran Rp2.680.000 hingga Rp2.750.000 per gram. Menurut Ibrahim, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi harga emas pekan ini. Faktor pertama berasal dari perkembangan geopolitik dunia.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangkaian aksi militer antara Iran dan Amerika Serikat. Situasi tersebut masih menjadi perhatian pelaku pasar internasional.
Faktor kedua berasal dari kondisi politik Amerika Serikat. Perkembangan agenda ekonomi pemerintahan Presiden Donald Trump diperkirakan memengaruhi pergerakan dolar Amerika Serikat.
Faktor ketiga berasal dari kebijakan Federal Reserve. Pelaku pasar masih menunggu arah suku bunga acuan setelah inflasi Amerika Serikat menunjukkan perbaikan.
Faktor terakhir berasal dari potensi meningkatnya perang dagang pada semester kedua 2026. Kenaikan tarif impor terhadap sejumlah negara diperkirakan kembali memengaruhi pergerakan pasar keuangan global.
Ibrahim menilai kondisi tersebut dapat memicu perubahan harga emas dunia secara cepat. Perubahan harga minyak mentah juga ikut memberi dampak terhadap arah inflasi global.
Menurutnya, harga minyak saat ini relatif lebih stabil dibanding beberapa pekan sebelumnya. Aktivitas distribusi energi kembali berjalan setelah jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap dibuka.
Selain Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina juga masih menjadi perhatian pasar internasional. Ketidakpastian geopolitik membuat investor terus memantau perkembangan ekonomi global.
Meski begitu, Ibrahim memperkirakan Federal Reserve cenderung mempertahankan suku bunga acuan dalam waktu dekat. "Kondisi inflasi mulai stabil sehingga peluang mempertahankan suku bunga menjadi lebih besar dibanding menaikkannya," kata Ibrahim Assuaibi.
Bagi investor, kondisi pasar saat ini membutuhkan strategi yang lebih hati-hati. Fluktuasi harga emas diperkirakan masih berlangsung hingga berbagai data ekonomi global dirilis dalam pekan ini.
Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan nilai tukar dolar Amerika Serikat, inflasi, harga minyak mentah, serta dinamika geopolitik. Seluruh faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu utama arah harga emas dunia maupun emas Antam dalam beberapa hari ke depan.
Meski harga emas sedang terkoreksi, logam mulia masih menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih saat ketidakpastian ekonomi meningkat. Pergerakan harga dalam jangka pendek diperkirakan tetap dinamis sebelum pasar memperoleh kepastian dari berbagai perkembangan ekonomi global. R-02

