Serangan Ukraina Bikin Rusia Kekurangan Bahan Bakar, Putin Akhirnya Buka Suara
Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Dok SM News
MOSKOW, SabangMerauke News – Presiden Rusia Vladimir Putin untuk pertama kalinya secara terbuka mengakui bahwa gelombang serangan Ukraina terhadap fasilitas energi dan jalur logistik telah memicu kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah Rusia. Meski menegaskan situasinya belum berada pada level kritis, pengakuan tersebut menjadi sinyal bahwa serangan balasan Ukraina mulai memberikan tekanan nyata terhadap infrastruktur strategis Negeri Beruang Merah.
Pernyataan itu disampaikan Putin dalam wawancara yang dipublikasikan Kremlin pada Minggu (29/6). Ia mengakui serangan terhadap infrastruktur energi Rusia telah mengganggu distribusi bahan bakar di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
"Mengenai serangan terhadap infrastruktur vital secara umum, terutama infrastruktur energi, tentu saja serangan terhadap fasilitas kami menimbulkan kendala. Itu sudah jelas," ujar Putin.
Ia menambahkan, pasokan bahan bakar memang mengalami kekurangan, namun pemerintah Rusia masih menganggap kondisinya terkendali.
"Saat ini memang ada kekurangan pasokan, tetapi belum dalam kondisi yang kritis," katanya.
Pengakuan tersebut muncul setelah Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan intensitas serangan drone jarak jauh ke wilayah Rusia. Sasaran utama serangan adalah kilang minyak, depot bahan bakar, hingga jalur logistik yang menopang operasi militer Moskow.
Menurut Putin, pemerintah kini memprioritaskan penguatan sistem pertahanan udara sekaligus menjaga kelancaran distribusi bahan bakar, terutama menuju Krimea yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak.
Wilayah Krimea bahkan telah menetapkan status keadaan darurat akibat terganggunya pasokan bahan bakar dan listrik. Pemerintah setempat menyebut serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak dan jalur distribusi menyebabkan kelangkaan BBM serta pemadaman listrik di sejumlah kawasan.
Krimea merupakan wilayah Ukraina yang dianeksasi Rusia pada 2014. Namun, aneksasi tersebut hingga kini tidak diakui oleh sebagian besar negara di dunia yang tetap menganggap Krimea sebagai bagian dari wilayah kedaulatan Ukraina.
Selain mengakui gangguan pasokan energi, Putin juga berusaha meyakinkan publik bahwa pemerintah mampu mengendalikan situasi keamanan nasional.
Dalam pidatonya di Kongres Partai United Russia pada hari yang sama, Putin menegaskan pemerintah akan terus menjaga keamanan negara meski serangan Ukraina semakin sering menyasar wilayah Rusia.
"Ya, kami melihat berbagai persoalan itu. Kami menyadarinya dan sedang mengambil langkah untuk mengatasinya. Namun, kami pasti akan menjamin keamanan negara dan warga kami, sekaligus menjaga keutuhan perbatasan Rusia," ujarnya.
Ia juga menyebut Rusia akan mampu menghadapi seluruh tantangan, termasuk serangan terhadap wilayah dan fasilitas infrastruktur strategis.
Pernyataan tersebut disampaikan hanya beberapa jam setelah serangan drone Ukraina menghantam Wilayah Krasnodar di Rusia selatan. Serangan itu dilaporkan menewaskan satu orang dan memicu kebakaran di sebuah kilang minyak di Kota Slavyansk-na-Kubani.
Kilang minyak menjadi salah satu target utama Ukraina dalam beberapa waktu terakhir. Kyiv menilai penghancuran fasilitas energi Rusia dapat mengurangi kemampuan Moskow membiayai sekaligus menopang operasi militernya di garis depan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut serangan tersebut merupakan bagian dari strategi melemahkan kemampuan Rusia untuk melanjutkan perang.
"Kilang minyak Slavyansk di Wilayah Krasnodar telah diserang, sekitar 300 kilometer dari garis depan. Kami juga menyerang sebuah kilang minyak di Wilayah Yaroslavl, sekitar 700 kilometer dari perbatasan kami," tulis Zelenskyy melalui platform X.
Menurut pemerintah Ukraina, operasi tersebut merupakan balasan atas serangan Rusia yang hampir setiap hari menghantam wilayah sipil, jaringan listrik, serta infrastruktur energi Ukraina sejak invasi besar-besaran dimulai pada Februari 2022.
Selama beberapa bulan terakhir, Ukraina semakin mengandalkan drone jarak jauh untuk menyerang fasilitas militer maupun energi Rusia. Strategi itu dinilai efektif karena mampu menjangkau wilayah yang berada ratusan kilometer dari garis depan pertempuran.
Pekan sebelumnya, salah satu serangan drone Ukraina juga memicu kebakaran besar di sebuah kilang minyak di tenggara Moskow. Kepulan asap hitam pekat bahkan terlihat menyelimuti kawasan pinggiran ibu kota Rusia dan menjadi salah satu serangan paling mencolok terhadap infrastruktur energi negara tersebut.
Di sisi lain, Rusia terus meningkatkan serangan udara menggunakan rudal dan drone ke berbagai kota di Ukraina. Serangan tersebut kerap menargetkan pembangkit listrik, jaringan distribusi energi, hingga fasilitas sipil yang menyebabkan gangguan listrik dan kerusakan infrastruktur dalam skala besar.
Situasi ini menunjukkan konflik Rusia-Ukraina terus memasuki fase baru, di mana kedua belah pihak semakin intens menyerang fasilitas energi lawan sebagai bagian dari strategi melemahkan kemampuan logistik dan ekonomi masing-masing.
Pengakuan Putin mengenai kelangkaan bahan bakar menjadi salah satu indikasi paling jelas bahwa serangan Ukraina kini tidak hanya berdampak pada sektor militer Rusia, tetapi juga mulai memengaruhi pasokan energi dan kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah. Meskipun Kremlin menegaskan kondisi masih terkendali, perkembangan terbaru ini memperlihatkan perang yang berkepanjangan semakin membawa konsekuensi besar bagi kedua negara. (R-05)

