Di Balik Mimpi Piala Dunia Yordania, Tersimpan Krisis Air yang Mengancam Jutaan Warga
Ilustrasi
JAKARTA, SabangMerauke News – Yordania memang harus mengakhiri perjuangannya di Piala Dunia 2026 lebih cepat setelah dipastikan gagal melangkah ke babak berikutnya. Namun, bagi negara kecil di Timur Tengah itu, tampil untuk pertama kalinya di putaran final Piala Dunia sudah menjadi pencapaian bersejarah yang membanggakan.
Di balik euforia sepak bola tersebut, tersimpan kenyataan pahit yang setiap hari dihadapi jutaan warga Yordania. Negara ini masih bergulat dengan persoalan kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan manusia, yakni air bersih. Bahkan, Yordania dikenal sebagai salah satu negara termiskin air di dunia.
Tim nasional Yordania dijadwalkan menutup kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan menghadapi juara dunia Argentina pada Sabtu (27/6/2026) pukul 09.00 WIB. Meski hasil pertandingan tak lagi menentukan nasib mereka, laga tersebut menjadi simbol keberhasilan sepak bola Yordania menembus panggung tertinggi dunia.
Namun, ketika sorotan dunia tertuju pada prestasi olahraga mereka, masyarakat Yordania justru masih menghadapi perjuangan panjang untuk memperoleh air bersih.
Selama ini, di banyak negara, air merupakan kebutuhan yang mudah diperoleh. Membuka keran berarti air langsung mengalir. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang dialami masyarakat Yordania.
Di negara yang memiliki curah hujan sangat rendah itu, air menjadi komoditas yang harus dijadwalkan penggunaannya. Warga harus menyimpan air dalam tangki besar karena pasokan tidak mengalir setiap hari.
Data UNICEF Jordan menunjukkan ketersediaan air di Yordania hanya sekitar 61 meter kubik per kapita setiap tahun. Angka tersebut jauh berada di bawah standar kemiskinan air yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni 500 meter kubik per orang per tahun.
Kondisi geografis menjadi salah satu penyebab utama. Curah hujan yang minim, suhu yang tinggi, serta dampak perubahan iklim terus mengurangi cadangan air negara tersebut.
Persoalan semakin rumit karena sebagian besar air yang berhasil diproduksi justru hilang sebelum sampai ke rumah warga.
Kajian London School of Economics (LSE) mengungkap sekitar 40 hingga 50 persen pasokan air hilang di jaringan distribusi akibat kebocoran pipa, pencurian air, sambungan ilegal, hingga infrastruktur yang sudah tua.
Akibatnya, distribusi air dilakukan secara bergilir. Di ibu kota Amman, sebagian besar rumah tangga hanya menerima aliran air pada waktu tertentu setiap pekan.
Di luar jadwal tersebut, masyarakat mengandalkan tangki penyimpanan di atap rumah. Jika persediaan habis, mereka terpaksa membeli air dari truk tangki swasta dengan harga yang jauh lebih mahal.
Kondisi ini juga memunculkan kesenjangan sosial. Keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi dapat membangun tangki berukuran besar serta membeli tambahan air kapan saja.
Sebaliknya, masyarakat berpenghasilan rendah harus menghemat penggunaan air selama berhari-hari. Bahkan di sejumlah wilayah pedesaan, air hanya mengalir beberapa jam dalam satu minggu.
Krisis air turut memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian. Laporan Economist Impact yang disusun untuk UNICEF menyebutkan lebih dari 51 persen air tawar Yordania digunakan untuk sektor pertanian. Padahal sektor tersebut hanya menyumbang sekitar 5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Ketika tekanan terhadap sumber daya air meningkat, produksi pertanian diperkirakan turun sekitar 0,8 hingga 1,2 persen setiap tahun. Nilai tambah sektor pertanian juga diperkirakan menyusut hingga US$29 juta per tahun.
Penurunan produksi pangan membuat ketergantungan Yordania terhadap impor semakin tinggi.
Bahkan indikator kecukupan pasokan energi pangan terus mengalami penurunan sehingga posisi Yordania tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah seperti Turki, Israel, Aljazair, dan Tunisia.
Dampak yang lebih besar justru dirasakan sektor jasa yang menjadi tulang punggung ekonomi Yordania.
Sektor jasa menyumbang lebih dari 60 persen PDB dan menyerap sekitar 70 persen tenaga kerja.
Pariwisata, hotel, restoran, hingga pusat rekreasi sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Analisis Economist Impact memperkirakan tekanan air dapat memangkas output sektor jasa hingga 4,1 persen dengan potensi kerugian ekonomi mencapai US$1,2 miliar.
Tidak hanya ekonomi, sektor kesehatan juga ikut terdampak. Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak berpengaruh langsung terhadap angka kematian bayi, penyebaran penyakit menular, hingga produktivitas masyarakat. Analisis UNICEF memperkirakan peningkatan konsumsi air sebesar 3 persen saja mampu menurunkan angka kematian bayi secara signifikan.
Krisis air juga memengaruhi dunia pendidikan.
Masih banyak sekolah di Yordania yang memiliki fasilitas air bersih dan sanitasi terbatas. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit sehingga mengganggu proses belajar mengajar.
Data UNESCO menunjukkan tingkat partisipasi sekolah dasar perempuan mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir, dan tekanan terhadap sumber daya air diperkirakan akan memperburuk kondisi tersebut.
Di sisi lain, persoalan air juga menjadi isu geopolitik.
Sekitar 40 persen sumber air Yordania berasal dari sungai lintas negara seperti Sungai Yordan dan Sungai Yarmouk. Sebagai negara yang berada di wilayah hilir, pasokan air Yordania sangat bergantung pada hubungan dengan negara-negara tetangga.
Bahkan setiap tahun pemerintah Yordania masih membeli tambahan pasokan air dari Israel untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Situasi semakin berat dengan tingginya jumlah pengungsi yang masuk ke Yordania. Pertumbuhan penduduk memperbesar kebutuhan air bagi rumah tangga, sekolah, rumah sakit, hingga sektor ekonomi.
Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah Yordania mulai membangun berbagai proyek strategis.
Salah satu proyek terbesar adalah pembangunan fasilitas desalinasi di Aqaba yang akan mengubah air Laut Merah menjadi air minum. Proyek ini diharapkan mampu menjadi sumber pasokan baru bagi kota-kota besar dan mengurangi ketergantungan terhadap cadangan air tanah yang terus menipis.
Prestasi Yordania menembus Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa negara tersebut mampu mencetak sejarah di panggung olahraga dunia. Namun di balik kebanggaan itu, perjuangan yang lebih besar masih menanti, yakni memastikan setiap warganya memiliki akses terhadap air bersih yang layak.
Bagi Yordania, kemenangan sejati bukan hanya diraih di lapangan hijau, tetapi juga ketika seluruh rakyatnya dapat menikmati hak paling mendasar dalam kehidupan: air bersih. (R-05)

