Terpeleset di Parit Saat Hujan Deras, Tubuh Bocah Ini Terdampar Di Pelabuhan Setelah Tiga Hari!
Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah Azzahra Ruknuddin Baibas alias Ibas di Pelabuhan Tanjung Sengkuang atau sekitar 1,9 kilometer dari lokasi awal hanyut setelah dua hari pencarian. (sumber: istimewa)
KEPRI, SabangMerauke News - Pencarian bocah hanyut di Batam berakhir pada Rabu, 24 Juni 2026. Ibas, bocah yang dilaporkan terseret arus drainase di kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Kepulauan Riau, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tiga hari pencarian tanpa henti.
Kabar penemuan itu datang pada pagi hari ketika tim SAR gabungan baru memulai operasi pencarian hari ketiga. Harapan keluarga masih menggantung. Warga sekitar juga terus mengikuti perkembangan pencarian sejak Senin lalu.
Pukul 06.30 WIB, personel SAR kembali bergerak menuju lokasi pencarian. Sejumlah petugas menyusuri jalur drainase yang membelah kawasan permukiman Tanjung Sengkuang. Regu lainnya bergerak ke arah muara, pesisir Pantai Tanjung Buntung, hingga kawasan mangrove di perairan Sengkuang.
Pencarian pagi itu berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Sekitar 45 menit setelah operasi dimulai, informasi penting masuk ke pos pencarian. Seorang warga menemukan tubuh anak kecil di bibir pantai.
Warga tersebut bernama Usmen, 32 tahun. Pagi itu ia baru selesai memancing di sekitar perairan Tanjung Sengkuang. Saat berjalan menuju daratan, matanya menangkap sesuatu yang terdampar di tepi pantai dekat ujung Pelabuhan Pak Fendi.
Temuan itu langsung dilaporkan kepada petugas yang sedang melakukan operasi pencarian. Informasi tersebut membuat tim SAR bergerak cepat menuju lokasi. Korban ditemukan di kawasan pesisir yang berjarak sekitar 1,9 kilometer dari titik awal jatuh ke saluran air saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Tanjungpinang, Fazzli, membenarkan penemuan korban pada hari ketiga operasi pencarian. “Korban berhasil ditemukan pada pukul 07.15 WIB. Selanjutnya korban dievakuasi dan dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada keluarga,” kata Fazzli, Rabu, 24 Juni 2026.
Sementara itu, Danpos Basarnas Batam, Dedius Sembiring, menjelaskan lokasi penemuan berada cukup jauh dari titik awal korban dilaporkan hanyut. “Korban ditemukan di pesisir ujung Pelabuhan Pak Fendi Tanjung Sengkuang. Lokasi penemuan diperkirakan berjarak 1,9 kilometer dari titik awal korban jatuh,” ujar Dedius Sembiring.
Jarak tersebut menggambarkan kuatnya arus air yang menyeret tubuh korban sejak hari pertama kejadian. Jalur drainase yang terhubung langsung menuju kawasan pesisir menjadi lintasan yang dilewati arus saat hujan deras mengguyur Batam.
Setelah korban ditemukan, suasana di pos pencarian berubah. Aktivitas penyisiran dihentikan. Tim SAR gabungan langsung melakukan proses evakuasi sebelum membawa korban ke rumah duka.
Pukul 07.45 WIB, seluruh unsur yang terlibat berkumpul untuk melaksanakan evaluasi dan debriefing. Operasi SAR kemudian diusulkan untuk ditutup karena target pencarian telah ditemukan.
Fazzli menyampaikan rasa duka kepada keluarga korban yang selama tiga hari menunggu kabar dengan penuh harapan. “Kami turut berduka cita kepada keluarga korban. Terima kasih kepada seluruh unsur SAR gabungan yang bekerja keras selama proses pencarian,” ujar Fazzli.
Peristiwa ini bermula pada Senin, 22 Juni 2026. Pagi itu hujan deras mengguyur kawasan Tanjung Sengkuang sejak dini hari. Drainase yang membelah lingkungan permukiman berubah menjadi aliran air deras.
Ibas yang masih berusia balita bermain di sekitar parit depan rumah. Aktivitas itu awalnya terlihat biasa seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang menyangka arus air yang mengalir di saluran tersebut menyimpan bahaya besar.
Saat hujan terus turun, debit air meningkat dengan cepat. Dalam kondisi itu, korban diduga terpeleset dan jatuh ke dalam saluran drainase. Arus deras langsung menyeret tubuhnya menuju gorong-gorong yang terhubung dengan jalur air lebih besar.
Keluarga yang mengetahui kejadian tersebut segera berupaya melakukan pencarian. Warga sekitar ikut membantu menyisir saluran air. Waktu berjalan sangat cepat, sementara arus terus bergerak menuju kawasan hilir.
Pencarian pada jam-jam pertama tidak membuahkan hasil. Kondisi drainase yang panjang, sempit, serta dipenuhi lumpur membuat proses pencarian berjalan sulit. Laporan kemudian diterima tim SAR. Sejak saat itu, operasi pencarian besar-besaran digelar dengan melibatkan berbagai unsur.
Personel Basarnas, TNI, Polri, BPBD Kota Batam, Tagana, Satpolairud Polresta Barelang, Polairud Polda Kepulauan Riau, TNI Angkatan Laut, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat turun langsung ke lapangan.
Berbagai peralatan juga dikerahkan. Perahu karet digunakan untuk menyisir kawasan pesisir. Alat deteksi bawah air AquaEye dimanfaatkan untuk membantu pencarian pada titik-titik yang sulit dijangkau. Peralatan komunikasi dan perlengkapan evakuasi disiagakan sepanjang operasi berlangsung.
Hari pertama pencarian difokuskan pada area drainase dan gorong-gorong. Tim harus memasuki saluran sempit yang dipenuhi lumpur untuk memastikan tidak ada titik yang terlewat.
Hari kedua pencarian berlangsung lebih luas. Saat air mulai surut, petugas memeriksa kembali jalur drainase secara manual. Ketika air laut pasang, penyisiran diperluas ke kawasan pesisir menggunakan perahu.
Selama dua hari, harapan keluarga terus bertahan. Setiap informasi yang masuk diperiksa. Setiap titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi korban hanyut langsung didatangi petugas.
Warga sekitar juga ikut membantu. Banyak di antara mereka turun ke lapangan tanpa mengenal waktu. Ada yang membantu menyisir saluran air. Ada yang menyediakan logistik bagi petugas. Ada pula yang terus memantau pesisir sejak pagi hingga malam.
Perjalanan pencarian akhirnya berakhir pada hari ketiga. Penemuan korban menjadi akhir dari operasi yang menguras tenaga sekaligus emosi seluruh personel yang terlibat.
Kejadian ini kembali mengingatkan tentang bahaya drainase dan gorong-gorong saat hujan deras. Saluran air yang terlihat biasa dapat berubah menjadi jalur berarus kuat dalam waktu singkat.
Di kawasan permukiman padat, keberadaan drainase terbuka sering menjadi titik yang luput dari perhatian. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, debit air dapat meningkat dalam hitungan menit dan menciptakan arus yang sulit dilawan bahkan oleh orang dewasa.
Bagi keluarga Ibas, pagi Rabu itu menjadi akhir dari penantian panjang yang penuh kecemasan. Harapan menemukan sang bocah dalam keadaan selamat akhirnya tidak terwujud. Setelah tiga hari pencarian, perjalanan Ibas berakhir di bibir pantai Tanjung Sengkuang, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, warga sekitar, dan seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian. R-02

