Nahkoda Baru RSUD Kepulauan Meranti Tancap Gas, Romy Haris Bergerak Cepat Atasi Berbagai Persoalan
Perlahan namun pasti, wajah pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti mulai menunjukkan perubahan. Foto : Istimewa
SELATPANJANG, SabangMerauke News - Perlahan namun pasti, wajah pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Kepulauan Meranti mulai menunjukkan perubahan. Sejak terjadi pergantian nahkoda di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti tersebut, sejumlah pembenahan mulai dilakukan guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Meski masih berstatus Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Kepulauan Meranti, Romy Haris Nanda, SH, M.Si, tampak mulai bergerak membenahi berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian publik.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi rumah sakit plat merah itu, Romy memilih langsung turun tangan melakukan evaluasi dan penataan terhadap berbagai aspek, mulai dari pelayanan, tata kelola, hingga pembenahan internal agar kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit daerah tersebut semakin meningkat.
Langkah-langkah yang dilakukan itu mulai menunjukkan hasil. Perubahan demi perubahan perlahan terlihat, seiring upaya membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih baik, profesional dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.
Sebagai rumah sakit rujukan milik pemerintah daerah, RSUD Kepulauan Meranti memiliki peran strategis dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Karena itu, pembenahan yang dilakukan menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu layanan serta menjawab berbagai harapan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang representatif.
Pergantian pucuk pimpinan pun membawa semangat baru. Di bawah kepemimpinan Romy Haris Nanda, berbagai persoalan yang selama ini menjadi pekerjaan rumah rumah sakit mulai ditata secara bertahap.
Tidak hanya fokus pada aspek administratif, pembenahan juga diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang cepat, nyaman dan maksimal.
Meski baru beberapa hari menjabat sebagai Plt Direktur, sejumlah langkah yang dilakukan Romy Haris Nanda dinilai mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja rumah sakit. Hal itu sekaligus menjadi sinyal bahwa perubahan dan perbaikan di RSUD Kepulauan Meranti tengah berjalan.
Dengan semangat pembenahan yang terus dilakukan, masyarakat berharap rumah sakit kebanggaan daerah itu mampu semakin berkembang menjadi fasilitas kesehatan yang profesional dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh warga Kabupaten Kepulauan Meranti.
Salah satu gerak cepat yang dilakukan yakni memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berjalan optimal menyusul gangguan kelistrikan yang beberapa kali terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Salah satu langkah yang diambil yakni meminjam satu unit genset milik Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai solusi darurat untuk menjamin keberlangsungan pelayanan medis di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Meski hanya memiliki kapasitas 45 kVA, genset tersebut diharapkan mampu menjadi sumber listrik cadangan apabila sewaktu-waktu terjadi pemadaman mendadak dari PLN. Langkah itu dilakukan sambil menunggu proses perbaikan pembangkit utama RSUD Selatpanjang yang memiliki kapasitas 2 x 600 kVA agar dapat kembali difungsikan secara maksimal.
Keputusan meminjam genset dari Dinas PUPR tersebut merupakan hasil rapat koordinasi antara manajemen rumah sakit bersama Dewan Pengawas (Dewas) RSUD Selatpanjang. Langkah cepat itu juga dilakukan setelah adanya perhatian serius dan ultimatum dari Bupati Kepulauan Meranti terkait persoalan kelistrikan yang dinilai dapat mengganggu bahkan membahayakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Gangguan listrik yang terjadi di rumah sakit rujukan utama di Kabupaten Kepulauan Meranti itu sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya, hampir seluruh pelayanan medis dan peralatan kesehatan sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil, terutama untuk ruangan-ruangan yang menangani pasien dengan kondisi kritis.
Pelaksana Tugas Direktur RSUD Selatpanjang, Romy Haris Nanda mengatakan keterbatasan kapasitas genset pinjaman membuat pihak rumah sakit harus melakukan skala prioritas dalam penyaluran listrik.
Menurutnya, pasokan listrik cadangan difokuskan untuk ruangan-ruangan vital yang sangat bergantung pada energi listrik, seperti panel Perinatologi, Intensive Care Unit (ICU), High Care Unit (HCU), ruang operasi, serta Instalasi Gawat Darurat (IGD).
"Mesin ini sifatnya hanya untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu listrik padam mendadak. Sebelumnya kita hanya mengandalkan power supply yang daya tahannya sekitar dua jam," kata Romy.
Romy yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang Penunjang RSUD Selatpanjang menegaskan bahwa penggunaan genset pinjaman tersebut hanya bersifat sementara. Untuk solusi jangka panjang, pihak rumah sakit saat ini terus fokus melakukan perbaikan terhadap mesin pembangkit utama yang dimiliki RSUD.
Ia menjelaskan, saat ini proses pengerjaan terhadap mesin pembangkit masih terus berlangsung. Sejumlah komponen dari salah satu unit mesin dipindahkan ke unit lainnya agar dapat segera berfungsi secara optimal sehingga pelayanan rumah sakit tidak terganggu.
"Saat ini terhadap mesin milik RSUD sedang dilakukan pengerjaan. Alat-alat yang ada di mesin satunya dipindahkan ke mesin lainnya supaya lebih cepat optimal. Sementara alat mesin yang diambil nantinya akan dipesan dan dilakukan inden," ujarnya.
Manajemen RSUD Selatpanjang berharap proses perbaikan pembangkit utama dapat segera selesai sehingga sistem kelistrikan rumah sakit kembali normal dan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih maksimal tanpa kekhawatiran akan terjadinya gangguan pasokan listrik.
Upaya pembenahan sistem kelistrikan yang dilakukan manajemen RSUD mulai memberikan dampak positif terhadap pelayanan medis. Salah satunya, layanan operasi katarak yang sempat terkendala kini kembali dapat dilaksanakan setelah pasokan listrik cadangan dinilai lebih terjamin.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Selatpanjang, Romy mengatakan keberadaan genset pinjaman dari Dinas PUPR sangat membantu dalam menjaga stabilitas pelayanan, khususnya untuk tindakan medis yang membutuhkan suplai listrik tanpa gangguan.
Menurut Romy, sebelumnya dokter spesialis mata sebenarnya telah melakukan operasi katarak. Namun, kekhawatiran akan terjadinya pemadaman listrik secara tiba-tiba membuat dokter enggan mengambil risiko yang dapat membahayakan keselamatan pasien.
Ia mengungkapkan, kekhawatiran tersebut sempat terbukti ketika tindakan operasi katarak akan dilaksanakan. Saat itu, pasokan listrik PLN mendadak padam sehingga sempat menimbulkan kepanikan.
"Sewaktu dokter memastikan soal kelistrikan, kami menjamin akan baik-baik saja. Namun benar apa yang dikhawatirkan benar-benar terjadi. Saat akan dilakukan operasi katarak mata, listrik langsung padam. Beruntung hanya sebentar, ketika listrik mati dibackup dengan UPS dan listrik kembali menyala dengan bantuan mesin dari PUPR," kata Romy.
Menurutnya, keberadaan Uninterruptible Power Supply (UPS) dan dukungan genset cadangan menjadi faktor penting yang membuat pelayanan medis dapat tetap berjalan dan pasien dapat ditangani dengan aman.
Romy menjelaskan, sebenarnya fasilitas penunjang untuk pelayanan operasi mata di RSUD Selatpanjang sudah tersedia sejak lama. Berbagai peralatan operasi tersebut diperoleh melalui pengadaan yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Namun demikian, pemanfaatan layanan operasi mata tersebut masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Salah satunya terkait kebijakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang membatasi jumlah pasien operasi katarak maksimal 10 orang setiap bulan.
Selain itu, pelayanan tersebut juga masih terkendala proses kredensial BPJS yang hingga kini belum sepenuhnya rampung.
Meski demikian, pihak manajemen RSUD Selatpanjang terus berupaya melakukan berbagai pembenahan agar layanan kesehatan kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.
Dengan mulai terjaminnya pasokan listrik serta dukungan fasilitas yang tersedia, RSUD Selatpanjang berharap pelayanan operasi katarak dan berbagai layanan spesialis lainnya dapat semakin berkembang, sehingga masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti tidak perlu lagi dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
Pembenahan yang dilakukan manajemen baru
RSUD Kepulauan Meranti tidak hanya difokuskan pada persoalan kelistrikan dan pelayanan medis. Berbagai aspek lain yang menyangkut kenyamanan dan keamanan lingkungan rumah sakit juga mulai ditata secara bertahap.
Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Selatpanjang, Romy Haris Nanda suasana rumah sakit pelat merah itu kembali menghadirkan nuansa terang dan nyaman seperti yang pernah dilakukan pada masa Plt Direktur RSUD dijabat Fajar Triasmoko.
Kini, kawasan RSUD Selatpanjang yang sebelumnya terlihat gelap pada malam hari mulai berubah. Penerangan telah dipasang di sejumlah titik sehingga kesan menyeramkan yang sempat dikeluhkan masyarakat perlahan menghilang.
Tidak hanya itu, lampu penerangan jalan di lingkungan rumah sakit yang sebelumnya mengalami korsleting juga telah diperbaiki. Pembenahan serupa turut dilakukan pada bagian dalam gedung rumah sakit. Sejumlah ruangan yang sebelumnya terlihat redup kini telah mendapatkan pencahayaan yang lebih baik sehingga menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi pasien, keluarga pasien maupun tenaga kesehatan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan rumah sakit yang aman, bersih dan nyaman bagi seluruh pengguna layanan.
Selain pembenahan sistem penerangan, manajemen RSUD Selatpanjang juga mulai menertibkan keberadaan hewan liar yang selama ini menjadi salah satu keluhan masyarakat.
Plt Direktur RSUD Selatpanjang bahkan meminta bantuan petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk menangkap kucing liar yang berkeliaran di lingkungan rumah sakit.
Pasalnya, jumlah kucing liar yang mencapai puluhan ekor dinilai mengganggu kebersihan lingkungan. Kotoran hewan tersebut tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan apabila tidak segera ditangani.
Tak berhenti di situ, aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian manajemen baru RSUD. Seluruh alat pemadam api ringan (APAR) yang tersedia di lingkungan rumah sakit mulai diperiksa kembali, termasuk masa berlaku dan kondisi kelayakannya.
Pemeriksaan tersebut dilakukan setelah diketahui terdapat APAR yang masa kedaluwarsanya telah terlewati sejak sekitar satu tahun lalu. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi terjadinya kebakaran dan untuk memastikan seluruh fasilitas keselamatan di rumah sakit berfungsi dengan baik.
Serangkaian pembenahan yang dilakukan tersebut menjadi bagian dari upaya manajemen baru RSUD Selatpanjang dalam meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti itu.
Dengan berbagai perubahan yang mulai terlihat, diharapkan RSUD Selatpanjang tidak hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan yang andal, tetapi juga menjadi fasilitas yang aman, nyaman dan memberikan rasa tenang bagi masyarakat yang datang untuk berobat.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Selatpanjang, Romy Haris juga memberi perhatian serius terhadap aspek kebersihan, sarana prasarana hingga pengembangan layanan kesehatan.
Kebersihan lingkungan menjadi salah satu prioritas yang dibenahi. Rumput-rumput yang sebelumnya tumbuh tinggi di sejumlah sudut rumah sakit telah dibersihkan. Tanaman liar yang mengganggu pemandangan juga dipangkas guna menciptakan lingkungan rumah sakit yang lebih rapi dan nyaman.
Tak hanya itu, kebersihan fasilitas toilet juga menjadi perhatian khusus. Manajemen rumah sakit meminta tenaga kebersihan dengan skema outsourcing untuk memastikan kebersihan WC tetap terjaga sehingga pasien maupun keluarga pasien merasa lebih nyaman selama berada di rumah sakit.
Sementara itu, fasilitas lift yang sudah lama tidak berfungsi juga segera diperbaiki. Romy mengatakan pihaknya telah menjadwalkan kedatangan teknisi dari Jakarta yang diperkirakan tiba pada pekan depan untuk melakukan perbaikan terhadap fasilitas tersebut.
"Untuk lift, kita sudah mendatangkan teknisi langsung dari Jakarta dan diperkirakan minggu depan sudah tiba untuk melakukan perbaikan," kata Romy.
Di sektor pelayanan kesehatan, RSUD Selatpanjang saat ini telah memiliki 11 layanan dokter spesialis, yakni spesialis anak, bedah, rehabilitasi medik, penyakit dalam, mata, kandungan, paru, saraf, THT, Medical Check Up (MCU), dan Voluntary Counseling and Testing (VCT).
Ke depan, manajemen rumah sakit juga berencana menambah layanan spesialis jantung. Sejumlah fasilitas pendukung untuk layanan tersebut bahkan telah tersedia, di antaranya gedung Catheterization Laboratory (Cathlab) dan gedung MICU-PICU.
Selain itu, persiapan pengoperasian layanan Hemodialisa (HD) atau cuci darah juga terus dilakukan. Program tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, dengan RS Awal Bros pada tahun 2025 lalu melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO).
Dalam kerja sama tersebut, RS Awal Bros bertanggung jawab membantu penyediaan alat serta operasional layanan, sedangkan RSUD Selatpanjang menyiapkan sumber daya manusia yang akan bertugas di ruang HD.
Saat ini, sejumlah peralatan Hemodialisa bernilai miliaran rupiah telah didatangkan dan tersedia di ruang cuci darah. Tidak hanya itu, RSUD Selatpanjang juga telah menyiapkan tenaga medis yang akan bertanggung jawab terhadap pelayanan tersebut.
Dr. Nuzky Yofanda, Sp.PD, ditunjuk sebagai dokter konsulen di instalasi Hemodialisa. Sebelumnya, dokter tersebut telah menjalani tugas belajar di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Sementara itu, tenaga perawat yang akan bertugas di ruang HD juga telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang difasilitasi oleh RS Awal Bros.
Meski demikian, layanan Hemodialisa hingga kini belum dapat dioperasikan dan belum ada kepastian apakah dapat dibuka pada tahun ini.
Menurut Romy, masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum layanan tersebut dapat berjalan. Di antaranya izin dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) wilayah Padang, Sumatera Barat, serta perizinan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Selain persoalan perizinan, hasil kaji ulang terhadap kerja sama yang direncanakan berlangsung selama 10 tahun itu juga menunjukkan bahwa secara perhitungan bisnis, operasional layanan Hemodialisa masih berpotensi merugi. Meski demikian, kerja sama tersebut tetap dilanjutkan karena telah didasari nota kesepahaman yang telah ditandatangani sebelumnya.
Romy menjelaskan, potensi kerugian tersebut muncul karena pola kerja sama yang dilakukan. Setelah bekerja sama dengan RS Awal Bros, masih terdapat keterlibatan vendor lain sehingga beban biaya yang harus ditanggung RSUD Selatpanjang lebih banyak berada pada aspek operasional, seperti pembayaran listrik dan pengelolaan limbah medis.
Meski menghadapi berbagai tantangan, manajemen RSUD Selatpanjang memastikan seluruh persiapan terus dilakukan agar layanan Hemodialisa dapat segera beroperasi. Kehadiran layanan tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat Kepulauan Meranti, sehingga pasien gagal ginjal tidak lagi harus dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan pelayanan cuci darah. (R-01)

