Rupiah Mulai Menemukan Tenaga, Kebijakan Agresif BI Beri Harapan Baru di Tengah Bayang-Bayang The Fed
Ilustrasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. (sumber: istimewa)
JAKARTA, SabangMerauke News – Perjalanan rupiah sepanjang tahun 2026 belum bisa disebut mudah. Mata uang Indonesia itu berkali-kali harus menghadapi tekanan kuat dari dolar Amerika Serikat yang terus mendapat dukungan dari tingginya suku bunga global dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Namun memasuki pertengahan Juni, arah angin mulai sedikit berubah. Rupiah menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah Bank Indonesia mengambil langkah yang tergolong agresif dengan kembali menaikkan suku bunga acuan.
Sinyal positif itu terlihat dari pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau pasar rupiah offshore. Pada pembukaan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, rupiah sempat bergerak stabil di kisaran Rp17.840 per dolar Amerika Serikat sebelum menguat sekitar 0,25 persen ke level Rp17.795 per dolar AS.
Pergerakan tersebut memperpanjang tren penguatan yang mulai terbentuk dalam beberapa hari terakhir. Pelaku pasar mulai melihat adanya keseriusan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global yang masih berlangsung.
Kebijakan terbaru Bank Indonesia menjadi faktor utama yang mendorong perubahan sentimen tersebut. Dalam rapat Dewan Gubernur terbaru, bank sentral kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Kenaikan itu membuat total pengetatan moneter sejak Mei 2026 mencapai 100 basis poin. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan langkah pengetatan suku bunga paling agresif di kawasan Asia sepanjang tahun ini.
Langkah tersebut bukan sekadar keputusan teknis. Kenaikan suku bunga juga menjadi pesan yang ingin disampaikan Bank Indonesia kepada pasar bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas utama.
Perlahan tetapi pasti, pesan itu mulai diterima investor. Rupiah yang sebelumnya terus berada dalam tekanan kini mulai mendapatkan ruang untuk bernapas lebih lega.
Salah satu alasan yang membuat rupiah terlihat lebih menarik adalah meningkatnya selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat. Saat ini jarak antara BI Rate dan Federal Funds Rate berada di kisaran 200 basis poin.
Selisih tersebut membuat instrumen keuangan berbasis rupiah menjadi lebih kompetitif dibandingkan beberapa aset di negara berkembang lainnya. Investor global yang mencari imbal hasil lebih tinggi mulai kembali melirik pasar Indonesia.
Selain itu, konsistensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar juga menjadi faktor pendukung. Kenaikan suku bunga yang dilakukan dalam beberapa tahap sejak Mei dinilai memberikan kepastian bahwa bank sentral siap bertindak ketika tekanan terhadap rupiah meningkat.
"Pasar selalu menghargai konsistensi kebijakan. Ketika bank sentral menunjukkan komitmen yang jelas, pelaku pasar akan lebih percaya terhadap arah stabilisasi yang sedang dibangun," ujar seorang analis pasar keuangan.
Faktor lain yang turut membantu datang dari meredanya tekanan harga energi dunia. Harga minyak mentah yang sebelumnya melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini bergerak lebih terkendali.
Minyak yang kembali berada di bawah level 80 dolar AS per barel membantu mengurangi risiko inflasi impor. Kondisi tersebut sekaligus memberikan ruang yang lebih nyaman bagi neraca perdagangan Indonesia.
Meski demikian, jalan rupiah menuju penguatan yang lebih kuat masih jauh dari kata mulus. Faktor eksternal tetap menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang dalam jangka pendek.
Sorotan terbesar masih tertuju kepada Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Meski dalam pertemuan terakhir The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen, pasar justru menangkap sinyal yang lebih agresif.
Proyeksi terbaru menunjukkan sembilan dari sembilan belas pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini. Sinyal tersebut membuat dolar AS kembali mendapatkan dukungan.
Akibatnya, indeks dolar AS tetap bertahan di atas level psikologis 100. Kondisi ini membuat arus modal global menjadi lebih selektif dalam memilih aset negara berkembang.
Ketika imbal hasil obligasi Amerika Serikat tetap tinggi, investor cenderung berhati-hati untuk menempatkan dana pada aset berisiko. Situasi inilah yang membuat penguatan rupiah masih berpotensi berlangsung secara bertahap.
Fixed Income and Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, menilai pekerjaan Bank Indonesia kemungkinan belum selesai. Menurutnya, ruang kenaikan suku bunga masih terbuka jika tekanan global kembali meningkat.
"Selisih suku bunga yang lebih lebar akan memberikan bantalan tambahan bagi stabilitas rupiah ketika volatilitas global kembali meningkat," ujar Lionel.
Ia memperkirakan BI Rate masih berpeluang naik hingga mencapai 6,25 persen apabila tekanan dari dolar AS terus berlanjut. Langkah tersebut dinilai perlu untuk memperkuat daya tarik aset rupiah.
Pandangan serupa juga muncul dari kalangan analis pasar lainnya. Mereka melihat penguatan rupiah yang terjadi saat ini masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan pelemahan yang telah terjadi sejak awal tahun.
Data menunjukkan bahwa sepanjang 2026 rupiah masih mencatat pelemahan sekitar 5,76 persen. Meski demikian, kinerja tersebut masih lebih baik dibanding won Korea Selatan yang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.
Ekonom PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, menilai arah kebijakan Bank Indonesia berikutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan global. Menurutnya, berbagai faktor eksternal masih memiliki peran besar terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia menyebut ketegangan geopolitik Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga sentimen investor global menjadi faktor yang harus terus dipantau. Selain itu, tinjauan MSCI dan evaluasi lembaga pemeringkat internasional juga akan memengaruhi persepsi pasar terhadap Indonesia.
"Investor saat ini tidak hanya melihat kondisi ekonomi domestik. Mereka juga mempertimbangkan berbagai risiko global sebelum mengambil keputusan investasi," kata Faisal.
Dalam skenario dasar yang disusun Bank Permata, BI Rate diperkirakan akan bertahan di level 5,75 persen hingga akhir tahun 2026 apabila tekanan eksternal mulai mereda pada semester kedua.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS pada akhir tahun. Sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor sepuluh tahun diperkirakan berada di kisaran 7,2 persen hingga 7,4 persen.
Dari sisi teknikal, perjalanan rupiah dalam waktu dekat masih dipenuhi tantangan. Sejumlah analis melihat area Rp17.740 per dolar AS menjadi batas penting yang perlu dijaga pasar.
Jika tekanan kembali meningkat, rupiah berpotensi bergerak menuju kisaran Rp17.850 per dolar AS. Namun apabila sentimen positif terus berlanjut, peluang penguatan ke level Rp17.700 bahkan Rp17.600 per dolar AS masih terbuka.
Saat ini pasar sedang berada dalam fase menunggu. Investor mengamati apakah langkah agresif Bank Indonesia cukup kuat untuk menjaga momentum penguatan atau justru perlu didukung kebijakan tambahan dalam beberapa bulan mendatang.
Yang pasti, setelah sekian lama bergerak dalam tekanan, rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Meski jalannya masih panjang dan penuh tantangan, setidaknya pasar kini memiliki alasan baru untuk kembali optimistis terhadap masa depan mata uang Garuda. R-02

