Harga Minyak Dunia Anjlok, BBM Non-Subsidi Berpeluang Turun
Harga minyak dunia merosot tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perdamaian. Foto : Istimewa
JAKARTA, SabangMerauke News – Harga minyak dunia merosot tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perdamaian. Kesepakatan tersebut mendorong rencana pembukaan kembali Selat Hormuz untuk perdagangan energi. Kondisi itu meningkatkan optimisme pasar terhadap keamanan pasokan minyak global.
Selat Hormuz merupakan jalur penting distribusi energi menuju berbagai negara dunia. Pembukaan jalur tersebut diperkirakan mengurangi risiko gangguan pasokan dalam waktu dekat. Pelaku pasar merespons perkembangan itu dengan aksi jual pada perdagangan minyak.
Pada perdagangan Selasa, harga minyak mentah mencatat penurunan signifikan. Minyak mentah Brent turun 5,1 persen menjadi US$78,96 per barel. Sementara minyak mentah WTI Amerika Serikat merosot 5,8 persen menjadi US$76,05.
Level penutupan tersebut menjadi titik terendah dalam tiga bulan terakhir. Brent mencatat posisi terendah sejak awal Maret tahun ini. WTI juga menyentuh level terendah sejak perdagangan awal Maret.
Sebelum konflik Amerika Serikat dan Iran pecah, harga minyak lebih rendah. Brent sempat ditutup pada level US$72,48 per barel sebelumnya. WTI berada pada posisi US$67,02 per barel sebelum ketegangan meningkat.
Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, menilai pasar merespons perkembangan geopolitik. Investor memperkirakan arus distribusi energi segera kembali berjalan normal. “Harga minyak mentah turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz segera dibuka,” katanya.
Penurunan harga minyak dunia juga berpotensi memengaruhi harga BBM non-subsidi domestik. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menilai penyesuaian sangat mungkin terjadi. Mekanisme harga BBM non-subsidi mengikuti perkembangan harga minyak di pasar global.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan seluruh produk non-subsidi mengikuti harga keekonomian. Ketentuan tersebut berlaku bagi produk milik Pertamina maupun badan usaha swasta. “Ketika harga minyak dunia turun, harga BBM non-subsidi juga akan turun,” ujarnya.
Menurut Anggia, skema tersebut sudah diatur dalam regulasi pemerintah. Penyesuaian dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pengadaan energi nasional secara berkelanjutan. Harga tidak dapat dipisahkan dari pergerakan minyak mentah dunia.
Kenaikan harga minyak global juga akan berdampak pada harga BBM domestik. Sebaliknya, tren penurunan harga minyak membuka ruang koreksi harga jual. “Kalau harga minyak dunia turun, pasti ada penyesuaian penurunan BBM non-subsidi,” tegas Anggia.
Perdamaian Amerika Serikat dan Iran kini menjadi perhatian pasar energi global. Pembukaan Selat Hormuz dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan minyak internasional. Jika tren berlanjut, harga BBM non-subsidi berpeluang mengalami penyesuaian dalam waktu mendatang.(R-03)

